Asap Kebakaran Hutan Lebih Berbahaya daripada Polusi Biasa, Ilmuwan Ungkap Risiko Serang Otak hingga Picu Alzheimer

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 19:20 WIB
Asap kebakaran hutan ternyata menyimpan ancaman kesehatan. (Pexels/Vladyslav Dukhin)
Asap kebakaran hutan ternyata menyimpan ancaman kesehatan. (Pexels/Vladyslav Dukhin)

RADARBANYUWANGI.ID - Ancaman kebakaran hutan tidak berhenti ketika kobaran api berhasil dipadamkan. Bahaya lain justru masih mengintai melalui asap yang ditinggalkan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan memiliki dampak kesehatan yang lebih serius dibandingkan polusi udara biasa.

Laporan ilmiah yang dimuat majalah sains National Geographic mengungkap bahwa asap kebakaran hutan mengandung campuran senyawa beracun yang jauh lebih kompleks. Partikel-partikel tersebut tidak hanya memengaruhi saluran pernapasan, tetapi juga mampu masuk ke aliran darah hingga memicu peradangan pada otak.

Berbeda dengan polusi yang berasal dari kendaraan bermotor dan cenderung memiliki komposisi relatif konsisten, asap kebakaran hutan merupakan hasil pembakaran berbagai material. Mulai dari vegetasi, bangunan, kendaraan, hingga beragam bahan kimia industri yang ikut terbakar, seluruhnya menghasilkan campuran zat berbahaya dengan karakteristik berbeda-beda.

Ahli imunologi dari University of California, Davis, Prof. Lisa Miller, menjelaskan bahwa variasi material yang terbakar membuat kandungan kimia dalam asap kebakaran hutan sangat sulit diprediksi.

"Masalah pada kebakaran hutan adalah materi yang terbakar sangat bervariasi di berbagai lokasi. Ini adalah sebuah kekacauan kimia," ujarnya dalam riset dan wawancara ilmiah yang dimuat National Geographic pada Agustus 2023.

Kondisi tersebut membuat dampak kesehatan dari asap kebakaran hutan menjadi semakin kompleks. Salah satu ancaman terbesar berasal dari partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau PM2.5. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam paru-paru, menembus aliran darah, bahkan melewati pelindung alami otak atau blood-brain barrier.

Apabila partikel tersebut mencapai jaringan otak, risiko terjadinya peradangan pada sel saraf meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi ini diduga berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif hingga meningkatnya risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.

Neurosaintis dari QIMR Berghofer Medical Research Institute, Dr. Anthony White, menyebut pemahaman mengenai dampak asap kebakaran hutan terhadap kesehatan manusia masih terus berkembang. Menurutnya, para peneliti baru mulai mengetahui besarnya pengaruh paparan asap kebakaran terhadap tubuh.

"Meskipun dampak polusi udara secara umum terhadap kesehatan manusia telah lama diketahui, kita baru saja mulai memahami seberapa besar pengaruh asap kebakaran hutan terhadap kesehatan manusia. Masalah ini diperparah oleh fakta bahwa sangat sulit untuk membedakan antara efek polusi udara biasa dengan dampak kesehatan khusus dari asap kebakaran hutan, terutama ketika polusi asap tersebut terjadi secara sporadis dan tanpa peringatan," jelasnya.

Para ahli mengingatkan masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap kebakaran hutan agar meningkatkan kewaspadaan. Beberapa langkah yang disarankan antara lain rutin memantau indeks kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, serta menggunakan pemurni udara dengan filter HEPA untuk membantu menyaring partikel halus berbahaya di dalam ruangan.

Langkah pencegahan tersebut dinilai penting untuk meminimalkan paparan partikel beracun yang berpotensi memberikan dampak jangka pendek maupun jangka panjang terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : National Geographic
asap kebakaran hutan