RADAR BANYUWANGI – Tahun ajaran baru 2026/2027 menjadi tantangan berat bagi SDN 2 Gumuk, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Sekolah dasar yang berada di wilayah pelosok itu hanya menerima lima peserta didik baru dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Minimnya jumlah siswa tak hanya dipicu sedikitnya anak usia sekolah di sekitar desa, tetapi juga tren orang tua dari kalangan ekonomi menengah ke atas yang lebih memilih menyekolahkan anak mereka ke sekolah di kawasan perkotaan.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap keberlangsungan operasional sekolah. Dengan jumlah siswa yang sedikit, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ikut menyusut. Bahkan, dalam beberapa kegiatan, guru dan kepala sekolah harus menggunakan uang pribadi agar aktivitas belajar tetap berjalan dan semangat siswa tidak surut.
Total Siswa Hanya 27 Anak
Kepala SDN 2 Gumuk, Roliyah, mengatakan penerimaan peserta didik baru tahun ini jauh dari ideal. Dari enam tingkat kelas, sekolah hanya memperoleh lima siswa baru untuk kelas I.
Saat ini, total siswa SDN 2 Gumuk hanya 27 anak dengan dukungan delapan tenaga pendidik. Menariknya, kelas VI justru menjadi rombongan belajar terbanyak dengan enam siswa.
"Yang mendaftar di kelas satu hanya lima anak. Total seluruh siswa di SDN 2 Gumuk ada 27 anak, sedangkan kelas VI menjadi yang terbanyak dengan enam siswa," ujar Roliyah saat ditemui, Sabtu (1/8).
Seluruh siswa berasal dari Dusun Kampung Anyar dan Dusun Ledok, dua wilayah yang berada di sekitar sekolah.
Menurut Roliyah, jumlah anak usia sekolah di kedua dusun tersebut memang terus menurun sehingga setiap tahun sekolah kesulitan memenuhi pagu penerimaan peserta didik.
"Faktor utamanya memang karena anak-anak di sekitar sekolah jumlahnya sedikit. Itu yang membuat jumlah siswa tidak pernah memenuhi pagu," katanya.
Orang Tua Lebih Memilih Sekolah di Kota
Selain faktor demografi, perubahan preferensi masyarakat turut memengaruhi jumlah siswa.
Roliyah menjelaskan, sebagian orang tua yang memiliki kondisi ekonomi lebih baik memilih menyekolahkan anak ke sekolah di kawasan kota. Padahal, pilihan tersebut membuat anak harus menempuh perjalanan lebih jauh setiap hari.
"Sebagian masyarakat yang ekonominya menengah ke atas lebih memilih menyekolahkan anaknya di kota," tambahnya.
Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah-sekolah di wilayah pedesaan yang harus bersaing dengan sekolah di kawasan perkotaan.
Dana BOS Menyusut, Guru Rela Gunakan Uang Pribadi
Jumlah siswa yang sedikit berdampak langsung pada besaran dana BOS yang diterima sekolah karena alokasi bantuan dihitung berdasarkan jumlah peserta didik.
Akibatnya, SDN 2 Gumuk harus mengelola anggaran secara lebih ketat. Dalam beberapa kesempatan, guru bahkan rela merogoh kocek pribadi agar kegiatan sekolah tetap berjalan.
"Kalau ada kegiatan tertentu, kami kadang menambah biaya dari uang pribadi, misalnya untuk hadiah lomba. Nilainya tidak besar, tetapi tetap kami upayakan agar anak-anak tetap semangat mengikuti kegiatan," ungkap Roliyah.
Pengorbanan tersebut menjadi bentuk komitmen para guru agar siswa tetap mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan meski berada di tengah keterbatasan.
Sisi Positif, Guru Lebih Fokus Membimbing Siswa
Di balik minimnya jumlah peserta didik, Roliyah melihat ada keuntungan dalam proses pembelajaran.
Dengan jumlah siswa yang sedikit, guru memiliki waktu lebih banyak untuk memberikan perhatian kepada setiap anak. Pendampingan belajar pun dapat dilakukan secara lebih intensif sehingga perkembangan akademik maupun karakter siswa lebih mudah dipantau.
"Guru bisa lebih fokus membimbing setiap anak sehingga perkembangan belajarnya lebih mudah dipantau," jelasnya.
Sosialisasi Door to Door Belum Membuahkan Hasil
Guru SDN 2 Gumuk, Trisno Hadi, mengatakan pihak sekolah tidak tinggal diam menghadapi kondisi tersebut.
Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk mendatangi rumah-rumah warga untuk mengajak orang tua menyekolahkan anak di sekolah terdekat.
Namun, hasilnya belum sesuai harapan. Sebagian masyarakat tetap memilih sekolah di kota karena dianggap memiliki daya tarik dan fasilitas yang lebih baik.
"Kami sudah mendatangi rumah-rumah warga untuk memberikan pemahaman agar anak bersekolah di sekolah terdekat. Namun, sebagian besar masyarakat yang ekonominya menengah ke atas tetap memilih sekolah di kota meskipun jaraknya lebih jauh," katanya.
Potret Tantangan Sekolah di Pelosok
Kisah SDN 2 Gumuk menjadi gambaran nyata tantangan yang dihadapi sekolah-sekolah di wilayah pedesaan. Penurunan angka kelahiran, perubahan preferensi masyarakat, hingga sistem pendanaan berbasis jumlah siswa menjadi persoalan yang saling berkaitan.
Di tengah keterbatasan tersebut, para guru tetap berupaya menjaga kualitas pendidikan dengan memberikan perhatian lebih kepada setiap murid, bahkan rela mengeluarkan dana pribadi agar kegiatan sekolah tetap berjalan. Bagi mereka, mempertahankan semangat belajar anak-anak di pelosok jauh lebih penting daripada sekadar menghitung keterbatasan yang dimiliki. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin