RADAR BANYUWANGI – Pendopo Sabha Swagata Blambangan bakal menjadi ruang perjumpaan akademisi dan pemerhati hukum dari berbagai penjuru dunia. Sebanyak 12 negara akan terlibat dalam International Course & Experiential Learning: Islamic Justice bertajuk “Access to Justice in Southeast Asia 2026” yang digelar Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, Rabu (5/8).
Forum internasional tersebut tidak sekadar menjadi ruang pertukaran gagasan akademik. Para peserta akan membedah persoalan akses terhadap keadilan, hak asasi manusia (HAM), hukum Islam, multikulturalisme, hingga perdamaian di kawasan Asia Tenggara.
Kegiatan ini diselenggarakan Universitas Islam Cordoba Banyuwangi bekerja sama dengan The Centre for Human Rights, Multiculturalism and Migration (CHRM2) Universitas Jember, Fakultas Hukum Universitas Jember, serta Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Mengusung tema “Building Bridges Through Justice, Dialogue, and Humanity”, forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi hukum, dan pemerhati HAM dari berbagai negara.
Delegasi internasional yang hadir berasal dari sejumlah perguruan tinggi dan lembaga di Asia, Eropa, Amerika Utara, hingga Australia. Keragaman latar belakang peserta diharapkan menciptakan ruang dialog yang produktif sekaligus membuka peluang kerja sama baru di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Acara pembukaan dijadwalkan berlangsung di Pendopo Sabha Swagata Blambangan. Sejumlah tamu kehormatan dari unsur pemerintah, pimpinan perguruan tinggi, akademisi, tokoh masyarakat, hingga mitra internasional akan hadir dalam forum tersebut.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dijadwalkan menjadi keynote speaker. Dia akan menyampaikan pandangan mengenai pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas global dalam membangun sistem hukum yang berkeadilan, inklusif, serta berorientasi pada kemanusiaan.
Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi Prof. Agus Trihartono, SSos, MA, Ph.D mengatakan, penyelenggaraan international course tersebut menjadi bagian dari visi kampus untuk memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi.
Menurut dia, Universitas Islam Cordoba Banyuwangi tidak ingin hanya berperan di tingkat lokal. Kampus tersebut juga ingin mengambil bagian dalam percakapan akademik global, terutama terkait isu keadilan, kemanusiaan, dan nilai-nilai Islam moderat.
“Universitas Islam Cordoba Banyuwangi tidak hanya ingin menjadi perguruan tinggi yang unggul di tingkat lokal, tetapi juga aktif berkontribusi dalam percakapan akademik internasional. Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif tentang keadilan, kemanusiaan, dan nilai-nilai Islam yang moderat sehingga mampu melahirkan kolaborasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dunia,” ujarnya.
Menariknya, agenda tersebut tidak berhenti pada sesi kuliah internasional. Peserta juga akan mengikuti Experiential Learning, yakni pembelajaran berbasis pengalaman yang memungkinkan delegasi internasional melihat secara langsung kehidupan sosial masyarakat Banyuwangi.
Melalui pendekatan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep keadilan dari sisi teori. Mereka juga dapat menyaksikan praktik keberagaman, toleransi, dan kehidupan masyarakat yang harmonis sebagai bagian dari kekayaan sosial dan budaya Indonesia.
Sebagai mitra akademik, CHRM2 Universitas Jember dan Fakultas Hukum Universitas Jember turut menghadirkan akademisi serta peneliti dengan kepakaran di berbagai bidang. Mulai HAM, hukum internasional, hukum Islam, multikulturalisme, migrasi, hingga pembangunan hukum yang berkeadilan.
Kolaborasi lintas institusi tersebut diharapkan menghasilkan sejumlah luaran strategis. Di antaranya penguatan jejaring akademik internasional, riset kolaboratif, publikasi ilmiah bereputasi, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta rekomendasi kebijakan untuk memperkuat akses terhadap keadilan di kawasan Asia Tenggara.
Bagi Pemkab Banyuwangi, kegiatan internasional tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan daerah berjuluk Bumi Blambangan sebagai wilayah yang terbuka terhadap kolaborasi global.
Dukungan pemerintah daerah menunjukkan adanya sinergi antara dunia pendidikan dan pemerintahan dalam membangun ekosistem yang mendorong inovasi, diplomasi akademik, sekaligus promosi potensi daerah di panggung internasional.
Dengan mempertemukan delegasi dari 12 negara, International Course & Experiential Learning: Islamic Justice diharapkan tidak berhenti sebagai forum bertukar gagasan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi jembatan untuk memperkuat komitmen bersama dalam memperluas akses keadilan, membangun dialog konstruktif, serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dinamika global. (aif)
Editor : Ali Sodiqin