Bukan Kasus Pertama, Insiden BAB di Ajang Hyrox Jakarta Ternyata Pernah Dialami Atlet Dunia

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:11 WIB
Insiden peserta Hyrox Jakarta yang mengalami BAB saat berlomba menjadi sorotan. (Pexels/Pexels LATAM)
Insiden peserta Hyrox Jakarta yang mengalami BAB saat berlomba menjadi sorotan. (Pexels/Pexels LATAM)

RADARBANYUWANGI.ID - Insiden peserta Hyrox Jakarta yang mengalami buang air besar (BAB) atau "cepirit" di celana saat mengikuti perlombaan menjadi perbincangan luas di media sosial. Momen tersebut memicu beragam respons dari publik, mulai dari simpati hingga rasa penasaran mengenai penyebab kondisi tersebut.

Meski terdengar tidak biasa, fenomena atlet yang mengalami BAB di tengah perlombaan sebenarnya bukan kejadian baru. Dalam berbagai ajang olahraga internasional, sejumlah atlet elite juga pernah mengalami pengalaman serupa saat berkompetisi.

Salah satunya adalah atlet jalan cepat Prancis, Yohann Diniz, yang mengalami insiden tersebut pada Olimpiade Rio 2016. Pelari maraton legendaris Paula Radcliffe juga tetap menyelesaikan London Marathon 2005 meski sempat mengalami gangguan pencernaan di tengah lomba.

Selain itu, triatlet Julie Moss pernah mengalami kondisi yang sama saat mengikuti Hawaii Ironman Triathlon. Bahkan, ia menggambarkan pengalamannya menjelang garis finis sebagai "kekacauan cokelat raksasa yang paling parah."

Secara ilmiah, kondisi tersebut dikenal sebagai runner's diarrhea, yakni gangguan saluran cerna yang kerap muncul ketika seseorang menjalani aktivitas fisik dengan intensitas tinggi dalam waktu lama.

Fenomena ini terjadi akibat kombinasi beberapa respons fisiologis tubuh selama berolahraga. Saat aktivitas fisik meningkat, tubuh memprioritaskan aliran darah menuju otot-otot yang bekerja, terutama di area kaki dan panggul. Akibatnya, suplai darah ke organ pencernaan berkurang sehingga fungsi saluran cerna ikut terganggu.

Dalam publikasi jurnal ilmiah yang dikutip IFLScience dijelaskan bahwa selama latihan fisik, peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik menyebabkan distribusi ulang aliran darah dari organ pencernaan menuju otot yang aktif bekerja. Kondisi tersebut dapat memicu kram perut, rasa mulas, hingga diare.

Selain itu, aktivitas fisik berat juga memengaruhi kemampuan tubuh mengendalikan otot sfingter anus. Ahli bedah kolon dan rektum dari Novant Health, Dr. Michael Dobson, menjelaskan bahwa saat seseorang menggunakan otot kaki dan panggul secara maksimal, kemampuan untuk secara sadar mempertahankan kontraksi otot sfingter menjadi lebih sulit.

Menurutnya, tubuh tidak dapat secara optimal mengendalikan seluruh kelompok otot secara bersamaan ketika sedang berada dalam kondisi aktivitas fisik yang sangat berat. Akibatnya, dorongan untuk BAB menjadi lebih sulit ditahan.

Tidak hanya faktor fisiologis, guncangan berulang pada organ tubuh selama berlari juga dapat mempercepat pergerakan isi usus. Kondisi ini diperparah apabila atlet mengalami stres menjelang perlombaan atau mengonsumsi makanan tertentu sebelum bertanding.

Makanan tinggi serat, berlemak, pedas, maupun minuman berkafein dalam waktu yang terlalu dekat dengan jadwal lomba diketahui dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan selama aktivitas olahraga.

Karena itu, pelari maupun peserta kompetisi kebugaran umumnya dianjurkan mengatur pola makan, memastikan tubuh terhidrasi dengan baik, serta memberikan jeda yang cukup antara waktu makan dan perlombaan untuk mengurangi risiko runner's diarrhea.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Hyrox Jakarta runner's diarrhea olahraga lari