AI Makin Populer di Kalangan Pelajar, Benarkah Bisa Mengurangi Kemampuan Berpikir Kritis?

Anisatul Septi Ramadhani • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 14:26 WIB
Artificial Intelligence (AI) semakin banyak dimanfaatkan pelajar untuk belajar dan mengerjakan tugas. (Rahma untuk Radar Banyuwangi)
Artificial Intelligence (AI) semakin banyak dimanfaatkan pelajar untuk belajar dan mengerjakan tugas. (Rahma untuk Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Artificial Intelligence (AI) semakin akrab dalam kehidupan pelajar Indonesia. Mulai dari mencari referensi, memahami materi pelajaran, menyusun kerangka tulisan, hingga berdiskusi tentang suatu topik, semuanya kini dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik. Di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering diperbincangkan: apakah AI membantu meningkatkan kualitas belajar atau justru membuat pelajar semakin bergantung dan enggan berpikir kritis?

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Bagi dunia pendidikan, AI membuka peluang baru untuk menciptakan proses belajar yang lebih fleksibel, personal, dan efisien. Namun, para ahli mengingatkan bahwa teknologi tersebut tetap harus digunakan secara bijak agar tidak mengurangi kemampuan berpikir manusia.

Pemanfaatan AI kini tidak lagi terbatas bagi kalangan profesional. Pelajar mulai memanfaatkan teknologi ini untuk memahami materi yang sulit, memperoleh contoh soal, mencari ide penulisan, menerjemahkan bahasa asing, hingga berdiskusi mengenai berbagai konsep pembelajaran.

Kemampuan AI menyajikan informasi secara cepat membuat proses belajar menjadi lebih praktis. Siswa dapat memperoleh penjelasan yang disesuaikan dengan tingkat pemahamannya tanpa harus menunggu proses pencarian informasi yang panjang.

Dalam kondisi tersebut, AI berpotensi menjadi asisten belajar yang membantu peserta didik memperluas wawasan sekaligus meningkatkan efektivitas belajar mandiri.

Meski menawarkan banyak manfaat, penggunaan AI juga menyimpan tantangan.

Masalah muncul ketika pelajar sepenuhnya menyerahkan proses pengerjaan tugas kepada AI tanpa berusaha memahami materi yang dipelajari. Kebiasaan tersebut dapat mengurangi kesempatan untuk melatih kemampuan menganalisis persoalan, menyusun argumen, memecahkan masalah, serta mengembangkan pola pikir kritis.

AI memang mampu menghasilkan jawaban dengan cepat, tetapi teknologi tersebut tidak dapat menggantikan proses belajar yang melibatkan pemahaman, refleksi, dan penalaran manusia.

Karena itu, para pendidik menilai AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dampak AI terhadap kemampuan berpikir kritis tidak selalu bersifat negatif.

Penelitian yang diterbitkan dalam Perspektif Ilmu Pendidikan pada 2025 menemukan bahwa penggunaan AI secara tepat mampu memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa AI justru dapat memperkuat proses pembelajaran apabila digunakan untuk mengeksplorasi ide, memahami konsep, maupun membandingkan berbagai sudut pandang, bukan sekadar menghasilkan jawaban instan.

Artinya, manfaat AI sangat dipengaruhi oleh cara pengguna memanfaatkannya dalam proses belajar.

Selain mampu menggunakan AI, pelajar juga dituntut memiliki literasi AI.

Kemampuan tersebut mencakup keterampilan mengevaluasi informasi, memeriksa keakuratan jawaban, memahami keterbatasan teknologi, hingga menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab.

Laporan penelitian ETS pada 2025 menegaskan bahwa penguasaan literasi AI menjadi kompetensi penting bagi peserta didik di era digital. Pelajar tidak cukup hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga harus memahami kapan AI layak digunakan dan kapan keputusan tetap harus diambil melalui penalaran manusia.

Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis justru menjadi semakin penting di tengah perkembangan AI yang semakin pesat.

UNESCO juga menyoroti perkembangan AI sebagai peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan.

Di satu sisi, teknologi ini dapat memperluas akses terhadap pembelajaran yang lebih personal, adaptif, dan inklusif. Di sisi lain, penggunaan AI juga memunculkan persoalan mengenai etika, keamanan data, perlindungan privasi, hingga kesenjangan akses teknologi.

Karena itu, penerapan AI dalam pendidikan harus tetap berorientasi pada manusia. Teknologi berfungsi mendukung proses belajar, sementara keputusan, penilaian, dan pemikiran tetap berada di tangan pengguna.

Pelajar dapat memperoleh manfaat maksimal dari AI apabila menggunakannya sebagai mitra belajar.

Misalnya, saat mengerjakan tugas, AI dapat dimanfaatkan untuk mencari referensi awal, memahami konsep yang belum dikuasai, memperoleh alternatif sudut pandang, maupun menyusun kerangka pembahasan.

Setelah itu, seluruh informasi perlu diverifikasi menggunakan sumber lain yang kredibel sebelum dikembangkan kembali dengan pemikiran dan bahasa sendiri.

Pendekatan tersebut tidak hanya menghasilkan tugas yang lebih baik, tetapi juga melatih kemampuan menganalisis informasi, membandingkan referensi, serta menyusun kesimpulan secara mandiri.

Editor : Lugas Rumpakaadi
artificial intelligence