Terinspirasi Teori Evolusi, Peneliti Kembangkan Strategi Rotasi Terapi untuk Cegah Kekambuhan Kanker

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 09:31 WIB
Peneliti mengembangkan strategi rotasi terapi berbasis teori evolusi untuk mencegah kekambuhan kanker. (Scilifelab)
Peneliti mengembangkan strategi rotasi terapi berbasis teori evolusi untuk mencegah kekambuhan kanker. (Scilifelab)

RADARBANYUWANGI.ID - Tim peneliti internasional mengembangkan pendekatan baru dalam pengobatan kanker dengan mengadaptasi konsep teori evolusi. Strategi tersebut menawarkan cara berbeda untuk menekan risiko kekambuhan kanker melalui rotasi terapi yang dilakukan lebih awal, sebelum sel tumor sempat beradaptasi terhadap obat.

Selama ini, praktik medis umumnya mempertahankan satu jenis terapi hingga pemeriksaan menunjukkan tumor kembali tumbuh. Namun, pendekatan baru tersebut menyarankan pergantian ke terapi berikutnya saat tumor masih menunjukkan respons positif dan terus menyusut akibat pengobatan sebelumnya.

Dengan cara itu, sel kanker diharapkan tidak memiliki cukup waktu untuk mengembangkan mutasi yang membuatnya kebal terhadap terapi. Prinsip ini diibaratkan sebagai menyerang lawan ketika posisinya masih tertekan sehingga peluang untuk bangkit kembali dapat ditekan.

Penelitian tersebut dipimpin Dr. Robert Noble, Dosen Senior di Departemen Matematika, City St George's, University of London. Menurutnya, penyebab utama kekambuhan kanker adalah keberadaan sebagian kecil sel tumor yang telah mengalami mutasi sehingga mampu bertahan dari terapi yang diberikan.

"Meskipun tumor pada awalnya mungkin menyusut di bawah terapi, dalam banyak kasus tumor tersebut akhirnya tumbuh kembali. Kekambuhan ini berasal dari sejumlah kecil sel kanker yang telah mengalami mutasi yang membuat sel-sel tersebut resistan terhadap pengobatan," ujar Dr. Robert Noble dalam keterangan tertulis yang dirilis City St George's, University of London.

Konsep rotasi terapi tersebut terinspirasi dari penerapan teori evolusi yang telah lebih dulu digunakan dalam bidang kesehatan lain. Pendekatan serupa terbukti membantu menekan resistensi antibiotik pada bakteri serta mendukung prediksi mutasi virus influenza dalam penentuan vaksin musiman.

Dr. Noble menjelaskan, keberhasilan pendekatan evolusioner di berbagai bidang kesehatan menjadi dasar keyakinan bahwa konsep serupa juga berpotensi diterapkan pada pengobatan kanker.

"Pendekatan evolusioner telah sangat berhasil dalam konteks lain, seperti melawan resistensi antibiotik, atau memprediksi vaksin apa yang harus kita gunakan dalam musim flu tertentu. Ada banyak alasan untuk menduga bahwa pendekatan serupa seharusnya bekerja pada tumor," jelasnya dalam podcast resmi penelitian yang diproduksi City St George's, University of London.

Untuk menguji gagasan tersebut, tim peneliti menggunakan simulasi matematis yang memodelkan tekanan lingkungan terhadap sel kanker. Hasilnya menunjukkan bahwa pergantian terapi secara berurutan, bahkan menggunakan tiga jenis obat atau lebih, menciptakan kondisi yang terus berubah sehingga sel tumor kesulitan mengembangkan resistensi secara menyeluruh.

Dengan lingkungan yang terus berganti akibat perubahan terapi, populasi sel kanker dipaksa beradaptasi secara berulang. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi peluang munculnya kelompok sel yang mampu bertahan terhadap seluruh jenis pengobatan.

Meski temuan tersebut masih didasarkan pada pemodelan matematis, pendekatan berbasis evolusi mulai memasuki tahap pengujian klinis dalam skala kecil. Uji coba dilakukan pada pasien dengan kanker jaringan lunak, kanker prostat, dan kanker payudara untuk mengevaluasi efektivitas strategi rotasi terapi secara langsung.

Apabila hasil uji klinis menunjukkan manfaat yang konsisten, pendekatan ini berpotensi menjadi salah satu strategi baru dalam meningkatkan efektivitas terapi sekaligus menekan risiko kekambuhan kanker di masa mendatang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
rotasi terapi kanker teori evolusi resistensi sel tumor