Peneliti Kembangkan Teknologi Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Berkemurnian Tinggi, Emisi Karbon Diklaim Lebih Rendah

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 16:01 WIB
Peneliti mengembangkan teknologi Alkaline Thermal Treatment. (Pexels/Erik Karits)
Peneliti mengembangkan teknologi Alkaline Thermal Treatment. (Pexels/Erik Karits)

RADARBANYUWANGI.ID - Harapan memanfaatkan limbah plastik sebagai sumber energi bersih semakin terbuka. Para peneliti mengembangkan proses kimia baru yang mampu mengubah campuran tiga jenis sampah plastik paling umum secara langsung menjadi bahan bakar hidrogen berkemurnian tinggi tanpa perlu melalui proses pemilahan.

Berdasarkan laporan ScienceDaily yang dipublikasikan pada 31 Juli 2026, metode tersebut bekerja pada suhu yang jauh lebih rendah dibandingkan teknologi gasifikasi konvensional. Selain menghasilkan hidrogen, proses ini juga mampu mengurangi pelepasan karbon dioksida karena sebagian besar karbon dari plastik dikunci dalam bentuk padatan maupun residu cair.

Teknologi yang diberi nama Alkaline Thermal Treatment (ATT) memungkinkan tiga jenis plastik, yakni polyethylene terephthalate (PET), polyethylene (PE), dan polypropylene (PP), diproses secara bersamaan di dalam satu reaktor. Pendekatan ini dinilai dapat menyederhanakan pengolahan limbah plastik yang selama ini membutuhkan proses pemilahan sebelum didaur ulang.

Hasil uji laboratorium menunjukkan hidrogen yang dihasilkan memiliki tingkat kemurnian lebih dari 90 persen. Dalam prosesnya, peneliti menggunakan natrium hidroksida yang berfungsi menangkap karbon dari plastik dan mengubahnya menjadi natrium karbonat padat. Lebih dari 75 persen kandungan karbon berhasil terperangkap dalam bentuk senyawa padat maupun residu cair sehingga tidak terlepas ke atmosfer sebagai karbon dioksida.

Peneliti utama Woo-Jae Kim menjelaskan, penyederhanaan proses pengolahan limbah plastik menjadi salah satu keunggulan utama teknologi tersebut. Menurutnya, selama ini biaya pemilahan sampah menjadi salah satu hambatan terbesar dalam pengembangan teknologi konversi limbah plastik menjadi energi.

"Dengan mengurangi biaya pemilahan dan kompleksitas proses yang selama ini menjadi hambatan utama komersialisasi, teknologi ini berpotensi menjadi teknologi inti generasi berikutnya yang mendukung ekonomi hidrogen sekaligus ekonomi sirkular," ujar Woo-Jae Kim saat publikasi hasil penelitian di University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat, pada 31 Juli 2026.

Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan di laboratorium, para peneliti menegaskan bahwa pengembangan lebih lanjut masih diperlukan. Tahapan berikutnya difokuskan pada penyempurnaan proses serta pengujian kelayakan ekonomi agar teknologi ATT dapat diterapkan dalam skala industri.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : ScienceDaily
sampah plastik