RADARBANYUWANGI.ID - Obesitas atau kegemukan tidak hanya menjadi persoalan kesehatan pada orang dewasa. Kondisi tersebut juga dapat dialami anak usia balita. Meski demikian, penanganan obesitas pada anak tidak boleh dilakukan dengan cara yang sama seperti orang dewasa karena balita masih berada dalam masa pertumbuhan yang memerlukan asupan gizi optimal.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik, dr. Cut Nurul Hafifah, Sp.A, menjelaskan bahwa kebutuhan nutrisi balita tetap harus dipenuhi meskipun anak mengalami obesitas. Pengurangan porsi makan secara drastis tanpa perhitungan medis justru berpotensi menghambat proses tumbuh kembang.
Dalam artikel yang dipublikasikan di kanal Kompas Sains pada Sabtu (28/1/2023), dr. Cut Nurul Hafifah mencontohkan, anak berusia tiga tahun idealnya memiliki berat badan sekitar 14 kilogram dengan tinggi badan 95 sentimeter. Pada kondisi berat badan ideal tersebut, kebutuhan energi harian anak mencapai sekitar 1.400 kilokalori.
Menurutnya, ketika seorang balita didiagnosis mengalami obesitas berdasarkan hasil pengukuran indeks massa tubuh (IMT), penanganan harus disesuaikan dengan kebutuhan kalori berdasarkan usia, bukan sekadar mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi.
Pendekatan tersebut bertujuan agar anak tetap memperoleh zat gizi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta menjaga daya tahan tubuh.
Selain memperhatikan pola makan, orang tua juga memiliki peran penting dalam membantu mengendalikan berat badan anak melalui peningkatan aktivitas fisik. Anak perlu didorong lebih aktif bergerak agar energi yang masuk ke tubuh dapat diimbangi dengan pembakaran kalori.
Aktivitas sederhana, seperti bermain di luar rumah, berjalan kaki, berlari, atau permainan yang melibatkan gerak tubuh, dapat menjadi pilihan untuk membantu menjaga keseimbangan antara asupan energi dan pengeluarannya.
Editor : Lugas Rumpakaadi