DNA Purba Ungkap Manusia Zaman Es Selektif Memburu Mamut Betina, Akhiri Perdebatan Ilmiah yang Berlangsung Puluhan Tahun

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 19:27 WIB
Analisis DNA purba terhadap 521 mamut berbulu membuktikan manusia Zaman Es secara selektif memburu mamut betina. (Pexels/Alex Dos Santos)
Analisis DNA purba terhadap 521 mamut berbulu membuktikan manusia Zaman Es secara selektif memburu mamut betina. (Pexels/Alex Dos Santos)

RADARBANYUWANGI.ID - Perdebatan ilmiah yang telah berlangsung selama puluhan tahun mengenai asal-usul tumpukan tulang mamut berbulu (woolly mammoth) akhirnya menemukan titik terang. Analisis DNA purba terhadap ratusan fosil mengungkap bahwa manusia Zaman Es bukan sekadar memanfaatkan bangkai mamut, melainkan secara selektif memburu mamut berbulu berjenis kelamin betina.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam laporan terbaru majalah sains New Scientist berdasarkan penelitian genomik yang melibatkan 521 individu mamut dari Eurasia dan Amerika Utara. Hasil analisis memperlihatkan pola yang berbeda antara mamut yang mati secara alami dengan mamut yang ditemukan di situs-situs permukiman manusia purba.

Tim peneliti menemukan bahwa fosil mamut dari lingkungan alami didominasi individu jantan dengan proporsi mencapai 66 persen. Kondisi ini diperkirakan terjadi karena mamut jantan hidup secara soliter sehingga lebih rentan terjebak dalam perangkap alam, seperti tanah longsor maupun lubang runtuhan (sinkhole).

Sebaliknya, fosil mamut yang ditemukan di kawasan arkeologi justru didominasi betina hingga sekitar 70 persen. Tulang-tulang tersebut ditemukan bertumpuk di lokasi yang diduga menjadi tempat perburuan dan pemanfaatan mamut oleh manusia purba.

Ko-penulis senior penelitian dari Centre for Palaeogenetics, Dr. David Díez del Molino, menjelaskan bahwa hasil analisis genetik berhasil menjawab perdebatan yang selama ini belum memperoleh kepastian.

"Apakah tumpukan besar tulang mamut ini terbentuk secara alami atau akibat perburuan manusia telah diperdebatkan selama puluhan tahun. Dengan membandingkan rasio jenis kelamin genetik dari ratusan mamut di lingkungan alami dengan mamut yang ditemukan di konteks arkeologi, kini kita dapat menyimpulkan bahwa aktivitas manusialah yang menjadi pendorong utama di balik penumpukan tulang tersebut," ujarnya dalam rilis ilmiah yang dipublikasikan New Scientist pada 30 Juli 2026.

Penelitian juga mengungkap alasan mengapa mamut betina lebih sering menjadi sasaran perburuan. Faktor utamanya bukan semata ukuran tubuh yang relatif lebih kecil dibandingkan jantan, tetapi juga pola perilaku sosialnya.

Arkeolog Stockholm University, Dr. Hannah M. Moots, menjelaskan bahwa kelompok mamut betina hidup dalam kawanan yang dipimpin induk dan memiliki jalur perpindahan yang lebih teratur, mirip dengan perilaku gajah modern. Kondisi tersebut membuat keberadaan mereka lebih mudah diprediksi oleh kelompok pemburu-peramu pada masa Paleolitikum Atas.

"Kelompok yang dipimpin oleh betina bergerak melintasi lanskap dengan pola yang lebih dapat diprediksi dibandingkan jantan soliter, yang berarti pemburu-peramu Zaman Paleolitikum Atas mungkin lebih sering bertemu dengan mereka, baik untuk berburu maupun mengumpulkan bangkainya," jelasnya dalam rilis media ilmiah pada 30 Juli 2026.

Selain memecahkan misteri mengenai pola perburuan mamut, penelitian ini juga menghadirkan temuan genetik yang tidak kalah menarik. Tim peneliti mengidentifikasi seekor mamut dari Pulau Wrangel yang memiliki kombinasi kromosom seks langka X0/XX mosaicism.

Kelainan tersebut memiliki kemiripan dengan Sindrom Turner pada manusia dan menjadi catatan pertama mengenai variasi kromosom semacam itu yang pernah ditemukan pada spesies yang telah punah. Penemuan ini dinilai memperluas pemahaman ilmuwan mengenai keragaman genetik mamut menjelang kepunahannya sekaligus membuka peluang penelitian lanjutan mengenai evolusi dan dinamika populasi satwa purba.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : New Scientist
mamut berbulu