RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah meningkatnya penggunaan gawai pada anak usia dini, pemerintah bersama berbagai elemen masyarakat mulai memperkuat gerakan menghidupkan kembali permainan tradisional. Beragam permainan seperti egrang, engklek, gobak sodor, hingga permainan rakyat lainnya didorong menjadi aktivitas yang lebih sering dimainkan anak, baik di sekolah maupun di ruang publik.
Langkah tersebut bukan sekadar menghidupkan kembali budaya permainan tempo dulu. Gerakan ini menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak negatif penggunaan gawai yang semakin masif di kalangan anak-anak.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 33 hingga 40 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan gawai secara aktif. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran karena penggunaan layar dalam durasi berlebihan berpotensi memengaruhi kesehatan fisik, menurunkan kemampuan berkonsentrasi, hingga mengganggu perkembangan kecerdasan emosional anak.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) memperkuat kolaborasi untuk menghadirkan kembali permainan tradisional di lingkungan sekolah maupun ruang publik. Kebijakan tersebut juga disertai ajakan membatasi penggunaan gawai agar anak memiliki lebih banyak kesempatan berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya.
Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kemendikdasmen, Kurniawan, menegaskan bahwa pengalaman belajar terbaik bagi anak diperoleh melalui aktivitas bermain dan interaksi secara langsung.
"Permainan langsung dan interaksi antarsesama adalah cara terbaik anak belajar. Pembatasan gawai di sekolah bukan larangan mutlak, melainkan upaya memastikan anak lebih banyak berinteraksi nyata, bukan melalui layar," ujarnya sebagaimana dikutip dari Kompas.com, Jumat (24/7/2026).
Senada dengan itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi menilai permainan tradisional memiliki manfaat yang jauh lebih luas dibanding sekadar sarana hiburan. Menurutnya, aktivitas tersebut mampu melatih kemampuan fisik, membangun ketahanan mental, sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter melalui interaksi sosial yang berlangsung secara alami.
Meski demikian, keberhasilan gerakan tersebut tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah maupun penyediaan fasilitas bermain. Peran keluarga tetap menjadi faktor penentu dalam membentuk kebiasaan anak menggunakan gawai secara bijak.
Editor : Lugas Rumpakaadi