Berburu Milky Way Perlu Strategi, Kenali Fakta Galaksi Bima Sakti yang Menjadi Rumah Bumi

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 14:34 WIB
Milky Way atau Galaksi Bima Sakti menjadi fenomena langit yang memikat pemburu astronomi dan fotografi. (Pexels/Laython Photos)
Milky Way atau Galaksi Bima Sakti menjadi fenomena langit yang memikat pemburu astronomi dan fotografi. (Pexels/Laython Photos)

RADAR BANYUWANGI - Hamparan cahaya putih yang membentang di langit malam atau dikenal sebagai Milky Way selalu menjadi daya tarik bagi pencinta astronomi maupun fotografi. Fenomena yang dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai Galaksi Bima Sakti tersebut bukan sekadar panorama langit yang memukau, tetapi juga merupakan galaksi tempat Tata Surya, termasuk Bumi, berada.

Milky Way merupakan galaksi berbentuk spiral yang diperkirakan dihuni sekitar 100 hingga 400 miliar bintang. Di dalamnya terdapat planet, awan gas, debu kosmik, serta materi lain yang terus bergerak mengelilingi pusat galaksi karena pengaruh gaya gravitasi.

Posisi Tata Surya berada di salah satu lengan spiral yang dikenal sebagai Lengan Orion, sekitar 27 ribu tahun cahaya dari pusat galaksi. Karena manusia berada di dalam piringan galaksi, kumpulan miliaran bintang tersebut tampak sebagai pita cahaya putih yang membentang di langit ketika kondisi malam cukup gelap dan bebas dari polusi cahaya.

Nama Milky Way berasal dari kisah dalam mitologi Yunani Kuno yang menggambarkan jalur cahaya tersebut sebagai tumpahan susu di langit. Sementara itu, masyarakat Jawa mengenalnya dengan sebutan Bima Sakti yang dikaitkan dengan tokoh pewayangan Bima.

Di balik keindahan yang terlihat dari Bumi, pusat Galaksi Bima Sakti menyimpan lubang hitam supermasif bernama Sagittarius A*. Objek tersebut memiliki massa sekitar empat juta kali lebih besar daripada Matahari dan menjadi pusat gravitasi yang memengaruhi pergerakan miliaran bintang, gas, debu, serta materi gelap di dalam galaksi.

Keindahan Milky Way juga menjadi incaran para fotografer langit malam. Namun, mengabadikan fenomena tersebut membutuhkan persiapan yang tidak sederhana. Selain harus mengetahui waktu kemunculan galaksi, fotografer juga perlu memilih lokasi yang minim polusi cahaya agar pita cahaya Milky Way terlihat jelas.

"Yang istimewa dari Milky Way adalah proses pengambilan fotonya yang membutuhkan usaha lebih. Milky Way biasanya muncul sekitar pukul 02.00 hingga 03.00, sehingga fotografer harus rela berburu pada dini hari. Selain itu, lokasi pemotretan juga tidak bisa sembarangan. Kita harus mengetahui posisi Milky Way, memilih tempat yang gelap atau minim cahaya, serta berada di lokasi yang lebih tinggi agar hasil foto lebih maksimal," ujar Dika, Selasa (4/8/2026).

Bagi para pemburu langit malam, berburu Milky Way tidak hanya bertujuan menghasilkan foto yang menarik, tetapi juga menjadi pengalaman menikmati kemegahan alam semesta secara langsung. Hamparan cahaya yang menghiasi langit menjadi pengingat bahwa Bumi hanyalah bagian kecil dari Galaksi Bima Sakti yang dihuni miliaran bintang dan terus bergerak dalam dinamika kosmos.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Milky Way