RADAR BANYUWANGI – Persaingan Grand Final English Speech Contest bertema "Tourism and Culture" tingkat SMP/MTs se-Banyuwangi berlangsung ketat di Aula MAN 1 Banyuwangi, Rabu (29/7). Sebanyak 20 finalis terbaik dari total 87 peserta tampil memukau dengan kemampuan berbahasa Inggris yang impresif. Namun di balik sengitnya kompetisi, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan pesan yang menjadi sorotan: kecerdasan buatan (AI) tidak akan pernah mampu menggantikan keberanian siswa berbicara di depan publik.
Para finalis menyampaikan pidato bertema pariwisata dan budaya Banyuwangi di hadapan tiga dewan juri serta ratusan suporter yang memenuhi aula. Kemampuan berbahasa Inggris, penguasaan materi, gestur, hingga kepercayaan diri menjadi aspek penilaian dalam menentukan pembicara terbaik.
Grand final turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian, Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi Chaironi Hidayat, Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi, serta para kepala sekolah dan guru pendamping.
Dalam sambutannya, Ipuk menegaskan bahwa kompetisi tersebut bukanlah garis akhir perjuangan para peserta. Menurutnya, lomba menjadi pijakan awal untuk mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus membangun karakter.
"Kompetisi ini bukan akhir, tetapi jalan kalian untuk menapaki perjalanan selanjutnya," ujarnya.
Ipuk menilai tantangan generasi muda saat ini telah berubah. Di era digital, kemampuan akademik tetap penting, tetapi keterampilan berkomunikasi dan karakter menjadi bekal yang tak kalah menentukan.
"Ini adalah era ketika kemampuan paling berharga bukan sekadar mampu menjawab soal, tetapi bagaimana kita mampu berkomunikasi dengan baik dan memiliki karakter yang baik," katanya.
Ia menambahkan, ajang English Speech Contest menjadi ruang yang efektif untuk melatih keberanian, kemampuan berbicara di depan publik, sekaligus membangun rasa percaya diri para pelajar.
Menurut Ipuk, perkembangan teknologi kecerdasan buatan memang semakin pesat. AI bahkan mampu menghasilkan berbagai informasi dalam banyak bahasa. Namun, ada satu kemampuan manusia yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
"Sekarang AI bisa membuat semuanya, mulai dari berbagai bahasa. Tetapi ada satu yang tidak bisa dilakukan AI, yaitu menciptakan keberanian anak-anak kita untuk berbicara di depan publik dan menyampaikan gagasannya," tegasnya.
Kompetisi ini menghadirkan tiga juri dengan latar belakang berbeda, yakni Chris Tirris, guru asal Australia; Aekanu Hariyono, budayawan sekaligus mantan Kepala Bidang Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi; serta Tasya Sams El Diny, Magister Sastra Arab lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi menjelaskan, sebanyak 20 finalis yang tampil merupakan hasil seleksi ketat dari 87 peserta SMP dan MTs se-Banyuwangi.
"Ada 20 finalis yang siap bertanding hari ini, terdiri atas delapan siswa MTs dan 12 siswa SMP se-Banyuwangi. Mereka akan saling berhadapan untuk menjadi pembicara bahasa Inggris terbaik," ujarnya.
Samsudin mengungkapkan, penyelenggaraan English Speech Contest tingkat SMP/MTs merupakan tindak lanjut atas permintaan Bupati Banyuwangi setelah kompetisi serupa sukses digelar pada jenjang pendidikan lainnya.
"Event ini merupakan tindak lanjut dari permintaan Ibu Bupati. Setelah kami sukses menggelar lomba yang sama beberapa waktu lalu, beliau secara khusus meminta kami menyelenggarakannya untuk tingkat SMP dan MTs," katanya.
Setelah melalui proses penilaian yang berlangsung ketat, dewan juri menetapkan Laskhar Adelard Nawwafi Fahriyanto dari MTsN 1 Banyuwangi sebagai Juara I. Posisi Juara II diraih Cinta Putri Hendrawan dari SMPN 2 Banyuwangi, sedangkan Juara III diraih Ilman Rasyid Abdillah dari MTsN 3 Banyuwangi.
Sementara itu, Kayyasa Attamimi dari SMP Al Irsyad meraih Juara Harapan I, sedangkan Juara Harapan II diraih Stacy Keanna Sugiarto dari SMPK Aletheia Genteng.
Ajang English Speech Contest ini diharapkan menjadi wadah lahirnya generasi muda Banyuwangi yang tidak hanya unggul dalam kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga memiliki karakter kuat, keberanian menyampaikan gagasan, serta siap bersaing di tingkat nasional maupun global. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin