RADARBANYUWANGI.ID - Menekan tombol snooze atau menunda alarm beberapa menit setelah berbunyi menjadi kebiasaan yang dilakukan banyak orang. Tambahan waktu tidur selama lima hingga sepuluh menit memang terasa menyenangkan. Namun, di balik kenyamanan sesaat tersebut, kebiasaan ini justru dapat membuat tubuh terasa lebih lemas, pusing, hingga sulit berkonsentrasi sepanjang hari.
Secara ilmiah, kondisi tersebut berkaitan dengan terganggunya siklus tidur alami. Tidur manusia berlangsung dalam beberapa tahapan, mulai dari tidur ringan hingga fase tidur nyenyak atau Rapid Eye Movement (REM). Ketika alarm pertama berbunyi, tubuh umumnya telah berada di penghujung satu siklus tidur sehingga secara biologis sudah siap untuk bangun.
Masalah muncul ketika seseorang memilih kembali memejamkan mata setelah menekan tombol snooze. Otak akan menganggap tubuh sedang memulai siklus tidur baru. Padahal, waktu tidur tambahan hanya berlangsung beberapa menit dan tidak cukup untuk menyelesaikan satu siklus tidur secara utuh.
Akibatnya, saat alarm kedua berbunyi, tubuh dipaksa terbangun di tengah siklus tidur yang baru dimulai. Kondisi inilah yang memicu sleep inertia, yakni keadaan ketika seseorang mengalami penurunan kewaspadaan, gangguan fungsi kognitif, serta rasa bingung setelah bangun tidur.
Dalam dunia medis, sleep inertia merupakan fase transisi ketika otak belum sepenuhnya beralih dari kondisi tidur menuju keadaan sadar. Dampaknya tidak hanya membuat tubuh terasa limbung dan mengantuk, tetapi juga dapat menurunkan konsentrasi, memperlambat kemampuan berpikir, hingga memengaruhi suasana hati selama beberapa jam setelah bangun.
Kebiasaan menunda alarm juga berpotensi mengganggu ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Alarm yang berbunyi berulang kali dapat memicu pelepasan hormon stres atau kortisol secara berulang. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut membuat tubuh kesulitan mengenali waktu bangun yang konsisten dan berisiko menurunkan kualitas tidur pada malam hari.
Apabila terus berlangsung, gangguan ritme sirkadian dapat menciptakan siklus yang tidak sehat. Tidur menjadi kurang berkualitas, tubuh sulit beristirahat secara optimal, dan rasa lelah tetap muncul meski durasi tidur sebenarnya sudah cukup.
Karena itu, para ahli menyarankan untuk membiasakan diri segera bangun saat alarm pertama berbunyi. Konsistensi waktu tidur dan bangun setiap hari menjadi kunci utama menjaga kualitas istirahat sekaligus membantu tubuh menyesuaikan jam biologis secara alami.
Selain itu, paparan cahaya alami sesaat setelah bangun juga dapat mempercepat proses tubuh menjadi lebih segar. Membuka gorden atau menyalakan lampu segera setelah alarm berbunyi membantu menekan produksi hormon melatonin yang memicu rasa kantuk. Dengan demikian, otak menerima sinyal bahwa hari telah dimulai sehingga tubuh lebih mudah terjaga dan siap menjalani aktivitas.
Mengurangi kebiasaan menekan tombol snooze memang memerlukan disiplin. Namun, perubahan sederhana tersebut dapat memberikan manfaat besar bagi kualitas tidur, menjaga ritme biologis tetap stabil, serta membuat tubuh terasa lebih bugar sejak pagi hingga menjalani aktivitas sepanjang hari.
Editor : Lugas Rumpakaadi