Dosen Unej dan Praja Kembangkan Wisata Keluarga Berkelanjutan Gallor Sport

Sidrotul Muntoha • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 06:00 WIB
PERUBAHAN: Tim pengabdian dosen dan mahasiswa Unej, (dari kiri) Dita Arifinanda, Nur Lailatul Lutfiah, M Rizqon Al Musafiri, Hilma Nabila Uliz Zahro, Bejo Apriyanto, dan Vicky Indarto Setyono. (Istimewa)
PERUBAHAN: Tim pengabdian dosen dan mahasiswa Unej, (dari kiri) Dita Arifinanda, Nur Lailatul Lutfiah, M Rizqon Al Musafiri, Hilma Nabila Uliz Zahro, Bejo Apriyanto, dan Vicky Indarto Setyono. (Istimewa)

RADAR BANYUWANGI – Dari kawasan yang sempat menjadi tempat pembuangan sampah informal, sebuah ruang terbuka di Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, kini diarahkan menjadi destinasi wisata keluarga berkelanjutan. Transformasi itu ditandai dengan perubahan nama Bodol Sport menjadi Gallor Sport, Minggu (26/7/2026).

Peresmian Gallor Sport menjadi puncak program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan tim Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej) bersama Pemuda Krajan (PRAJA) Desa Wringinrejo.

Program yang berlangsung sejak 12 Juli 2026 tersebut tidak hanya menyentuh pembenahan kawasan. Tim pengabdian juga mendorong PRAJA agar memiliki kemampuan mengelola destinasi wisata secara berkelanjutan, mulai dari pengelolaan lingkungan, keuangan, hingga pemasaran digital.

Perubahan nama menjadi Gallor Sport merupakan keputusan resmi PRAJA. Nama baru tersebut diharapkan menjadi penanda dimulainya babak baru pengelolaan kawasan wisata yang lebih tertata sekaligus memberi semangat bagi generasi muda desa untuk mengembangkan potensi lokal.

Berawal dari Kawasan yang Belum Tertata

Ketua tim pengabdian masyarakat FKIP Unej, M. Rizqon Al Musafiri, S.Pd., M.Pd., mengatakan program tersebut lahir dari kondisi awal Bodol Sport yang belum tertata secara optimal.

Kawasan yang memiliki luas sekitar satu hektare itu, kata Rizqon, sebagian areanya sempat dimanfaatkan sebagai lokasi pembuangan sampah informal. Kondisi tersebut terjadi karena belum adanya sistem pengelolaan lingkungan yang terstruktur.

MENGABDI: Tim pengabdian dosen Unej bersama Pemuda Krajan (PRAJA) di lokasi Gallor Sport Desa Winginrejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, Minggu (26/7/2026). (Istimewa)
MENGABDI: Tim pengabdian dosen Unej bersama Pemuda Krajan (PRAJA) di lokasi Gallor Sport Desa Winginrejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, Minggu (26/7/2026). (Istimewa)

"Program ini lahir dari kondisi Bodol Sport yang sebelumnya belum tertata," terang Rizqon yang juga dosen Program Studi Pendidikan Geografi Unej.

Hasil kajian awal tim pengabdian menunjukkan tantangan lain. Dari 20 anggota PRAJA yang menjadi peserta program, sekitar 75 persen belum memahami konsep dasar pariwisata berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan.

Kelompok tersebut juga belum memiliki sistem pencatatan keuangan yang baku untuk mendukung pengembangan potensi usaha wisata.

Kondisi itulah yang kemudian menjadi dasar penyusunan program pemberdayaan masyarakat yang dirancang secara bertahap.

Tiga Workshop Jadi Fondasi Pengelolaan Wisata

Program pengabdian tersebut didanai melalui Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) 2026 melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.

Kegiatan yang dirancang berlangsung selama satu tahun itu melibatkan 20 peserta perwakilan PRAJA. Pelaksanaannya mencakup sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, evaluasi, dan keberlanjutan.

Tiga workshop utama digelar sebagai bagian dari rangkaian pemberdayaan.

Pertama, workshop kesadaran wisata berkelanjutan berbasis keluarga pada 12 Juli 2026. Kedua, pelatihan manajemen keuangan sederhana dan strategi pemasaran digital pada 19 Juli 2026. Ketiga, workshop pembuatan kompos dan pengelolaan sampah pada 26 Juli 2026.

Materi disusun untuk menjawab persoalan yang dihadapi PRAJA sekaligus mempersiapkan Gallor Sport sebagai destinasi wisata keluarga berbasis masyarakat.

Bejo Apriyanto, S.Pd., M.Pd., dari Program Studi Pendidikan Geografi Unej, memberikan materi mengenai kesadaran wisata berkelanjutan dan konsep pengembangan community-based tourism.

