Fenomena Bediding Kembali Terasa, Ini Penyebab Suhu Malam di Jawa Lebih Dingin Menurut BMKG

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 12:34 WIB
Fenomena bediding membuat suhu malam di Pulau Jawa terasa jauh lebih dingin selama musim kemarau. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Fenomena bediding membuat suhu malam di Pulau Jawa terasa jauh lebih dingin selama musim kemarau. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Beberapa hari terakhir masyarakat di Pulau Jawa dan sekitarnya merasakan suhu udara yang jauh lebih dingin dibandingkan biasanya, terutama saat malam hingga menjelang dini hari. Kondisi tersebut memicu banyak keluhan di media sosial karena udara dingin terasa menusuk meski telah menggunakan pakaian tebal maupun selimut berlapis.

Di kalangan masyarakat Jawa, fenomena penurunan suhu udara pada musim kemarau ini dikenal dengan istilah bediding. Kondisi tersebut lazim terjadi setiap tahun, namun intensitas udara dingin pada periode tertentu kerap terasa lebih ekstrem sehingga menjadi perhatian masyarakat.

Suhu dingin paling terasa bagi warga yang masih beraktivitas pada malam hingga pagi hari. Selain membuat waktu istirahat kurang nyaman, udara dingin juga membuat aktivitas sederhana seperti mandi pada pagi hari terasa lebih berat.

Salah seorang warga, Risa, 19, mengaku suhu dingin kali ini terasa tidak seperti biasanya.

"Asli dinginnya akhir-akhir ini enggak masuk akal. Malam sudah pakai selimut dobel tetap menggigil sampai kebangun jam tiga pagi karena kedinginan. Pagi mau mandi juga rasanya butuh keberanian karena airnya seperti air es," ujarnya.

Lantas, apa yang menyebabkan fenomena bediding kembali terjadi di pertengahan musim kemarau?

Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat dua faktor utama yang memicu turunnya suhu udara pada malam hari di wilayah Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Faktor pertama adalah pengaruh Angin Monsun Australia. Saat ini Australia sedang mengalami puncak musim dingin sehingga angin yang bertiup menuju Indonesia membawa massa udara yang bersifat lebih dingin dan kering. Aliran udara tersebut menyebabkan suhu udara di sejumlah wilayah Indonesia ikut mengalami penurunan, terutama pada malam hingga dini hari.

Faktor kedua ialah minimnya tutupan awan selama musim kemarau. Pada siang hari, permukaan bumi menyerap energi panas dari matahari. Namun ketika malam tiba, langit yang cerah tanpa awan membuat panas tersebut lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer melalui proses radiasi.

Tanpa adanya awan yang berfungsi menahan panas layaknya selimut alami, pelepasan energi dari permukaan bumi berlangsung lebih cepat. Akibatnya, suhu udara menurun secara signifikan hingga menjelang matahari terbit.

Penjelasan tersebut sejalan dengan pandangan pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Menurutnya, fenomena bediding juga dipengaruhi rendahnya kandungan uap air di atmosfer selama musim kemarau.

Dalam kondisi kelembapan yang rendah, uap air dan awan yang biasanya membantu menyerap serta memantulkan kembali panas ke permukaan bumi menjadi sangat sedikit. Langit yang cerah atau clear sky membuat proses radiational cooling berlangsung lebih efisien sehingga energi panas bumi cepat terlepas ke angkasa.

Akibat proses tersebut, suhu udara di dekat permukaan bumi menjadi jauh lebih dingin dibandingkan kondisi normal, terutama pada malam hingga sebelum matahari terbit.

Meskipun merupakan fenomena alam yang umum terjadi saat musim kemarau, masyarakat tetap diimbau menjaga kondisi tubuh agar tidak mudah terserang penyakit akibat perubahan suhu yang cukup ekstrem.

Editor : Lugas Rumpakaadi
suhu dingin Jawa fenomena cuaca bediding bmkg musim kemarau