RADAR BANYUWANGI - Industri makanan hewan peliharaan terus mengalami pertumbuhan seiring meningkatnya kesadaran pemilik hewan terhadap pentingnya asupan gizi yang seimbang. Di balik butiran kibble yang dikonsumsi anjing setiap hari, terdapat rangkaian proses produksi modern yang dirancang secara presisi untuk menghasilkan pakan bernutrisi dengan kualitas yang konsisten.
Setiap tahapan pengolahan disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi anjing yang berbeda dibandingkan hewan lainnya. Karena itu, proses manufaktur tidak hanya berfokus pada kandungan gizi, tetapi juga memperhatikan tekstur, aroma, hingga cita rasa agar lebih disukai hewan peliharaan.
Dalam tayangan dokumenter kanal YouTube How It's Made yang diunggah pada 30 Maret 2025, dijelaskan bahwa produksi dimulai dari pemilihan bahan baku utama berupa sumber protein hewani seperti daging ayam, sapi, atau domba. Bahan tersebut dipadukan dengan serealia seperti gandum, beras, jagung, dan barley.
Seluruh bahan kemudian digiling hingga menjadi partikel halus. Setelah itu, setiap komposisi ditimbang sesuai formulasi sebelum dicampurkan ke dalam mesin pengaduk industri hingga membentuk adonan bubuk yang homogen.
Tahapan berikutnya adalah proses ekstrusi atau extruding, yang menjadi inti dalam pembentukan kibble. Pada proses ini, adonan dimasak menggunakan uap panas sebelum didorong melalui cetakan bertekanan tinggi sehingga menghasilkan butiran makanan dengan ukuran yang seragam.
Menurut narator dalam dokumenter tersebut, mesin ekstruder tidak hanya membentuk ukuran kibble, tetapi juga memasak adonan sehingga lebih mudah dicerna dan memiliki struktur yang sesuai untuk makanan kering.
Setelah keluar dari mesin ekstruder, kibble memasuki tahap pengeringan menggunakan aliran udara panas selama sekitar 25 menit pada suhu mencapai 149 derajat Celsius. Proses ini bertujuan mengurangi kadar air sehingga produk memiliki daya simpan yang lebih lama.
Tahap akhir dilakukan melalui pelapisan lemak dan penambah rasa pada permukaan kibble. Lemak berfungsi sebagai sumber energi esensial bagi anjing, sedangkan penambah rasa meningkatkan aroma dan cita rasa sehingga makanan lebih menarik untuk dikonsumsi.
Dokumenter tersebut juga menjelaskan bahwa formulasi makanan anjing tidak hanya didasarkan pada kajian nutrisi, tetapi juga mempertimbangkan preferensi makan hewan. Sejumlah pakar makanan hewan menyebut anjing umumnya lebih menyukai pakan dengan kandungan lemak yang lebih tinggi serta kombinasi daging dan serealia dibandingkan serealia saja. Selain itu, anjing diketahui memiliki ketertarikan terhadap rasa manis.
Perkembangan teknologi pengolahan tersebut menjadi bagian dari evolusi panjang industri makanan hewan. Formula makanan anjing kering modern berawal dari inovasi James Spratt pada 1860 yang kemudian terus berkembang melalui berbagai penyempurnaan teknologi hingga menjadi standar produksi pakan hewan di berbagai negara.
Kini, penerapan teknologi manufaktur memungkinkan industri menghasilkan kibble dengan kandungan nutrisi yang lebih terukur, kualitas yang konsisten, serta daya simpan yang lebih panjang, sehingga mampu memenuhi kebutuhan gizi hewan peliharaan sekaligus menjaga keamanan produk selama proses distribusi.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : YouTube How It's Made