Sementara itu, Dr. Vicky Indarto Setyono, S.Kom., M.M., dari Program Studi Pendidikan Ekonomi, membawakan materi manajemen keuangan sederhana dan strategi pemasaran digital. Peserta juga mendapat pelatihan pencatatan kas serta penghitungan biaya operasional usaha wisata.

Adapun Rizqon memberikan materi pembuatan kompos yang mencakup pengelolaan sampah organik dan penerapan prinsip reduce, reuse, recycle (3R) di kawasan wisata.

Teknologi Tepat Guna Diserahkan ke PRAJA

Program pengabdian tidak berhenti pada pelatihan. Sebagai tindak lanjut, tim FKIP Unej menyerahkan bantuan teknologi tepat guna secara simbolis kepada PRAJA.

Bantuan tersebut meliputi mesin pemotong rumput, mesin penyemprot pertanian, tong sampah terpilah, drum komposter, serta papan informasi atau signage yang berfungsi sebagai petunjuk arah dan informasi wisata.

Setiap peserta juga menerima modul pelatihan sesuai materi yang diikuti. Salah satunya berupa panduan pencatatan keuangan sederhana yang dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan usaha wisata.

Rizqon mengatakan program tersebut dirancang bukan sekadar sebagai transfer pengetahuan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk membangun kemandirian ekonomi warga melalui pengembangan potensi wisata lokal.

"Perubahan nama menjadi Gallor Sport diharapkan turut menjadi simbol semangat baru bagi generasi muda desa dalam mengelola potensi wisata secara mandiri," harapnya.

Tantangan Berikutnya: Digitalisasi Promosi

Wakil Ketua PRAJA, Muhammad Ikhwan, S.Pd., yang hadir mewakili Ketua PRAJA Mustamid, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan tim FKIP Unej.

Menurutnya, program tersebut membantu anggota PRAJA memahami aspek pengelolaan wisata dan keuangan yang sebelumnya belum tertata secara rapi.

"Kami sangat terbantu dengan pendampingan ini, terutama dalam memahami pengelolaan wisata dan keuangan yang selama ini belum tertata rapi. Perubahan nama menjadi Gallor Sport ini kami harapkan membawa semangat baru bagi seluruh anggota PRAJA," ujarnya.

Sebelum program berjalan, PRAJA disebut masih berada pada tingkat keberdayaan pemula dalam berbagai aspek penting pengembangan destinasi wisata. Mulai pemahaman pariwisata berkelanjutan, pengelolaan lingkungan, hingga pemasaran digital.

Padahal, sekitar 80 persen anggota PRAJA telah memiliki akun media sosial pribadi. Persoalannya, Gallor Sport sebelumnya belum memiliki platform digital khusus untuk memperkenalkan kawasan tersebut kepada calon wisatawan.

Kondisi itu menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam pengembangan Gallor Sport ke depan. Digitalisasi promosi dinilai penting agar destinasi tersebut tidak hanya dikenal masyarakat sekitar, tetapi juga mampu menjangkau wisatawan dari luar daerah.

Ditargetkan Jadi Model Wisata Desa

Program pendampingan ini ditargetkan tidak berhenti setelah rangkaian kegiatan selesai. Tim pengabdian menargetkan keberlanjutan program selama satu hingga tiga tahun ke depan melalui pendampingan lanjutan.

Penguatan kemitraan dengan pemerintah desa juga menjadi salah satu agenda yang diharapkan dapat memperkuat pengelolaan Gallor Sport.

Bahkan, model pengembangan wisata berbasis komunitas tersebut berpotensi direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Banyuwangi.

Program tersebut juga dinilai sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk pengentasan kemiskinan, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, konsumsi dan produksi berkelanjutan, serta pelestarian ekosistem darat.

Dengan perubahan nama dari Bodol Sport menjadi Gallor Sport, kawasan seluas sekitar satu hektare itu kini memiliki pekerjaan besar di depan mata. Bukan sekadar mengubah nama, tetapi membangun sistem pengelolaan yang mampu menghidupkan ekonomi warga sekaligus menjaga lingkungan.

Jika pendampingan, pengelolaan, dan promosi digital berjalan konsisten, Gallor Sport berpeluang tumbuh menjadi destinasi wisata keluarga berbasis komunitas. Dari desa, potensi ekonomi baru diharapkan lahir dan berkembang untuk masyarakat Banyuwangi.

Lebih jauh, Gallor Sport bisa menjadi contoh bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ketika pengetahuan bertemu potensi lokal dan dikelola secara berkelanjutan, sebuah kawasan yang sebelumnya belum tertata pun bisa diarahkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Wringinrejo Gallor Sport Wisata berkelanjutan wisata keluarga wisata banyuwangi