RADAR BANYUWANGI — Tepuk tangan dan rasa bangga pecah di halaman SMAN 1 Glagah, Senin (27/7). Yusril Ihsan Adinatanegara, siswa kelas XI yang baru kembali dari Shanghai, Tiongkok, mendapat sambutan istimewa setelah mengharumkan nama Indonesia di panggung matematika dunia.
Yusril merupakan salah satu dari enam delegasi Indonesia yang berlaga dalam International Mathematical Olympiad (IMO) ke-67. Dalam kompetisi bergengsi tersebut, siswa SMAN 1 Glagah itu berhasil membawa pulang medali perunggu.
Prestasi tersebut diraih Yusril setelah melewati rangkaian seleksi panjang dan kompetisi internasional yang mempertemukan ratusan talenta matematika terbaik dari berbagai negara.
Penyambutan Yusril dilakukan dalam upacara bendera yang diikuti keluarga besar SMAN 1 Glagah. Momen tersebut menjadi bentuk apresiasi sekolah atas capaian siswanya sekaligus menjadi suntikan motivasi bagi pelajar lain untuk berani bermimpi lebih tinggi.
Kepala SMAN 1 Glagah Abdullah mengatakan, prestasi Yusril menjadi kebanggaan tidak hanya bagi sekolah, tetapi juga bagi Banyuwangi.
“Prestasi Yusril menjadi kebanggaan sekolah dan Banyuwangi. Semoga menjadi inspirasi bagi siswa lain untuk terus belajar, berjuang, dan mengharumkan nama Indonesia,” ujarnya.
Tembus Seleksi Berjenjang hingga IMO 2026
Yusril meraih medali perunggu dalam IMO ke-67 yang berlangsung pada 10–20 Juli 2026. Kompetisi tersebut diikuti sekitar 680 peserta yang mewakili 120 negara dan wilayah.
Perjalanan Yusril menuju panggung olimpiade matematika dunia tidak berlangsung singkat. Ia menjadi satu dari enam delegasi Indonesia yang berhasil lolos melalui proses seleksi berjenjang, mulai Olimpiade Sains Nasional (OSN) hingga mengikuti Pelatihan Nasional (Pelatnas).
Sebelum berlaga di IMO 2026, Yusril juga lebih dulu mencatatkan prestasi di ajang International Mathematics Summer Camp (IMSC) 2026 di Beijing. Dalam kompetisi tersebut, ia berhasil meraih medali perunggu dari persaingan yang diikuti peserta dari lebih dari 40 negara.
Di IMO 2026, kontingen Indonesia berhasil membawa pulang empat medali perunggu dan satu Honorable Mention.
Bagi Yusril, pencapaian tersebut menjadi pengalaman sekaligus kebanggaan tersendiri karena dapat membawa nama Indonesia dalam kompetisi matematika tingkat dunia.
“Alhamdulillah saya bersyukur mendapat kesempatan mewakili Indonesia. Terima kasih kepada sekolah, guru, keluarga, dan masyarakat Banyuwangi yang terus memberikan doa serta dukungan,” kata Yusril.
Bukti Pelajar Banyuwangi Punya Daya Saing Global
Kasubag Tata Usaha Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi Setyo Agung turut mengapresiasi prestasi yang ditorehkan Yusril.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pelajar Banyuwangi memiliki kemampuan dan daya saing untuk berkompetisi di level internasional.
“Prestasi ini menjadi kebanggaan dunia pendidikan Jawa Timur, khususnya Banyuwangi. Semoga menjadi inspirasi bagi siswa lain untuk terus berprestasi,” tuturnya.
Bagi SMAN 1 Glagah, pencapaian Yusril menjadi bagian dari perjalanan pendidikan yang tidak hanya mendorong siswa unggul secara akademik, tetapi juga berani membawa nama sekolah dan daerah ke panggung global.
Namun, upacara bendera tersebut tidak hanya menjadi panggung penghargaan bagi Yusril. SMAN 1 Glagah juga memanfaatkan momentum itu untuk memperkenalkan inovasi baru di lingkungan sekolah, yakni Ganesha Coffee Corner.
Ganesha Coffee Corner, SIKAP Berbuah Produk
Ganesha Coffee Corner merupakan pengembangan Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP). Program tersebut dirancang agar proses pembelajaran tidak berhenti pada kegiatan budi daya tanaman, tetapi berlanjut hingga pengolahan hasil menjadi produk bernilai tambah.
Kepala SMAN 1 Glagah Abdullah menjelaskan, sekolah ingin mengembangkan potensi hasil pertanian dan perkebunan agar dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran siswa.
“Kami ingin hasil SIKAP tidak berhenti pada penanaman. Kopi hasil kerja sama dengan pihak perkebunan serta tanaman obat keluarga kami olah menjadi minuman sehat. Ganesha Coffee Corner juga menjadi ruang belajar yang nyaman bagi siswa,” jelasnya.
Ganesha Coffee Corner tidak sekadar menjadi tempat menikmati minuman. Ruang tersebut diharapkan menjadi laboratorium pembelajaran yang mempertemukan berbagai aspek, mulai dari ketahanan pangan, kreativitas, pengolahan produk, hingga kewirausahaan.
Setyo Agung menilai inovasi tersebut menjadi contoh bagaimana sekolah dapat mengintegrasikan pendidikan dengan potensi lingkungan dan pengembangan jiwa kewirausahaan siswa.
“Program SIKAP merupakan inovasi yang sangat baik karena mengajarkan siswa mengelola potensi lingkungan menjadi produk bernilai tambah. Model seperti ini layak dikembangkan di sekolah-sekolah lain,” pungkasnya.
Dua cerita yang hadir dalam satu upacara itu seolah menjadi gambaran wajah pendidikan SMAN 1 Glagah. Di satu sisi, Yusril menunjukkan bahwa siswa dari Banyuwangi mampu menembus panggung kompetisi matematika dunia. Di sisi lain, sekolah terus mendorong pembelajaran yang dekat dengan potensi lingkungan dan kehidupan nyata.
Dari medali perunggu IMO hingga secangkir kopi hasil olahan program sekolah, SMAN 1 Glagah ingin menunjukkan bahwa prestasi dan inovasi dapat tumbuh beriringan. Satu mengukir nama di panggung internasional, sementara lainnya menyiapkan generasi yang kreatif, mandiri, dan mampu melihat peluang dari lingkungan sekitar. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin