Delegasi 12 Negara Belajar Justice di Banyuwangi, Ini Konsep yang Dipaparkan Bupati Ipuk

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Rektor UI Cordoba Prof Agus Trihartono, Dr Imam Nahe
Rektor UI Cordoba Prof Agus Trihartono, Dr Imam Nahe'i, Direktur Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi, dan Ketua Lakpesdam Purnomo turut hadir dalam diskusi internasional. (Syaifuddin M/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Banyuwangi kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai daerah yang aktif dalam diplomasi akademik internasional. Sebanyak akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi hukum, hingga pegiat hak asasi manusia (HAM) dari 12 negara berkumpul di Pendapa Sabha Swagata, Rabu (5/8), dalam International Course "Access to Justice in Southeast Asia 2026".

Forum bertema "Building Bridges Through Justice, Dialogue, and Humanity" itu menjadi ruang diskusi lintas negara mengenai akses terhadap keadilan, hak asasi manusia, hukum Islam, multikulturalisme, dan pembangunan masyarakat inklusif di Asia Tenggara.

Momentum tersebut dimanfaatkan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani untuk memperkenalkan konsep keadilan yang diterapkan di Banyuwangi. Menurutnya, keadilan tidak hanya diwujudkan melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui layanan publik yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Hadirkan Delegasi dari 12 Negara

International Course diselenggarakan oleh Universitas Islam Cordoba Banyuwangi bekerja sama dengan The Centre for Human Rights, Multiculturalism and Migration (CHRM2) Universitas Jember, Fakultas Hukum Universitas Jember, serta didukung Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Sebanyak 12 negara berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, yakni Indonesia, Amerika Serikat, Filipina, Pakistan, India, Prancis, Jepang, Vietnam, Australia, Malaysia, Korea Selatan, dan Kanada.

Lebih dari 150 peserta mengikuti pembukaan kegiatan yang terdiri atas delegasi internasional, dosen, mahasiswa, tokoh agama, praktisi hukum, media, serta pimpinan berbagai perguruan tinggi.

Bupati Ipuk Fiestiandani, mantan Menpan-RB Abdullah Azwar Anas, Rektor UI Cordoba Prof Agus Trihartono, Direktur CHRM2 Universitas Jember Prof Dr Khanif Al Rifaie, dan Dr Imam Nahe
Bupati Ipuk Fiestiandani, mantan Menpan-RB Abdullah Azwar Anas, Rektor UI Cordoba Prof Agus Trihartono, Direktur CHRM2 Universitas Jember Prof Dr Khanif Al Rifaie, dan Dr Imam Nahe'i foto bareng dengan peserta International Course "Access to Justice in Southeast Asia 2026 di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Rabu (5/8). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Hadir pula mantan Menteri PANRB Abdullah Azwar Anas, jajaran Forkopimda, pimpinan pondok pesantren, Lakpesdam PCNU Banyuwangi, hingga pimpinan perguruan tinggi dari berbagai daerah.

Ipuk: Justice Bukan Sekadar Persidangan

Di hadapan peserta internasional, Bupati Ipuk menjelaskan bahwa konsep justice di Banyuwangi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar proses hukum.

Menurutnya, pemerintah daerah berupaya memastikan seluruh warga memperoleh hak yang sama melalui layanan pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan publik, termasuk bagi masyarakat di wilayah terpencil.

"Kami menjelaskan bahwa konsep justice di Banyuwangi sangat luas. Bukan hanya soal hukum dan persidangan, tetapi bagaimana masyarakat mendapatkan hak yang sama melalui layanan pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan publik yang menjangkau wilayah terpencil," ujar Ipuk.

Inovasi Banyuwangi Jadi Contoh Keadilan Sosial

Dalam paparannya, Ipuk juga memperkenalkan sejumlah program unggulan Banyuwangi yang dinilai mencerminkan implementasi keadilan sosial.

Di antaranya Rantang Kasih yang menyasar lansia dan masyarakat rentan, Siswa Asuh Sebaya untuk membantu anak dari keluarga kurang mampu tetap mengenyam pendidikan, hingga berbagai layanan jemput bola yang memudahkan masyarakat desa mengakses pelayanan pemerintah.

Program-program tersebut menjadi contoh bahwa keadilan dapat diwujudkan melalui kebijakan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

Islam Moderat dan Budaya Lokal Jadi Identitas Banyuwangi

Selain layanan publik, Ipuk juga memperkenalkan karakter Banyuwangi sebagai daerah dengan tradisi pesantren yang kuat.

Menurutnya, pesantren di Banyuwangi tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga berperan membangun nilai kemanusiaan, toleransi, dan kehidupan sosial yang harmonis.

"Kami ingin menunjukkan kepada para peserta bahwa konsep Justice of Islam di Asia Tenggara, khususnya Banyuwangi, memiliki karakter yang khas. Islam di sini tumbuh bersama budaya lokal yang menjunjung tinggi keadilan, toleransi, dan kebersamaan," katanya.

UI Cordoba Perkuat Internasionalisasi Kampus

Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, Prof. Agus Trihartono, mengatakan penyelenggaraan International Course menjadi bagian dari strategi internasionalisasi kampus.

Melalui forum tersebut, kampus ingin mempertemukan berbagai perspektif mengenai keadilan, kemanusiaan, dan Islam moderat yang dapat melahirkan kolaborasi akademik lintas negara.

"Melalui kegiatan ini kami ingin mempertemukan berbagai perspektif tentang keadilan dan kemanusiaan sehingga lahir kolaborasi yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat internasional," ujarnya.

Ke depan, kolaborasi tersebut diharapkan berkembang menjadi kerja sama riset, publikasi ilmiah, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga rekomendasi kebijakan terkait akses terhadap keadilan di Asia Tenggara.

Peserta Diajak Belajar Langsung Kehidupan Masyarakat Banyuwangi

Tak hanya mengikuti perkuliahan internasional, peserta juga menjalani program Experiential Learning dengan mengunjungi berbagai destinasi dan kehidupan masyarakat Banyuwangi.

Direktur CHRM2 Universitas Jember, Prof. Dr. Khanif Al Rifaie, mengungkapkan sebanyak 26 peserta internasional telah mengunjungi Kawah Ijen dan sejumlah destinasi unggulan lainnya.

Menurutnya, para peserta terkesan dengan keindahan alam Banyuwangi, keramahan masyarakat, serta praktik kehidupan yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman.

"Mereka menyampaikan bahwa Banyuwangi merupakan daerah yang indah, masyarakatnya ramah, budayanya kaya, dan memiliki potensi luar biasa untuk menjadi tujuan pembelajaran internasional," ujarnya.

Keadilan Islam Harus Hadir dalam Seluruh Aspek Kehidupan

Dalam sesi akademik, Dr. Imam Nahe'i dari Pondok Pesantren Sukorejo Situbondo memaparkan konsep keadilan menurut pemikiran Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

Ia menjelaskan bahwa syariat Islam dibangun di atas empat prinsip utama, yakni keadilan, kasih sayang, kemaslahatan, dan kebijaksanaan.

Karena itu, menurutnya, keadilan tidak boleh dipahami hanya sebagai penegakan hukum, tetapi harus hadir dalam pemerintahan, pendidikan, pelayanan publik, kehidupan sosial, hingga hubungan antarbangsa.

Forum internasional ini diharapkan semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai pusat dialog akademik sekaligus laboratorium praktik toleransi, pelayanan publik, dan pembangunan masyarakat inklusif di Asia Tenggara. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
International Course Akses keadilan UI Cordoba Ipuk Fiestiandani banyuwangi