Kenapa Sering Menunda Pekerjaan? Ternyata Bukan Soal Disiplin, tetapi Cara Otak Menghadapi Tekanan Emosi

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 19:06 WIB
Procrastination ternyata bukan sekadar kebiasaan malas. (Unsplash/Annie Spratt)
Procrastination ternyata bukan sekadar kebiasaan malas. (Unsplash/Annie Spratt)

RADARBANYUWANGI.ID - Pernah merasa lebih tertarik membuka media sosial, menonton video singkat, atau merapikan kamar ketika pekerjaan dengan tenggat waktu sudah di depan mata? Fenomena tersebut dikenal sebagai procrastination atau kebiasaan menunda pekerjaan.

Selama ini, banyak orang menganggap perilaku tersebut identik dengan rasa malas, kurang disiplin, atau buruknya kemampuan mengatur waktu. Padahal, berbagai kajian psikologi menunjukkan penyebabnya jauh lebih kompleks dibanding sekadar persoalan manajemen waktu.

Ulasan yang dipublikasikan American Psychological Association menjelaskan bahwa procrastination merupakan mekanisme pertahanan diri ketika seseorang menghadapi emosi yang tidak nyaman. Stres, kecemasan, tekanan, hingga rasa takut gagal dapat memicu seseorang menghindari tugas yang sebenarnya harus segera diselesaikan.

Dari sisi neurologis, kebiasaan menunda muncul akibat adanya tarik-menarik fungsi di dalam otak. Sistem limbik yang berperan mengelola emosi bekerja secara otomatis untuk mencari rasa nyaman dan menghindari situasi yang memicu tekanan.

Di sisi lain, korteks prefrontal bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan rasional, perencanaan, serta pengendalian diri. Ketika seseorang dihadapkan pada tugas yang dianggap berat, membosankan, atau menimbulkan kecemasan, sistem limbik dapat mengambil alih respons sehingga muncul dorongan untuk mencari aktivitas lain yang terasa lebih menyenangkan.

Akibatnya, perhatian mudah beralih ke berbagai kegiatan yang memberikan kepuasan instan, seperti membuka media sosial, menonton video, bermain gim, atau melakukan pekerjaan lain yang sebenarnya tidak mendesak.

Association for Psychological Science juga mengungkapkan bahwa perfeksionisme menjadi salah satu faktor yang memperkuat perilaku procrastination. Seseorang yang memiliki standar terlalu tinggi sering kali justru menunda memulai pekerjaan karena khawatir hasilnya tidak sempurna.

Rasa takut gagal maupun kekhawatiran terhadap penilaian orang lain membuat seseorang memilih menghindari tugas sebagai bentuk perlindungan terhadap harga diri. Dalam kondisi tersebut, penundaan menjadi cara otak mengurangi tekanan emosional, meski hanya bersifat sementara.

Sayangnya, keputusan untuk menunda justru sering memunculkan masalah baru. Tenggat waktu semakin dekat, beban pekerjaan bertambah, dan tingkat stres meningkat sehingga membentuk siklus procrastination yang terus berulang.

Karena itu, para ahli menilai mengatasi kebiasaan menunda tidak cukup hanya dengan membuat jadwal yang lebih ketat atau memberikan hukuman kepada diri sendiri. Yang lebih penting adalah mengenali sumber emosi yang muncul ketika menghadapi pekerjaan.

Ulasan kesehatan dari Psychology Today menyimpulkan bahwa langkah efektif untuk memutus siklus procrastination adalah berani menurunkan tuntutan kesempurnaan dan mulai mengerjakan tugas meski rasa cemas belum sepenuhnya hilang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
procrastination