RADARBANYUWANGI.ID - Di balik suasana pedesaan Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, tersimpan jejak panjang perjalanan transportasi dan ekonomi Banyuwangi. Stasiun Benculuk menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang merekam perkembangan perkeretaapian sekaligus dinamika perdagangan di wilayah selatan Banyuwangi sejak masa Hindia Belanda.
Stasiun yang berada di lintas kereta api Jember–Banyuwangi ini dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Belanda. Pembangunannya menjadi bagian dari proyek jalur Kalisat–Banyuwangi yang rampung pada 1903.
Kehadiran jalur tersebut tidak sekadar membuka akses transportasi masyarakat. Pada awal abad ke-20, jaringan kereta api memiliki peran strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi, terutama sektor perkebunan yang berkembang di kawasan timur Pulau Jawa.
Stasiun Benculuk menjadi salah satu titik penting dalam mendukung distribusi berbagai komoditas perkebunan seperti kopi, karet, tebu, hingga hasil pertanian lainnya. Produk-produk tersebut diangkut melalui jalur kereta api menuju pusat perdagangan maupun pelabuhan untuk dikirim ke berbagai wilayah.
Selain melayani kebutuhan industri perkebunan, Stasiun Benculuk juga menjadi penghubung masyarakat sekitar dengan pusat pemerintahan dan perdagangan. Aktivitas naik turun penumpang menjadikan kawasan sekitar stasiun berkembang sebagai salah satu titik pergerakan ekonomi lokal.
Nilai sejarah Stasiun Benculuk tidak hanya terletak pada fungsinya sebagai simpul transportasi. Bangunan stasiun juga menyimpan karakter arsitektur kolonial khas awal abad ke-20.
Ciri bangunan tersebut terlihat dari penggunaan dinding bata yang kokoh, pintu dan jendela berukuran besar, atap seng berbentuk memanjang, serta ruang tunggu yang dirancang luas. Konsep tersebut menyesuaikan kebutuhan bangunan di wilayah tropis dengan mengutamakan sirkulasi udara dan kenyamanan pengguna.
Gaya arsitektur itu menjadi gambaran bagaimana pemerintah kolonial membangun fasilitas transportasi dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan sekaligus fungsi pelayanan publik pada masa itu.
Seiring perkembangan teknologi transportasi dan perubahan sistem perkeretaapian nasional, peran Stasiun Benculuk perlahan mengalami pergeseran. Moda angkutan jalan raya yang semakin berkembang membuat fungsi stasiun tidak lagi sebesar masa kejayaannya.
Meskipun demikian, stasiun ini tetap melayani perjalanan kereta api penumpang setelah Indonesia merdeka. Hingga akhirnya pada 1976, operasional Stasiun Benculuk resmi dihentikan akibat kondisi prasarana yang menua serta persaingan dengan moda transportasi lainnya.
Bangunan lama Stasiun Benculuk tetap menjadi bagian dari peninggalan sejarah perkeretaapian Banyuwangi. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa perkembangan wilayah selatan Banyuwangi tidak lepas dari peran jaringan transportasi yang dibangun lebih dari satu abad lalu.
Kini, Stasiun Benculuk memiliki nilai penting sebagai warisan budaya. Jejak bangunan dan sejarahnya menjadi sumber pembelajaran mengenai hubungan antara transportasi, ekonomi perkebunan, serta perkembangan masyarakat Banyuwangi pada masa lalu.
Editor : Lugas Rumpakaadi