RADARBANYUWANGI.ID - Tren mencampurkan minyak kayu putih ke dalam tangki bahan bakar kendaraan kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Berbagai unggahan mengklaim bahwa beberapa tetes minyak kayu putih komersial mampu membuat proses pembakaran mesin lebih efisien sehingga konsumsi bensin menjadi lebih hemat.
Namun, anggapan tersebut dipastikan belum memiliki dasar ilmiah yang memadai. Laporan Kompas.com pada 29 Juli 2026 mengungkapkan bahwa klaim tersebut tidak dapat dijadikan acuan, khususnya pada kendaraan produksi standar yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Dosen Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Dr. Leopold Oscar Nelwan, menjelaskan bahwa hasil penelitian ilmiah di laboratorium tidak dapat disamakan dengan praktik mencampurkan minyak kayu putih kemasan komersial secara langsung ke dalam tangki bahan bakar.
"Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang memadai bahwa cara tersebut secara konsisten dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar kendaraan produksi standar," tegas Dr. Leopold Oscar Nelwan dalam siaran pers resmi yang dikutip Kompas.com di Bogor, Jawa Barat, pada akhir Juli 2026.
Ia menerangkan, minyak kayu putih memang mengandung senyawa organik volatil seperti 1,8-cineole atau eucalyptol yang dalam formulasi tertentu dapat memengaruhi karakteristik pembakaran. Namun, kondisi tersebut hanya berlaku pada penelitian atau pengembangan formula khusus dan tidak dapat disamakan dengan penggunaan minyak kayu putih komersial yang dijual bebas.
Menurutnya, banyak masyarakat juga keliru memahami cara kerja aditif bahan bakar. Padahal, aditif dirancang melalui formulasi khusus dengan komposisi yang sangat kecil dan mekanisme kerja yang spesifik.
"Sebaliknya, aditif ditambahkan dalam konsentrasi sangat kecil dan harus memiliki mekanisme kerja yang spesifik agar efektif. Hingga saat ini, belum ada penjelasan ilmiah yang membuktikan minyak kayu putih komersial bekerja melalui mekanisme tersebut," ungkap Dr. Leopold.
Alih-alih memberikan manfaat, mencampurkan bahan yang tidak dirancang sebagai aditif justru berpotensi menimbulkan dampak negatif pada kendaraan. Risiko yang dapat muncul antara lain terbentuknya deposit atau kerak di ruang bakar, ketidakstabilan campuran bahan bakar, hingga kerusakan pada injektor maupun komponen mesin lainnya.
Karena itu, para ahli mengimbau masyarakat agar tidak mudah mengikuti tips otomotif yang viral tanpa dasar ilmiah. Efisiensi konsumsi bahan bakar sebaiknya ditempuh melalui cara-cara yang telah terbukti efektif, seperti menjaga tekanan angin ban sesuai rekomendasi, melakukan servis kendaraan secara berkala, menggunakan bahan bakar yang sesuai spesifikasi mesin, serta menerapkan gaya berkendara yang halus dan konsisten.
Langkah-langkah tersebut dinilai jauh lebih aman sekaligus mampu membantu menjaga performa mesin tetap optimal dalam jangka panjang dibanding mencoba metode yang belum terbukti manfaat maupun keamanannya.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Kompas.com