RADARBANYUWANGI.ID - Kucing dengan corak belang tiga atau yang lebih dikenal sebagai tortoiseshell (tortie) selalu berhasil mencuri perhatian berkat perpaduan warna bulunya yang unik. Tak hanya memiliki tampilan yang khas, kucing ini juga dikenal dengan karakter berani hingga berbagai mitos yang melekat di sejumlah negara.
Meski kerap dianggap sebagai ras tersendiri, tortie sebenarnya bukan jenis ras kucing. Sebutan tersebut hanya mengacu pada pola warna bulu yang menyerupai tempurung kura-kura, yakni kombinasi warna hitam dan oranye atau merah jahe tanpa warna putih.
Corak tersebut dapat muncul dalam berbagai gradasi. Warna merah bisa tampak krem, emas, kuning, maupun oranye terang, sedangkan warna hitam juga dapat memiliki variasi tertentu. Pola yang paling umum adalah perpaduan warna menyerupai mosaik dengan bercak-bercak yang tersebar secara acak.
Banyak orang juga masih keliru membedakan tortie dengan kucing calico. Perbedaannya terletak pada keberadaan warna putih. Kucing calico memiliki kombinasi putih, hitam, dan oranye, sedangkan tortie tidak memiliki warna putih pada bulunya.
Keunikan tortie tidak berhenti pada penampilannya. Hampir seluruh kucing tortie berjenis kelamin betina. Kondisi ini berkaitan erat dengan faktor genetika yang mengatur pewarnaan bulu.
Kucing betina memiliki dua kromosom X yang membawa gen warna hitam maupun oranye. Saat embrio berkembang, salah satu kromosom X di setiap sel akan dinonaktifkan secara acak. Proses inilah yang menghasilkan pola bercak hitam dan oranye yang khas pada bulu tortie.
Sebaliknya, kucing jantan hanya memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y sehingga umumnya hanya memiliki satu warna dominan, yaitu hitam atau oranye.
Meski demikian, dalam kasus yang sangat langka, kucing jantan dapat lahir dengan susunan kromosom XXY. Kondisi ini memungkinkan mereka memiliki pola bulu tortie, tetapi umumnya menyebabkan kucing tersebut mengalami kemandulan.
Selain penampilannya, tortie juga terkenal memiliki karakter yang kuat. Di kalangan pecinta kucing bahkan dikenal istilah tortitude, yakni sebutan untuk menggambarkan sifat tortie yang percaya diri, aktif, keras kepala, sekaligus penuh rasa ingin tahu.
Namun, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang memastikan bahwa pola warna bulu menentukan kepribadian seekor kucing. Karakter tortie lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ras, lingkungan tempat tumbuh, serta pengalaman hidup masing-masing individu.
Artinya, tidak semua tortie memiliki sifat galak atau dominan. Setiap kucing tetap memiliki karakter yang berbeda meski memiliki pola bulu serupa.
Popularitas tortie juga tercatat dalam berbagai kisah menarik di dunia. Salah satu kucing tortie disebut menjadi inspirasi bagi penulis Edgar Allan Poe. Di Jepang, seekor tortie pernah menjabat sebagai kepala stasiun kereta dan menjadi daya tarik wisata.
Sementara itu, negara bagian Maryland di Amerika Serikat menetapkan tortie sebagai kucing resmi sekaligus simbol negara bagian. Di Australia, seekor tortie bernama Marzipan dikenal sebagai penghuni tetap Teater Astor dan hidup hingga usia 21 tahun.
Di berbagai negara, tortie juga identik dengan berbagai mitos keberuntungan. Di Jepang, kucing ini dipercaya mampu melindungi kapal dari kecelakaan maupun gangguan roh jahat. Cerita rakyat Inggris menyebut ekor tortie dapat menyembuhkan kutil jika dilakukan pada waktu tertentu.
Di Amerika Serikat, tortie sering dijuluki sebagai "kucing pembawa keberuntungan" yang diyakini membawa kemakmuran bagi pemiliknya. Sementara di Skotlandia dan Irlandia, kehadiran tortie jantan yang sangat langka dipercaya menjadi pertanda datangnya keberuntungan.
Editor : Lugas Rumpakaadi