Contoh Khutbah Jumat: Safar Bukan Bulan Sial

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 20:00 WIB
Ilustrasi saat Khotib menyampaikan materi khutbah Jumat.
Ilustrasi saat Khotib menyampaikan materi khutbah Jumat.

RADAR BANYUWANGI - Berikut contoh materi khutbah Jumat lengkap bertema Bulan Safar dengan pendekatan yang sejalan dengan tradisi dan pandangan keagamaan NU/Ahlussunnah wal Jamaah: menegaskan bahwa Safar bukan bulan sial, menguatkan iman kepada qadha dan qadar, serta mengajak jamaah memperbanyak amal saleh, ikhtiar, doa, dan tawakal. Tema ini juga selaras dengan materi khutbah Safar yang dimuat NU Online pada Juli 2026.


CONTOH KHUTBAH JUMAT BULAN SAFAR

Safar Bukan Bulan Sial: Menguatkan Iman kepada Qadha dan Qadar serta Memperbanyak Amal Saleh

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزَّمَانَ وَالْمَكَانَ، وَجَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوْرًا. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَهَادِيًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, hanya takwa yang menjadi bekal terbaik bagi kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Saat ini kita berada di bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah. Di tengah masyarakat, masih ada sebagian anggapan yang mengaitkan bulan Safar dengan kesialan, bencana, atau berbagai keburukan.

Padahal, Islam mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada satu bulan pun yang secara zat membawa kesialan. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT. Baik buruknya kehidupan manusia tidak ditentukan oleh nama bulan, hari, angka, atau pertanda tertentu, melainkan berada dalam ketetapan dan kehendak Allah SWT.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

"Katakanlah: Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal."

(QS At-Taubah: 51)

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak menggantungkan nasib kepada bulan, hari, tempat, angka, maupun pertanda tertentu.

Seorang mukmin harus meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan ketetapan Allah SWT. Namun, keyakinan kepada takdir tidak berarti kita boleh meninggalkan ikhtiar.

Kita tetap wajib berusaha, berdoa, berhati-hati, dan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan oleh syariat.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa tidak ada keyakinan tentang kesialan pada bulan Safar.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ

"Tidak ada penyakit menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial karena pertanda tertentu), tidak ada hamah, dan tidak ada Safar (yang diyakini membawa kesialan)."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa seorang Muslim tidak boleh meyakini suatu waktu atau bulan sebagai sumber kesialan secara mutlak.

Bulan Safar bukanlah bulan yang harus ditakuti. Safar adalah bagian dari waktu yang Allah berikan kepada manusia untuk beribadah dan memperbaiki diri.

Justru yang harus kita khawatirkan bukanlah datangnya bulan Safar, melainkan jika waktu terus berjalan sementara amal kita tidak bertambah.

Yang harus kita takutkan bukanlah bulan Safar, tetapi hati yang semakin jauh dari Allah.

Yang harus kita hindari bukanlah hari tertentu, tetapi dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan setiap hari.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Allah SWT telah mengingatkan kita tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."

(QS Al-'Ashr: 1-3)

Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa waktu adalah amanah. Setiap hari yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Maka, marilah kita menjadikan bulan Safar sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas iman dan amal kita.

Mari kita isi hari-hari kita dengan shalat yang lebih baik, membaca Al-Qur'an, memperbanyak dzikir, bersedekah, membantu sesama, menjaga silaturahmi, menghormati tetangga, dan memperbanyak amal kebajikan.

Jangan sampai kita sibuk mencari hari yang dianggap membawa keberuntungan, tetapi lupa memperbaiki amal yang menjadi sebab datangnya keberkahan.

Jangan sampai kita takut kepada bulan Safar, tetapi tidak takut kepada dosa.

Jangan sampai kita menghindari bepergian karena menganggap Safar sebagai bulan sial, tetapi kita justru berani melakukan kemaksiatan di bulan-bulan lainnya.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Keimanan kepada qadha dan qadar harus melahirkan sikap tawakal yang benar.

Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah kita melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh.

Ketika sakit, kita berobat dan berdoa.

Ketika menghadapi kesulitan ekonomi, kita bekerja dengan halal dan memohon pertolongan Allah.

Ketika menghadapi musibah, kita bersabar dan mengambil pelajaran.

Ketika mendapatkan nikmat, kita bersyukur dan tidak sombong.

Inilah sikap seorang mukmin dalam menghadapi perjalanan kehidupan.

Rasulullah SAW bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

"Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya."

(HR. Muslim)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita jadikan bulan Safar sebagai momentum untuk memperkuat iman, memperbaiki hubungan kita dengan Allah, memperbanyak amal saleh, dan mempererat hubungan dengan sesama manusia.

Jangan percaya bahwa bulan Safar membawa kesialan. Jangan pula menyandarkan nasib kepada ramalan dan pertanda yang tidak memiliki dasar dalam syariat.

Percayalah kepada Allah.

Berikhtiarlah dengan sungguh-sungguh.

Berdoalah dengan penuh keyakinan.

Bersabarlah ketika menghadapi ujian.

Bersyukurlah ketika mendapatkan nikmat.

Dan bertawakallah kepada Allah dalam setiap keadaan.

Semoga Allah SWT menjadikan bulan Safar ini sebagai bulan yang penuh keberkahan, keselamatan, kesehatan, dan kebaikan bagi kita semua.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا، وَأَصْلِحْ مُجْتَمَعَنَا وَبِلَادَنَا

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَعِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا وَاسِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَهْرِ صَفَرَ، وَاجْعَلْهُ شَهْرَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ وَأَمْنٍ وَسَلَامَةٍ وَعَافِيَةٍ

اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ، وَالْفِتَنَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

اَللَّهُمَّ احْفَظْنَا مِنَ الْأَوْهَامِ وَالْخُرَافَاتِ، وَاحْفَظْ قُلُوْبَنَا مِنَ الشِّرْكِ وَالطِّيَرَةِ وَسُوْءِ الظَّنِّ بِكَ

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَتَوَكَّلُوْنَ عَلَيْكَ، وَيَرْضَوْنَ بِقَضَائِكَ، وَيَصْبِرُوْنَ عَلَى بَلَائِكَ، وَيَشْكُرُوْنَ عَلَى نَعْمَائِكَ

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوْبًا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَنُفُوْسًا رَاضِيَةً بِقَضَائِكَ، وَأَلْسِنَةً شَاكِرَةً لِنِعَمِكَ

اَللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَا، وَاحْفَظْ أَهْلَهَا وَشَعْبَهَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ

اَللَّهُمَّ وَلِّ أُمُوْرَنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُوَلِّ أُمُوْرَنَا شِرَارَنَا

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيْهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِمُعَلِّمِيْنَا، وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ


Catatan penyusunan: Materi ini mengambil garis besar yang sejalan dengan penjelasan NU Online bahwa Safar bukan bulan kesialan dan dapat dijadikan momentum memperkuat iman kepada qadha dan qadar, memperbanyak amal saleh, serta meninggalkan keyakinan takhayul tentang kesialan waktu tertentu.

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : NU Online
Ahlussunnah wal Jamaah bulan sial Qadha dan Qadar bulan Safar contoh khutbah jumat