Banyak Pelajar Menunda Tugas hingga Deadline, Ternyata Bukan Karena Malas, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Anisatul Septi Ramadhani • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 14:35 WIB
Banyak pelajar masih menunda mengerjakan tugas hingga mendekati deadline. (Pexels/Heru Dharma)
Banyak pelajar masih menunda mengerjakan tugas hingga mendekati deadline. (Pexels/Heru Dharma)

RADARBANYUWANGI.ID - Kebiasaan menunda mengerjakan tugas masih menjadi persoalan yang kerap dialami pelajar. Di balik anggapan sebagai bentuk kemalasan, prokrastinasi ternyata sering dipicu berbagai faktor, mulai dari rasa takut gagal, kesulitan memulai pekerjaan, rendahnya motivasi, hingga keinginan menyelesaikan tugas secara sempurna.

Kebiasaan tersebut dikenal sebagai prokrastinasi, yakni kecenderungan menunda pekerjaan meski seseorang menyadari penundaan itu berpotensi menimbulkan konsekuensi negatif. Dalam kehidupan pelajar, prokrastinasi sering terlihat ketika waktu yang seharusnya digunakan untuk mengerjakan tugas justru dihabiskan untuk membuka media sosial, menonton video, bermain gim, atau melakukan aktivitas lain yang terasa lebih menyenangkan.

Fenomena ini bukan hanya berdampak pada penyelesaian tugas, tetapi juga berpengaruh terhadap proses belajar. Berbagai kajian di bidang psikologi pendidikan menunjukkan prokrastinasi akademik dapat meningkatkan tekanan menjelang tenggat waktu, mengurangi kualitas hasil belajar, serta membuat pelajar kehilangan kesempatan memahami materi secara lebih mendalam apabila kebiasaan tersebut terus berulang.

Bagi sebagian pelajar, tugas yang dianggap rumit atau membosankan menjadi pemicu utama munculnya prokrastinasi. Saat dihadapkan pada pekerjaan yang terasa berat, otak cenderung mencari aktivitas lain yang memberikan kepuasan secara instan. Akibatnya, tugas utama semakin tertunda dan waktu yang tersisa untuk menyelesaikannya semakin sedikit.

Pengalaman tersebut juga pernah dirasakan Pira, seorang pelajar yang mengaku beberapa kali menunda mengerjakan tugas hingga mendekati batas waktu pengumpulan.

"Biasanya saya menunda tugas karena merasa masih punya banyak waktu. Kadang juga karena tugasnya sulit, jadi saya memilih mengerjakan hal lain terlebih dahulu. Akhirnya, ketika sudah mendekati deadline, baru merasa panik dan langsung mengerjakannya," ujarnya.

Menurut Pira, keputusan menunda tugas justru membuat dirinya harus bekerja di bawah tekanan. Situasi itu membuat waktu untuk memahami materi maupun memperbaiki hasil pekerjaan menjadi sangat terbatas.

"Kalau sudah dekat deadline biasanya jadi terburu-buru. Hasilnya juga terkadang kurang maksimal karena tidak punya banyak waktu untuk mengecek atau memperbaiki tugas," katanya.

Selain karena tugas dianggap sulit, rasa takut melakukan kesalahan juga menjadi penyebab yang tidak jarang dialami pelajar. Keinginan menghasilkan tugas yang sempurna membuat sebagian orang justru kesulitan mengambil langkah pertama.

Mereka lebih banyak memikirkan hasil akhir dibanding segera memulai proses pengerjaan. Akibatnya, waktu terus berjalan tanpa ada kemajuan berarti hingga tenggat waktu semakin dekat.

Kondisi tersebut membuat pelajar rentan mengalami stres menjelang pengumpulan tugas. Mereka harus menyelesaikan pekerjaan dalam waktu singkat sehingga proses belajar berubah menjadi sekadar mengejar deadline, bukan memahami materi yang dipelajari.

Prokrastinasi tidak hanya berpengaruh terhadap kualitas tugas yang dikumpulkan. Kebiasaan tersebut juga dapat mengurangi kesempatan pelajar untuk mencari referensi tambahan, berdiskusi dengan guru atau teman, hingga melakukan revisi apabila masih ditemukan kekurangan.

Dalam jangka panjang, kebiasaan menunda pekerjaan berpotensi membentuk pola belajar yang kurang efektif. Pelajar menjadi terbiasa bekerja di bawah tekanan dan lebih sering mengandalkan sistem kebut semalam dibanding perencanaan yang matang.

Fenomena seperti ini juga kerap ditemui di lingkungan sekolah, termasuk ketika pelajar menghadapi tugas proyek, ujian, maupun berbagai bentuk penilaian yang memiliki tenggat waktu tertentu.

Mengurangi prokrastinasi tidak harus dilakukan dengan perubahan besar sekaligus. Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah membagi tugas menjadi beberapa bagian kecil sehingga pekerjaan terasa lebih ringan dan mudah diselesaikan secara bertahap.

Pelajar juga dapat menyusun daftar prioritas berdasarkan tenggat waktu. Tugas yang harus segera dikumpulkan sebaiknya menjadi prioritas utama, sementara pekerjaan lain dapat dijadwalkan setelahnya. Pengelolaan waktu yang baik membantu mengurangi penumpukan tugas dalam satu waktu.

Selain itu, mengurangi gangguan dari ponsel dan media sosial juga menjadi langkah penting. Menentukan jadwal khusus untuk belajar serta waktu tersendiri untuk beristirahat dapat membantu menjaga konsentrasi selama mengerjakan tugas.

Pira mengaku mulai mengubah kebiasaannya dengan tidak lagi menunggu hingga batas waktu pengumpulan semakin dekat.

"Sekarang saya mencoba mengerjakan tugas dari jauh-jauh hari. Tidak harus langsung selesai semuanya, yang penting mulai dulu. Kalau sudah mulai, biasanya lebih mudah untuk melanjutkannya," ungkapnya.

Menurutnya, perubahan kecil tersebut membuat dirinya tidak lagi terlalu panik ketika menghadapi tugas sekolah. Pekerjaan dapat diselesaikan secara bertahap sehingga hasilnya lebih maksimal dibanding harus dikerjakan dalam waktu singkat.

Editor : Lugas Rumpakaadi
menunda tugas Pelajar