RADAR BANYUWANGI – Kesibukan memimpin rumah sakit rujukan terbesar di Banyuwangi tak membuat Plt Direktur RSUD Blambangan, dr. Siti Asiyah Anggraeni, berhenti menuntut ilmu. Di tengah padatnya tanggung jawab sebagai pimpinan rumah sakit, ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dengan predikat Sangat Memuaskan dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97.
Capaian tersebut diraih dalam sidang terbuka Program Studi S3 Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga pada Selasa (21/7). Dengan kelulusannya, Asiyah tercatat sebagai Doktor ke-150 pada Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Unair.
Di balik toga doktor yang kini disandangnya, tersimpan perjuangan panjang yang tidak ringan. Saat sebagian orang telah beristirahat selepas bekerja, Asiyah justru baru membuka jurnal ilmiah, menganalisis data penelitian, hingga menyelesaikan disertasi. Hampir setiap malam, waktu istirahatnya dikorbankan demi menyelesaikan studi.
"Dalam mengerjakan tugas, saya mengambil waktu pada malam hari usai berkegiatan. Baru tidur pukul 01.00 dini hari," ungkapnya.
Perjalanan akademik tersebut ditempuh selama tiga tahun lima bulan 20 hari, sejak mulai kuliah pada 30 Januari 2023 hingga dinyatakan lulus pada 21 Juli 2026.
"Saya menyelesaikan kuliah untuk gelar doktor saya selama tiga tahun lima bulan dua puluh hari," katanya.
Berawal Saat Memimpin RSUD Genteng
Perjalanan meraih gelar doktor dimulai ketika Asiyah masih menjabat sebagai Direktur RSUD Genteng. Di tengah proses studi, ia kemudian dipercaya mengemban amanah baru sebagai Pelaksana Tugas Direktur RSUD Blambangan sejak 15 Oktober 2025.
Bertambahnya tanggung jawab sebagai pimpinan rumah sakit justru tidak menghentikan langkahnya menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, kunci menjalani dua peran besar sekaligus adalah disiplin dalam mengatur waktu.
"Untuk membagi waktu kuliah dengan kerja sebenarnya tidak sulit. Ketika pertama kali kuliah kelas dilakukan secara online, jadi tergantung bagaimana membagi waktunya," ujarnya.
Meneliti Daya Saing Rumah Sakit
Pengalaman memimpin rumah sakit menjadi inspirasi utama dalam penyusunan disertasinya yang berjudul "Model Sustainable Competitive Advantage pada Rumah Sakit Kelas C se-Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur."
Penelitian tersebut lahir dari pengamatan langsung terhadap tantangan yang dihadapi rumah sakit, mulai perubahan regulasi, keterbatasan anggaran, hingga meningkatnya tuntutan kualitas pelayanan kesehatan.
Menggunakan pendekatan kuantitatif multilevel, Asiyah melibatkan 1.053 responden dari 33 rumah sakit kelas C di wilayah Tapal Kuda Jawa Timur.
"Hasil penelitian tersebut menghadirkan perspektif yang berbeda terhadap konsep daya saing rumah sakit," tuturnya.
Penelitiannya menyimpulkan bahwa keunggulan rumah sakit tidak semata ditentukan oleh megahnya gedung, kelengkapan fasilitas, atau kecanggihan alat kesehatan. Faktor yang paling menentukan justru kemampuan organisasi dalam beradaptasi dan mengelola perubahan secara berkelanjutan.
Lengkapi Kompetensi Bertaraf Internasional
Sebelum menyandang gelar doktor, Asiyah lebih dulu mengantongi sejumlah sertifikasi profesional bertaraf internasional di bidang mutu layanan kesehatan. Di antaranya Fellowship of The International Society for Quality in Healthcare (FISQua) dan Certified Health Quality Professional (CHQP).
Menurutnya, peningkatan kompetensi merupakan bagian penting dalam membangun pelayanan kesehatan yang semakin berkualitas.
Dukungan Keluarga Jadi Energi
Di tengah kesibukan memimpin rumah sakit dan menyelesaikan pendidikan doktoral, Asiyah juga tetap menjalankan perannya sebagai istri dan ibu. Bersama suaminya, dr. Aswin Agung Nugroho, SpM, ia mengaku mendapatkan dukungan penuh selama menjalani proses pendidikan.
Baginya, keberhasilan meraih gelar doktor bukan hanya soal kemampuan akademik, tetapi juga kemauan untuk terus belajar sepanjang hayat.
"Kuncinya adalah kemauan. Saya percaya semua orang punya kemampuan, tapi tidak semuanya punya kemauan," pesannya.
Asiyah menegaskan, gelar doktor bukanlah garis akhir perjalanan, melainkan bekal untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat melalui peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
Ia pun mengajak tenaga kesehatan dan generasi muda untuk tidak berhenti belajar.
Editor : Ali Sodiqin"Kejarlah pendidikan setinggi-tingginya sesuai bidangnya. Kalau hanya umur bukanlah halangan untuk menuntut ilmu," pungkasnya. (ray/aif)