English Speech Contest Banyuwangi, Ipuk Dorong Siswa Tak Bergantung AI

Sigit Hariyadi • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 02:00 WIB
MERIAH: Para finalis, berkumpul dengan dewan juri, guru pendamping, dan ratusan suporter, usai penganugerahan pemenang English Speech Contest 2026 tingkat SMP/MTs se-Banyuwangi di Aula MAN 1 Banyuwangi pada Rabu (29/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
MERIAH: Para finalis, berkumpul dengan dewan juri, guru pendamping, dan ratusan suporter, usai penganugerahan pemenang English Speech Contest 2026 tingkat SMP/MTs se-Banyuwangi di Aula MAN 1 Banyuwangi pada Rabu (29/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengingatkan bahwa ada satu kemampuan manusia yang tidak akan pernah bisa digantikan mesin, yakni keberanian menyampaikan gagasan dengan hati di depan publik.

Pesan itu disampaikannya saat membuka Grand Final English Speech Contest 2026 tingkat SMP/MTs se-Banyuwangi di Aula MAN 1 Banyuwangi, Rabu (29/7).

Ajang yang digelar Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) tersebut diikuti 87 pelajar dari berbagai SMP dan MTs di Banyuwangi. Setelah melewati tahap seleksi, sebanyak 20 peserta terbaik berhak tampil di babak grand final untuk menunjukkan kemampuan berpidato dalam bahasa Inggris.

Mengawali sambutannya, Ipuk menyampaikan apresiasi kepada seluruh finalis yang dinilai telah berani keluar dari zona nyaman untuk mengasah kemampuan berkomunikasi di depan publik.

"Selamat kepada anak-anakku sekalian karena sudah menjadi finalis English Speech Contest 2026," ujarnya.

Menurut Ipuk, keberanian menjadi modal utama yang harus dimiliki generasi muda di tengah perubahan zaman. Dari puluhan ribu siswa SMP di Banyuwangi, hanya 87 pelajar yang berani mengambil tantangan mengikuti kompetisi tersebut.

"Kalian semua adalah pemenang. Kompetisi ini bukan akhir, tetapi jalan bagi kalian untuk menapaki langkah-langkah selanjutnya," katanya.

Tak hanya kepada para finalis, Ipuk juga memberikan motivasi kepada ratusan siswa yang hadir menyaksikan grand final. Ia meyakini banyak pelajar sebenarnya memiliki kemampuan yang sama, namun belum memiliki keberanian untuk tampil.

"Kalian sebenarnya juga mampu, tetapi mungkin kalian belum memiliki keberanian. Maka mari asah keberanian anak-anakku sekalian. Insya Allah di kemudian hari kalian akan menjadi pemenang," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Ipuk juga menyoroti perubahan besar yang dibawa teknologi AI dalam dunia pendidikan. Jika dahulu siswa dituntut menghafal berbagai materi pelajaran, kini AI mampu mengakses dan mengolah jutaan informasi dalam hitungan detik. Persaingan pun tidak lagi hanya antarmanusia, tetapi juga dengan teknologi yang semakin canggih.

Namun, menurutnya, kondisi tersebut justru menuntut generasi muda memiliki kemampuan yang tidak dimiliki AI.

"Dulu manusia bersaing dengan manusia, tetapi sekarang kita bersaing dengan AI dan mesin. Karena itu, kemampuan yang dibutuhkan bukan sekadar mampu menjawab soal, tetapi bagaimana menjadi bagian dari problem solving, mampu berkomunikasi dengan baik, dan memiliki karakter yang kuat," jelasnya.

Ipuk menilai kompetisi seperti English Speech Contest menjadi ruang penting untuk membangun karakter, kepercayaan diri, sekaligus keterampilan berbicara di depan publik yang akan menjadi bekal menghadapi masa depan.

"Kegiatan seperti ini sangat baik untuk melatih karakter dalam berbicara dan berkomunikasi di depan publik, bukan sekadar menghafal materi pelajaran," ujarnya.

Menurut Ipuk, AI memang mampu menulis berbagai tema, menerjemahkan berbagai bahasa, bahkan membuat presentasi dalam waktu singkat. Namun, teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu menggantikan keberanian seseorang saat menyampaikan gagasan secara langsung di hadapan banyak orang.

"AI mampu menulis berjuta-juta tema, mampu menerjemahkan bahasa apa pun, bahkan membuat presentasi. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dilakukan AI, yaitu menggantikan keberanian anak-anak kita untuk berkomunikasi di depan publik, menyampaikan gagasan-gagasannya dengan hati. Inilah yang tidak dimiliki AI," tegasnya.

Karena itu, Ipuk berharap English Speech Contest terus diselenggarakan setiap tahun sebagai wadah melahirkan generasi muda yang tidak hanya mahir memanfaatkan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, berkomunikasi efektif, dan menginspirasi masyarakat melalui ide-ide yang disampaikan secara langsung.

"Anak-anak jangan bergantung pada AI. Jadikan AI sebagai alat untuk membantu mengembangkan ide, tetapi tetap kalian yang menyampaikan gagasan dengan hati dan mampu menginspirasi orang lain," pungkasnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
siswa Banyuwangi Pidato Inggris English Speech AI pendidikan bupati ipuk