Laser Jadi Solusi Penghapusan Tato, Ini Tiga Tahap Ilmiah hingga Tinta Keluar dari Tubuh

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 14:02 WIB
Sekitar 25 persen pemilik tato akhirnya menyesal dan memilih menghapusnya. (JawaPos)
Sekitar 25 persen pemilik tato akhirnya menyesal dan memilih menghapusnya. (JawaPos)

RADARBANYUWANGI.ID - Tidak semua orang yang membuat tato merasa puas selamanya. Seiring berjalannya waktu, sebagian pemilik tato justru memilih menghapus gambar permanen tersebut karena berbagai alasan, mulai dari perubahan gaya hidup hingga kebutuhan pekerjaan.

Data yang dikutip dari informasi medis menunjukkan sekitar 25 persen pemilik tato pada akhirnya menyesal dan memutuskan menjalani prosedur penghapusan tato.

Secara biologis, tato memang dirancang untuk bertahan dalam waktu sangat lama. Hal itu terjadi karena partikel tinta yang disuntikkan ke lapisan kulit memiliki ukuran terlalu besar untuk dihancurkan oleh sistem imun tubuh.

Akibatnya, partikel tinta terperangkap di dalam jaringan kulit sehingga warna tato tetap terlihat selama bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.

Perkembangan teknologi kedokteran kemudian menghadirkan terapi laser sebagai solusi untuk membantu menghilangkan tato secara bertahap. Berbeda dengan metode konvensional yang berisiko merusak jaringan kulit, teknologi laser modern bekerja secara lebih presisi dengan menargetkan partikel tinta.

Proses penghapusan tato menggunakan laser berlangsung melalui tiga tahapan ilmiah.

Tahap pertama adalah penetrasi tepat sasaran. Laser dengan durasi denyut sangat singkat, yakni dalam skala pikosekon atau sepertriliun detik, mampu menembus kulit dan mengarahkan energinya langsung ke partikel tinta. Teknologi ini dirancang agar sel-sel kulit di sekitarnya tetap terlindungi.

Tahap berikutnya adalah ledakan mikro pada partikel tinta. Saat terkena energi laser, partikel tinta menyerap energi dalam jumlah besar sehingga suhunya meningkat sangat cepat hingga sekitar 600 derajat Celsius.

Peningkatan suhu yang terjadi dalam waktu sangat singkat tersebut menyebabkan partikel tinta memuai, kemudian pecah menjadi serpihan-serpihan mikroskopis yang jauh lebih kecil dibandingkan ukuran semula.

Setelah tinta terfragmentasi, tubuh memasuki tahap ketiga, yaitu proses pembersihan alami. Sel imun yang dikenal sebagai makrofag akan mengenali serpihan tinta tersebut sebagai partikel asing.

Makrofag kemudian menelan serpihan tinta dan membawanya keluar melalui mekanisme alami tubuh. Karena proses ini berlangsung bertahap, warna tato akan memudar sedikit demi sedikit setelah setiap sesi terapi.

Penghapusan tato tidak dapat dilakukan hanya dalam satu kali tindakan. Secara umum, pasien memerlukan sekitar lima hingga dua belas sesi perawatan agar tinta memudar secara optimal. Jumlah sesi dipengaruhi berbagai faktor, seperti warna tinta, kedalaman tato, ukuran gambar, hingga respons biologis masing-masing individu.

Efektivitas teknologi laser dalam menghilangkan tato tanpa merusak jaringan kulit telah dijelaskan oleh pakar dermatologi dan bedah laser, Dr. Eric F. Bernstein, M.D.

Dalam jurnal Seminars in Plastic Surgery yang diterbitkan di New York, Amerika Serikat, pada Agustus 2007, Bernstein menjelaskan bahwa prinsip selective photothermolysis menjadi dasar utama penghapusan tato modern.

"Penemuan photothermolysis selektif memungkinkan kita menghancurkan struktur target tanpa merusak kulit di sekitarnya dan meninggalkan bekas luka. Durasi denyut skala nanosekon menjadi kunci utama penghapusan tato modern," tulis Bernstein dalam publikasi tersebut.

Editor : Lugas Rumpakaadi
teknologi laser dermatologi Penghapusan Tato