RADAR BANYUWANGI - Di tengah derasnya arus komunikasi global, dunia menghadapi ancaman yang kerap luput dari perhatian, yakni hilangnya bahasa ibu atau lost tongues. Fenomena ini terjadi ketika jumlah penutur asli suatu bahasa terus menyusut hingga akhirnya penutur terakhir meninggal dunia. Akibatnya, bahasa tersebut tidak lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan perlahan lenyap dari peradaban.
Kepunahan bahasa bukan hanya berarti hilangnya kosakata maupun tata bahasa. Lebih dari itu, kondisi tersebut turut menghapus pengetahuan lokal, tradisi lisan, nilai budaya, hingga cara pandang masyarakat dalam memahami lingkungan dan kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Berdasarkan dokumentasi kebahasaan UNESCO World Atlas of Languages, saat ini terdapat sekitar 7.000 bahasa di seluruh dunia. Namun, hampir 45 persen di antaranya berada dalam kategori terancam punah. Laju kepunahannya pun tergolong mengkhawatirkan dengan perkiraan satu bahasa menghilang setiap dua pekan.
Fenomena tersebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pergeseran penggunaan bahasa antargenerasi (language shift), dominasi bahasa nasional maupun internasional, hingga semakin minimnya pewarisan bahasa ibu di lingkungan keluarga.
Dampak nyata dari kondisi ini telah terjadi di berbagai negara. Salah satunya adalah bahasa Eyak di Alaska yang dinyatakan punah setelah penutur terakhirnya meninggal dunia pada 2008. Sementara itu, sejumlah bahasa daerah di wilayah kepulauan Indonesia maupun kawasan Amazon juga kini berada dalam status kritis karena semakin sedikit generasi muda yang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap hilangnya identitas budaya masyarakat. Sebab, setiap bahasa menyimpan kekayaan pengetahuan yang tidak selalu terdokumentasi dalam bentuk tulisan, melainkan diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Kajian kebahasaan Ethnologue: Languages of the World menunjukkan bahwa kepunahan sebuah bahasa juga berarti terputusnya rantai pengetahuan ekologis, cerita rakyat, sejarah lisan, hingga berbagai istilah lokal yang berkembang selama ratusan tahun. Hilangnya bahasa membuat berbagai informasi tersebut berpotensi ikut lenyap tanpa sempat didokumentasikan.
Karena itu, berbagai upaya pelestarian terus didorong, mulai dari revitalisasi penggunaan bahasa daerah, pendokumentasian secara digital, hingga menumbuhkan kebanggaan masyarakat untuk tetap menggunakan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari. Langkah tersebut dinilai menjadi benteng penting agar keberagaman bahasa dunia tetap terjaga dan tidak perlahan menghilang ditelan perkembangan zaman.
Editor : Lugas Rumpakaadi