Jangan Sayat atau Hisap Racun, Ini Pertolongan Pertama Gigitan Ular yang Benar Menurut Ahli Kesehatan

Nabella Anastasya Pratiwi • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 15:26 WIB
Kasus gigitan ular meningkat saat musim hujan. (Pexels/Gabriel Rondina)
Kasus gigitan ular meningkat saat musim hujan. (Pexels/Gabriel Rondina)

RADARBANYUWANGI.ID - Kasus gigitan ular masih menjadi ancaman kesehatan di Indonesia, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di sawah, kebun, hutan, maupun kawasan lembap. Risiko kejadian umumnya meningkat pada musim hujan, terutama sepanjang November hingga April.

Pada periode tersebut, banyak sarang ular terendam air sehingga reptil tersebut keluar mencari tempat yang lebih hangat dan kering, termasuk memasuki lingkungan permukiman warga. Kondisi ini membuat potensi pertemuan antara manusia dan ular menjadi lebih tinggi.

Meski demikian, masih banyak masyarakat yang melakukan penanganan awal secara keliru ketika terjadi gigitan ular. Cara-cara tradisional seperti menyayat luka, mengisap racun, maupun mengikat area gigitan terlalu kencang menggunakan torniket masih sering dilakukan.

Padahal, tindakan tersebut justru berisiko memperparah kondisi korban. Selain memperbesar kerusakan jaringan, metode tersebut juga dapat mempercepat penyebaran bisa ke seluruh tubuh.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menetapkan gigitan ular sebagai neglected tropical disease atau penyakit tropis terabaikan. Setiap tahun diperkirakan terdapat sekitar 5,4 juta kasus gigitan ular di seluruh dunia, dengan sekitar 2,7 juta di antaranya merupakan gigitan ular berbisa. Tidak sedikit korban kehilangan nyawa akibat keterlambatan maupun kesalahan dalam memberikan pertolongan pertama.

Dokter Ikhsanuddin Qothi dalam video edukasinya menjelaskan bahwa penanganan gigitan ular dapat berbeda sesuai jenis ular yang menggigit. Namun, prinsip utama pertolongan pertama tetap sama, yakni mencegah penyebaran bisa sebelum korban mendapatkan penanganan medis.

Ia menjelaskan bahwa bisa ular menyebar melalui pembuluh limfatik atau pembuluh getah bening. Berbeda dengan pembuluh darah, sistem limfatik sangat dipengaruhi oleh kontraksi otot.

"Bisa ular disebar melalui pembuluh limfatik, yang mana ini dipengaruhi dengan kontraksi otot. Semakin banyak otot berkontraksi, maka semakin cepat penyebarannya," jelas dr Ikhsanuddin Qothi.

Karena itu, korban disarankan untuk tetap tenang dan meminimalkan pergerakan anggota tubuh yang terkena gigitan. Semakin banyak otot bergerak, semakin cepat pula racun menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Langkah pertolongan pertama yang dianjurkan adalah melakukan imobilisasi pada bagian tubuh yang tergigit. Caranya dengan memasang benda kaku, seperti papan atau balok kayu, pada area yang terkena gigitan agar tidak banyak bergerak.

Setelah itu, bagian tersebut diikat secukupnya untuk menjaga posisi tetap stabil, bukan untuk menghentikan aliran darah seperti penggunaan torniket. Selanjutnya, korban harus segera dibawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat agar memperoleh penanganan medis sesegera mungkin.

Metode imobilisasi terbukti mampu memperlambat penyebaran bisa hingga korban mendapatkan terapi yang sesuai di rumah sakit.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Musim Hujan gigitan ular pertolongan pertama