RADAR BANYUWANGI - Banyak orang menganggap semua kucing bermata dua warna atau odd-eye pasti mengalami ketulian. Anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Secara ilmiah, hanya kucing dengan karakter genetik tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pendengaran.
Keunikan warna mata yang berbeda memang membuat kucing odd-eye menjadi salah satu jenis anabul yang paling banyak menarik perhatian pecinta hewan. Selain terlihat eksotis, kucing ini juga kerap dianggap langka sehingga memiliki nilai tersendiri di mata para penghobi.
Namun, di balik tampilannya yang mencuri perhatian, masih banyak mitos yang beredar mengenai kondisi kesehatannya. Salah satu yang paling sering dipercaya ialah seluruh kucing odd-eye pasti tuli. Padahal, fakta ilmiah menunjukkan kondisi tersebut tidak berlaku pada semua kucing.
Mengutip Hello Sehat, perbedaan warna mata pada kucing dikenal sebagai heterochromia, yaitu kondisi genetik yang memengaruhi distribusi pigmen melanin pada iris mata.
Melanin merupakan pigmen yang menentukan warna mata, bulu, dan kulit. Ketika distribusi melanin pada kedua mata tidak sama, salah satu mata dapat berwarna kuning, hijau, atau cokelat, sedangkan mata lainnya tetap berwarna biru karena memiliki kadar melanin yang lebih sedikit.
Heterochromia bukan penyakit dan umumnya tidak memengaruhi kemampuan penglihatan kucing. Kondisi ini lebih merupakan variasi genetik alami yang membuat penampilan kucing terlihat berbeda dibandingkan kucing pada umumnya.
Keunikan tersebut menjadi alasan tersendiri bagi banyak orang untuk memelihara kucing odd-eye.
"Aku dari dulu emang suka banget sama kucing yang punya beda warna mata karena kelihatan unik aja gitu. Pas baru denger info kalau mereka berisiko tuli jujur kaget banget, tapi bersyukur banget kucingku ternyata nggak tuli dan cuma beda warna mata aja," ujar Puteri, salah seorang pecinta kucing.
Dikutip dari Halodoc, risiko ketulian memang lebih tinggi pada kucing berbulu putih yang memiliki satu atau dua mata berwarna biru. Penyebabnya bukan karena warna mata itu sendiri, melainkan faktor genetik.
Gen dominan pembawa bulu putih (gene W) dapat menekan perkembangan sel pigmen atau melanosit. Padahal, melanosit tidak hanya berfungsi memberi warna pada bulu dan mata, tetapi juga berperan penting dalam pembentukan stria vascularis, jaringan pembuluh darah kecil di telinga bagian dalam yang diperlukan agar organ pendengaran berfungsi normal.
Ketika perkembangan jaringan tersebut terganggu, kemampuan mendengar kucing juga dapat menurun bahkan hilang.
Artinya, penyebab utama ketulian bukanlah mata yang berbeda warna, melainkan gen pembawa bulu putih yang ikut memengaruhi perkembangan telinga bagian dalam.
Tidak semua kucing memiliki peluang yang sama mengalami gangguan pendengaran. Berdasarkan berbagai referensi medis veteriner, berikut gambaran risikonya.
1. Kucing putih dengan mata odd-eye
Kelompok ini memiliki risiko sekitar 30–40 persen mengalami ketulian. Umumnya gangguan hanya terjadi pada satu telinga (unilateral deafness), yaitu telinga yang berada di sisi mata berwarna biru.
2. Kucing putih dengan dua mata biru
Kelompok ini memiliki risiko paling tinggi, yakni sekitar 60–80 persen mengalami ketulian pada kedua telinga.
3. Kucing odd-eye nonputih
Kucing dengan warna bulu selain putih hampir tidak pernah mengalami ketulian genetik tersebut karena tidak membawa mekanisme gen yang menghambat pembentukan sel pigmen pada telinga.
Dengan kata lain, kucing bermata dua warna tidak otomatis tuli, terutama jika warna bulunya bukan putih bersih.
Tidak semua gangguan pendengaran dapat dikenali hanya dari perilaku sehari-hari. Namun, pemilik dapat mencurigainya apabila kucing tidak merespons suara keras, tidak menoleh saat dipanggil, atau tidur sangat lelap meski terdapat suara bising di sekitarnya.
Untuk memastikan diagnosis, dokter hewan dapat melakukan pemeriksaan Brainstem Auditory Evoked Response (BAER), yaitu metode yang digunakan untuk mengukur respons saraf pendengaran terhadap rangsangan suara. Pemeriksaan ini menjadi standar dalam mendeteksi ketulian bawaan pada kucing maupun anjing.
Apabila kucing terbukti mengalami gangguan pendengaran, pemilik tetap dapat memberikan kualitas hidup yang baik.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menggunakan isyarat tangan atau gerakan visual saat berkomunikasi, menghindari mengejutkan kucing dari belakang, serta memeliharanya di dalam rumah (indoor) agar terhindar dari risiko kendaraan, predator, maupun bahaya lain yang tidak dapat didengarnya.
Meski mengalami tuli sebelah, sebagian besar kucing tetap mampu beradaptasi dengan baik. Telinga yang masih berfungsi akan bekerja lebih optimal sehingga mereka tetap aktif bermain, berburu mainan, hingga berinteraksi dengan pemiliknya.
Keunikan mata berbeda warna memang membuat kucing odd-eye tampak lebih istimewa. Namun, kondisi tersebut bukan penentu bahwa seekor kucing pasti mengalami ketulian.
Memahami faktor genetik jauh lebih penting daripada mempercayai mitos yang beredar. Jika pemilik menemukan tanda gangguan pendengaran, pemeriksaan ke dokter hewan menjadi langkah terbaik untuk memastikan kondisinya.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Hello sehat, Halodoc