Mengapa Ilmuwan Melepas Miliaran Nyamuk? Ini Penjelasan Sains di Balik Teknologi Wolbachia

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 14:07 WIB
Teknologi Wolbachia menghadirkan cara baru mengendalikan demam berdarah. (Pexels/Garuda)
Teknologi Wolbachia menghadirkan cara baru mengendalikan demam berdarah. (Pexels/Garuda)

RADARBANYUWANGI.ID - Selama puluhan tahun masyarakat Indonesia, termasuk warga Banyuwangi, akrab dengan fogging atau pengasapan ketika musim pancaroba tiba. Asap putih pekat dan aroma khas insektisida menjadi bagian dari upaya menekan populasi nyamuk Aedes aegypti, penyebar demam berdarah dengue (DBD).

Namun, perkembangan ilmu pengetahuan menghadirkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih memusnahkan nyamuk dengan insektisida, para ilmuwan justru mengembangbiakkan lalu melepaskan miliaran nyamuk ke alam sebagai bagian dari strategi pengendalian penyakit.

Pendekatan tersebut diulas dalam salah satu episode kanal YouTube sains internasional AsapSCIENCE. Dalam tayangan itu dijelaskan bahwa sebuah fasilitas produksi di Brasil menyiapkan pelepasan hingga lima miliar nyamuk sebagai bagian dari program pengendalian penyakit berbasis teknologi Wolbachia.

Sekilas, langkah tersebut terdengar bertolak belakang dengan upaya pemberantasan nyamuk yang selama ini dilakukan. Mengingat, nyamuk dikenal sebagai salah satu hewan paling mematikan di dunia karena menjadi perantara penyebaran berbagai penyakit, termasuk dengue, Zika, chikungunya, hingga malaria.

Meski demikian, menghilangkan seluruh populasi nyamuk bukanlah solusi yang realistis. Karena itu, para peneliti mengembangkan pendekatan biologis dengan memanfaatkan bakteri alami bernama Wolbachia.

Bakteri ini dimasukkan ke dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti. Keberadaan Wolbachia membuat virus seperti dengue dan Zika sulit berkembang biak di dalam tubuh nyamuk sehingga peluang penularannya kepada manusia menurun secara signifikan.

Keunggulan lain dari metode ini adalah sifatnya yang berkelanjutan. Ketika nyamuk pembawa Wolbachia kawin dengan nyamuk liar, keturunannya juga akan membawa bakteri tersebut. Dengan demikian, perlindungan terhadap penyebaran virus dapat bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Efektivitas metode ini telah dibuktikan di berbagai negara. Data yang dipaparkan AsapSCIENCE menunjukkan wilayah Aburra Valley, Kolombia, mencatat penurunan kasus demam berdarah hingga 95–97 persen pada akhir 2023, sekaligus menjadi angka terendah dalam sekitar dua dekade terakhir.

Keberhasilan serupa juga tercatat di Indonesia. Salah satu penelitian menunjukkan intervensi menggunakan Wolbachia mampu menurunkan kasus dengue hingga 77,1 persen dibandingkan wilayah yang tidak menerapkan teknologi tersebut.

Selain efektif, metode ini dinilai aman bagi manusia. Sekitar separuh spesies serangga di alam secara alami telah membawa bakteri Wolbachia tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia maupun lingkungan.

Teknologi berbasis hayati tersebut juga mendapat dukungan dari kalangan akademisi Indonesia. Peneliti Utama World Mosquito Program (WMP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Adi Utarini, menilai Wolbachia menjadi pelengkap penting dalam strategi pengendalian DBD.

Dalam wawancara dengan Harian Kompas pada 21 Desember 2020, Adi Utarini menyatakan bahwa selama lebih dari lima dekade berbagai upaya pengendalian DBD telah menghabiskan banyak sumber daya. Menurutnya, teknologi Wolbachia menjadi harapan baru yang dapat memperkuat program pengendalian demam berdarah yang telah berjalan.

Karena itu, apabila masyarakat suatu saat menjumpai pelepasan nyamuk bertanda khusus di lingkungan tempat tinggalnya, tidak perlu terburu-buru menganggapnya sebagai ancaman. Nyamuk tersebut justru menjadi bagian dari strategi ilmiah untuk mengurangi penyebaran virus dengue dan melindungi masyarakat dari risiko demam berdarah.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Harian Kompas
Wolbachia