RADARBANYUWANGI.ID - Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap pola hidup masyarakat, terutama Generasi Z atau Gen Z. Generasi yang lahir pada rentang 1997 hingga 2012 ini dikenal sebagai kelompok yang tumbuh bersama kemajuan digital sehingga memiliki gaya hidup yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Salah satu fenomena yang belakangan semakin populer di kalangan Gen Z adalah istilah healing. Di media sosial, kata tersebut kerap digunakan untuk menggambarkan aktivitas melepas penat melalui liburan, menikmati waktu sendiri (me time), atau menjauh sejenak dari rutinitas yang melelahkan.
Secara harfiah, healing berasal dari bahasa Inggris yang berarti penyembuhan atau pemulihan. Dalam konteks medis maupun psikologis, istilah ini merujuk pada proses pemulihan kondisi fisik, emosional, maupun mental agar kembali sehat. Namun, seiring berkembangnya penggunaan di media sosial, makna tersebut bergeser menjadi aktivitas mencari hiburan atau kesenangan sebagai cara mengurangi stres.
Fenomena ini muncul seiring meningkatnya tekanan yang dihadapi Gen Z. Tuntutan akademik, persoalan finansial, tekanan sosial, hingga berbagai ekspektasi di lingkungan sekitar mendorong banyak anak muda mencari cara untuk menenangkan diri. Tidak sedikit yang menganggap bepergian, berbelanja, atau menikmati hiburan sebagai bentuk healing.
Padahal, para ahli psikologi menilai pemahaman tersebut kurang tepat. Secara ilmiah, healing merupakan proses penyembuhan kondisi mental dan emosional akibat luka batin, stres, maupun trauma. Proses tersebut bukan sekadar mengalihkan perhatian dari masalah, melainkan keberanian menghadapi emosi, menerima kondisi diri, serta membangun ketahanan mental agar mampu bangkit dari tekanan.
Kesalahpahaman terhadap makna healing dikhawatirkan dapat memunculkan dampak negatif apabila terus dipraktikkan tanpa memahami tujuan sebenarnya. Ketika aktivitas mencari hiburan dijadikan pelarian dari persoalan hidup secara berulang, seseorang berisiko mengabaikan akar masalah yang seharusnya diselesaikan.
Selain itu, kebiasaan mengaitkan healing dengan gaya hidup konsumtif juga dapat menimbulkan persoalan baru. Pengeluaran yang berlebihan demi memenuhi keinginan sesaat berpotensi memicu tekanan finansial pada masa mendatang. Kondisi tersebut justru dapat memperparah kecemasan yang sebelumnya ingin dihindari.
Psikolog menyarankan agar proses healing dilakukan melalui langkah yang lebih mendasar. Proses tersebut dapat diawali dengan mengenali akar persoalan, melakukan regulasi emosi secara mandiri, mengubah pola pikir menjadi lebih positif, menerapkan pola hidup sehat, hingga berkonsultasi dengan tenaga profesional apabila diperlukan.
Editor : Lugas Rumpakaadi