Infrastruktur Hijau Jadi Solusi Kota Modern, Hadapi Banjir hingga Perubahan Iklim

Daafi Adilla Achmad • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 19:02 WIB
Infrastruktur hijau menjadi solusi pembangunan kota berkelanjutan. (Pexels/Nothing Ahead)
Infrastruktur hijau menjadi solusi pembangunan kota berkelanjutan. (Pexels/Nothing Ahead)

RADARBANYUWANGI.ID - Pertumbuhan kawasan perkotaan yang terus berlangsung menghadirkan berbagai tantangan lingkungan. Berkurangnya ruang terbuka hijau, meningkatnya suhu udara, banjir akibat limpasan air hujan, hingga menurunnya kualitas udara menjadi persoalan yang semakin sering dihadapi berbagai kota.

Di tengah kondisi tersebut, konsep infrastruktur hijau atau green infrastructure semakin mendapat perhatian sebagai salah satu solusi pembangunan kota yang berkelanjutan. Berbeda dengan infrastruktur konvensional yang didominasi beton dan aspal, pendekatan ini memanfaatkan proses alami melalui vegetasi, tanah, dan sistem tata air untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat, nyaman, serta tangguh menghadapi perubahan iklim.

Infrastruktur hijau mencakup beragam elemen, mulai taman kota, jalur hijau, hutan kota, atap hijau (green roof), dinding hijau (green wall), taman resapan (rain garden), lahan basah buatan, hingga penggunaan perkerasan berpori (permeable pavement). Seluruh komponen tersebut dirancang agar mampu menyerap dan menahan air hujan, meningkatkan infiltrasi ke dalam tanah, sekaligus menyaring berbagai polutan sebelum masuk ke sungai maupun saluran drainase.

Selain mempercantik kawasan perkotaan, keberadaan infrastruktur hijau juga meningkatkan fungsi ekologis lingkungan. Sistem alami tersebut membantu menjaga keseimbangan siklus air sekaligus memperkuat daya dukung kawasan terhadap tekanan pembangunan.

Salah satu manfaat paling nyata adalah kemampuannya mengurangi risiko banjir. Saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan yang didominasi beton dan aspal, air hujan sulit meresap sehingga limpasan permukaan meningkat dalam waktu singkat. Kondisi tersebut kerap membebani sistem drainase dan memicu genangan.

Melalui taman resapan, ruang hijau, maupun lahan basah buatan, air hujan dapat ditahan dan diserap langsung di lokasi jatuhnya. Cara ini tidak hanya mengurangi beban drainase, tetapi juga membantu mengurangi erosi, menjaga kualitas air, serta meningkatkan cadangan air tanah yang penting bagi keberlanjutan kawasan perkotaan.

Infrastruktur hijau juga berperan dalam menekan fenomena urban heat island, yakni kondisi ketika suhu di kawasan perkotaan lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya akibat dominasi permukaan keras dan minim vegetasi.

Pohon-pohon rindang, taman kota, maupun atap hijau mampu menciptakan efek pendinginan melalui bayangan serta proses evapotranspirasi. Dampaknya, suhu lingkungan menjadi lebih nyaman, kebutuhan energi untuk pendingin ruangan dapat ditekan, dan kualitas hidup masyarakat perkotaan ikut meningkat.

Dari aspek lingkungan, ruang hijau memberikan manfaat yang tidak kalah penting. Vegetasi mampu menyerap karbon dioksida, menangkap partikel debu, menghasilkan oksigen, serta menyediakan habitat bagi berbagai satwa seperti burung dan serangga penyerbuk.

Keberadaan koridor hijau juga membantu menjaga keterhubungan ekosistem di tengah pesatnya pembangunan. Dengan demikian, pembangunan kota tidak selalu harus mengorbankan keseimbangan alam.

Manfaat infrastruktur hijau tidak berhenti pada aspek lingkungan. Kehadiran ruang terbuka hijau mampu meningkatkan nilai kawasan, menyediakan ruang publik yang nyaman, mendukung aktivitas rekreasi masyarakat, sekaligus berkontribusi terhadap kesehatan fisik dan mental.

Dari sisi ekonomi, investasi pada infrastruktur hijau dinilai mampu menekan biaya jangka panjang dalam pengendalian banjir, pengelolaan air hujan, hingga pemeliharaan infrastruktur konvensional karena sistem alami bekerja secara berkelanjutan dengan biaya operasional yang relatif lebih rendah.

Seiring meningkatnya dampak perubahan iklim, berbagai negara mulai mengembangkan pendekatan Nature-Based Solutions (NBS) atau solusi berbasis alam. Pendekatan tersebut mengintegrasikan fungsi ekosistem dengan kebutuhan pembangunan sehingga mampu meningkatkan ketahanan kota terhadap bencana sekaligus menjaga kualitas lingkungan.

Berbagai proyek internasional menunjukkan bahwa taman kota, restorasi sungai, lahan basah, maupun ruang hijau multifungsi dapat memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi secara bersamaan.

Di Indonesia, peluang penerapan infrastruktur hijau dinilai sangat besar. Banyak kota masih menghadapi persoalan banjir, meningkatnya suhu perkotaan, serta terus berkurangnya ruang terbuka hijau.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Infrastruktur hijau