Selama Lebih dari 100 Tahun Ilmuwan Gagal Membaca Voynich Manuscript, Buku Kuno Ini Masih Menyimpan Misteri

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 12:03 WIB
Ilmuwan dunia gagal mengungkap isi Voynich Manuscript. (Pexels/Donatello Trisolino)
Ilmuwan dunia gagal mengungkap isi Voynich Manuscript. (Pexels/Donatello Trisolino)

RADAR BANYUWANGI - Selama lebih dari satu abad, para ilmuwan, ahli bahasa, kriptografer, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI) modern telah berupaya mengungkap isi sebuah buku kuno yang diperkirakan berusia lebih dari 600 tahun. Namun hingga kini, seluruh upaya tersebut belum membuahkan hasil. Naskah itu adalah Voynich Manuscript, salah satu manuskrip paling misterius dalam sejarah peradaban manusia.

Buku kuno ini bukan hanya dipenuhi tulisan dengan aksara yang belum pernah dikenali, tetapi juga memuat ratusan ilustrasi tanaman aneh, peta astronomi yang tidak lazim, serta gambar manusia dalam adegan yang belum dapat dijelaskan secara pasti. Kombinasi tersebut membuat Voynich Manuscript terus menjadi objek penelitian berbagai disiplin ilmu hingga sekarang.

Voynich Manuscript diperkirakan dibuat pada awal abad ke-15. Manuskrip tersebut kembali dikenal publik setelah ditemukan pada 1912 oleh pedagang buku langka Wilfrid Voynich.

Selama bertahun-tahun muncul dugaan bahwa buku tersebut hanyalah hasil pemalsuan modern. Namun, penelitian ilmiah membantah anggapan tersebut.

Hasil penanggalan karbon-14 terhadap bahan vellum atau kulit binatang yang digunakan sebagai media penulisan menunjukkan manuskrip berasal dari rentang tahun 1404 hingga 1438 Masehi. Temuan tersebut memperkuat kesimpulan bahwa naskah memang berasal dari Abad Pertengahan.

Dokumen ini kini disimpan di Yale University Beinecke Rare Book & Manuscript Library dan menjadi salah satu koleksi manuskrip paling banyak diteliti di dunia.

Kesulitan terbesar terletak pada sistem tulisan yang digunakan.

Seluruh isi manuskrip ditulis menggunakan aksara yang dikenal sebagai Voynichese, yaitu sistem penulisan yang hingga kini belum dapat dihubungkan dengan bahasa mana pun yang pernah dikenal.

Berbagai pihak telah mencoba memecahkan misterinya, mulai dari kriptografer yang pernah menangani sandi pada masa Perang Dunia hingga para peneliti linguistik komputasional yang memanfaatkan kecerdasan buatan dan pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing). Meski teknologi terus berkembang, belum ada hasil yang diterima secara luas sebagai terjemahan yang sahih.

Hal yang membuat para peneliti semakin penasaran adalah penyusunan isi manuskrip yang terlihat sangat teratur.

Bagian herbal menampilkan ratusan ilustrasi tumbuhan yang sebagian besar tidak cocok dengan spesies flora mana pun yang telah diidentifikasi.

Sementara itu, bagian astronomi memuat gambar rasi bintang, diagram langit, dan simbol zodiak dengan bentuk yang berbeda dari tradisi astronomi Eropa pada masa itu.

Ada pula bagian yang menyerupai pembahasan farmasi dan resep, lengkap dengan gambar tabung, wadah, serta ramuan yang mengingatkan pada praktik alkimia kuno.

Konsistensi penyusunan tersebut menunjukkan bahwa manuskrip kemungkinan memiliki struktur pengetahuan tertentu, bukan sekadar kumpulan gambar dan tulisan tanpa makna.

Kajian linguistik memberikan petunjuk yang menarik.

Frekuensi kemunculan kata dalam Voynichese ternyata mengikuti pola statistik yang dikenal sebagai Zipf's Law, yaitu karakteristik yang umum ditemukan pada bahasa alami.

Temuan ini membuat banyak peneliti berpendapat bahwa tulisan tersebut kemungkinan memiliki tata bahasa yang konsisten sehingga kecil kemungkinan hanya berupa rangkaian simbol acak.

Hingga kini belum ada kesepakatan mengenai isi sebenarnya dari manuskrip tersebut.

Beberapa teori yang paling banyak dibahas antara lain:

Belum ada satu pun teori yang mampu menjelaskan seluruh isi manuskrip secara menyeluruh.

Perkembangan kecerdasan buatan membuka harapan baru dalam penelitian berbagai manuskrip kuno. Sejumlah peneliti telah memanfaatkan algoritma pembelajaran mesin dan analisis bahasa untuk mempelajari pola tulisan Voynich Manuscript.

Meski demikian, hingga kini belum ada hasil yang memperoleh pengakuan luas dari komunitas ilmiah sebagai terjemahan yang valid. Fakta tersebut menunjukkan bahwa manuskrip ini masih menjadi tantangan besar, bahkan di era teknologi modern.

Voynich Manuscript bukan hanya menyimpan misteri mengenai isi sebuah buku kuno. Keberadaannya juga menjadi tantangan bagi ilmu sejarah, linguistik, kriptografi, hingga kecerdasan buatan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa manuskrip tersebut berada di persimpangan antara kemungkinan sebuah bahasa yang hilang, sistem enkripsi yang sangat maju pada zamannya, atau kumpulan pengetahuan yang sengaja disamarkan.

Enam abad setelah diperkirakan ditulis, tidak ada teknologi yang benar-benar mampu membuka seluruh rahasianya. Selama kunci untuk memahami aksara Voynichese belum ditemukan, Voynich Manuscript akan tetap menjadi salah satu teka-teki terbesar dalam sejarah literatur dunia sekaligus pengingat bahwa masih ada bagian dari masa lalu yang belum mampu dijelaskan oleh ilmu pengetahuan modern.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Voynich Manuscript