RADAR BANYUWANGI – Puluhan pelajar dari Generasi Z dan Generasi Alpha memanfaatkan Forum Rembug Anak Banyuwangi untuk menyampaikan berbagai aspirasi kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Digelar di kawasan wisata Pantai Pulau Santen atau Pantai Cemara, Kamis (23/7), forum tersebut menjadi ruang dialog anak-anak menyuarakan gagasan tentang pelestarian lingkungan, mulai pembentukan Green Ranger, edukasi pengelolaan sampah, hingga penegakan hukum terhadap penebangan pohon liar.
Forum yang digelar rutin setiap tahun itu diikuti 50 pelajar SMP dan SMA/sederajat dari berbagai wilayah Banyuwangi, termasuk siswa sekolah luar biasa (SLB). Mengusung tema "Anak Beraksi, Lingkungan Lestari, Hak Anak Terpenuhi", para peserta berdiskusi sekaligus menyampaikan solusi terhadap berbagai persoalan lingkungan yang mereka temui.
Isu yang mengemuka meliputi pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penghijauan, pelestarian sumber daya air, hingga pentingnya pendidikan lingkungan sejak usia dini.
Sekretaris Kabupaten Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, mengatakan Rembug Anak merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah untuk melibatkan anak-anak dalam proses pembangunan. Menurut pria yang akrab disapa Yayan itu, setiap masukan akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan daerah.
"Silakan sampaikan apa yang menjadi keinginan, harapan maupun keresahan kalian. Semua masukan akan kami dengarkan, kami catat, dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan ke depan," ujarnya.
Salah satu gagasan menarik datang dari Reyhan Iftitan Ramadhanu, pelajar SMA Muhammadiyah 2 Genteng. Bersama kelompoknya, Reyhan mengusulkan pembentukan Green Ranger, yakni duta kebersihan yang melibatkan pelajar hingga masyarakat di tingkat desa dan kelurahan untuk mengampanyekan kepedulian terhadap lingkungan.
"Kami mengusulkan Green Ranger untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan melalui sosialisasi dan aksi nyata," katanya.
Sementara itu, Thalita Elok Safitri dari MAN 1 Banyuwangi menilai edukasi pengelolaan sampah perlu diperluas, tidak hanya menyasar sekolah, tetapi juga kelompok PKK. Menurutnya, pelatihan memilah dan mendaur ulang sampah dapat menjadi peluang ekonomi bagi keluarga.
"Kalau ibu-ibu PKK diberi pelatihan memilah dan mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai ekonomi, pasti mereka akan tertarik karena sekaligus bisa menambah penghasilan keluarga," ujarnya.
Thalita juga mengusulkan agar kampanye lingkungan lebih masif melalui media sosial dan videotron sehingga pesan pelestarian lingkungan lebih mudah diterima generasi muda. Selain itu, ia mendorong adanya sistem pemantauan hingga tingkat desa agar pengelolaan sampah berjalan lebih optimal.
Aspirasi lain datang dari Hafis Maulana Akbar, siswa SMPN 4 Banyuwangi. Ia meminta pemerintah memberikan sanksi tegas kepada pelaku penebangan pohon yang melanggar aturan karena pohon memiliki peran penting dalam menjaga kualitas udara, mencegah banjir, serta menyimpan cadangan air.
"Pohon sangat bermanfaat untuk menjaga kualitas udara, mencegah banjir, dan menyimpan cadangan air. Karena itu tidak boleh ada yang menebangnya sembarangan," tegas Hafis.
Melalui Forum Rembug Anak, Pemkab Banyuwangi berharap suara anak-anak tidak berhenti sebagai bahan diskusi, tetapi benar-benar menjadi bagian dari proses perumusan kebijakan daerah. Pemerintah memandang anak bukan hanya penerima manfaat pembangunan, melainkan mitra strategis yang mampu menghadirkan perspektif baru dalam menjawab tantangan masa depan.
"Kami bangga dengan anak-anak peserta Rembug Anak. Mereka sangat antusias menyampaikan ide-idenya terkait lingkungan dan sampah yang memang menjadi isu global saat ini," pungkas Yayan. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin