RADAR BANYUWANGI - Misteri mengenai asal-usul wabah yang menghancurkan populasi penduduk asli Amerika akhirnya semakin terang. Sebuah studi multidisiplin terbaru berhasil mengungkap bukti genomik pertama yang menunjukkan bahwa virus variola, penyebab penyakit cacar (smallpox), dibawa oleh penjelajah dan penjajah Eropa ke Benua Amerika pada abad ke-16. Temuan ini diperoleh melalui analisis DNA purba terhadap mumi Kekaisaran Inca.
Selama berabad-abad, dugaan bahwa penyakit mematikan tersebut menyebar bersamaan dengan ekspedisi bangsa Eropa hanya didasarkan pada catatan sejarah. Kini, ilmuwan berhasil menghadirkan bukti molekuler yang memperlihatkan hubungan langsung antara virus yang menyerang masyarakat Amerika Latin dengan galur variola yang beredar di Eropa pada masa itu.
Penelitian dilakukan dengan menganalisis ancient DNA atau DNA purba yang masih tersimpan pada jaringan mumi Kekaisaran Inca. Pendekatan ini memungkinkan para ilmuwan melacak jejak evolusi patogen yang telah menginfeksi manusia ratusan tahun silam.
Hasil analisis menunjukkan bahwa virus variola yang memicu epidemi di Amerika Latin memiliki garis keturunan yang berasal langsung dari lineages variola Eropa abad ke-16. Penemuan tersebut menjadi bukti molekuler pertama yang mengonfirmasi jalur penyebaran penyakit melalui kontak lintas samudra pada era kolonisasi.
Temuan tersebut dipaparkan Prof. Hendrik Poinar, pakar genetika molekuler sekaligus Direktur McMaster Ancient DNA Centre, McMaster University, Kanada, saat menjadi pembicara utama dalam Evolutionary Medicine Conference pada 22 Mei 2026.
"Data DNA purba membuktikan secara tidak terbantahkan bahwa galur virus variola yang memicu epidemi di Amerika Latin berakar langsung dari lineages variola Eropa pada abad ke-16. Ini adalah bukti molekuler kunci bahwa patogen tersebut dibawa lewat kontak lintas samudra dan memicu kehancuran demografis yang masif pada masyarakat adat yang tidak memiliki kekebalan alami," ujar Prof. Hendrik Poinar.
Selama ini para sejarawan meyakini penyakit menular menjadi salah satu faktor yang mempercepat keruntuhan Kekaisaran Inca. Epidemi diyakini menyebar lebih cepat dibandingkan kedatangan pasukan kolonial sehingga melemahkan struktur pemerintahan, mengurangi jumlah penduduk, serta mempercepat perubahan politik dan sosial di kawasan tersebut.
Meski demikian, bukti yang tersedia sebelumnya sebagian besar berasal dari dokumen sejarah dan catatan para penjelajah. Penelitian terbaru ini menghadirkan bukti biologis yang secara langsung menghubungkan virus pada mumi Inca dengan galur variola dari Eropa.
Para peneliti menilai analisis DNA purba membuka babak baru dalam kajian sejarah penyakit menular. Untuk pertama kalinya, ilmuwan tidak hanya merekonstruksi sejarah berdasarkan arsip tertulis, tetapi juga memanfaatkan materi genetik yang masih tersimpan selama ratusan tahun untuk menelusuri perjalanan sebuah patogen.
Pendekatan tersebut memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai bagaimana perpindahan manusia antarbenua pada era kolonisasi turut menjadi jalur penyebaran penyakit dalam skala global.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa dampak kolonisasi tidak hanya mengubah peta politik, ekonomi, dan sosial di Benua Amerika, tetapi juga membawa konsekuensi biologis yang sangat besar. Masuknya penyakit menular yang belum pernah dikenal oleh masyarakat adat menyebabkan epidemi dahsyat dan menjadi salah satu bencana kesehatan populasi terbesar dalam sejarah peradaban manusia.
Editor : Lugas Rumpakaadi