Jejak Panjang Kereta Api di Banyuwangi, Dari Jalur Pengangkut Hasil Perkebunan Kolonial hingga Menjadi Penggerak Ekonomi dan Pariwisata Modern

Daafi Adilla Achmad • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 13:11 WIB
Sejarah panjang kereta api Banyuwangi. (Collectie Tropenmuseum)
Sejarah panjang kereta api Banyuwangi. (Collectie Tropenmuseum)

RADARBANYUWANGI.ID - Keberadaan kereta api tidak sekadar menjadi sarana transportasi bagi masyarakat Banyuwangi. Sejak lebih dari satu abad lalu, jalur rel yang membentang di ujung timur Pulau Jawa telah menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah daerah, terutama dalam membuka akses wilayah, memperlancar perdagangan, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pada penghujung abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda melalui perusahaan Staatsspoorwegen (SS) mulai melihat potensi besar Banyuwangi sebagai kawasan penghasil komoditas perkebunan. Produk seperti kopi, karet, dan tembakau memiliki nilai ekonomi tinggi, namun proses pengangkutan masih menghadapi kendala karena kondisi geografis Banyuwangi yang dikelilingi kawasan pegunungan dan hutan.

Keterbatasan akses tersebut membuat distribusi hasil bumi menuju pelabuhan berjalan lambat. Pembangunan jalur kereta api kemudian dianggap sebagai solusi strategis untuk mempercepat arus barang sekaligus membuka keterisolasian wilayah timur Pulau Jawa.

Pembangunan jalur Kalisat–Banyuwangi dimulai pada 1897. Proyek tersebut menjadi salah satu pekerjaan teknik besar pada masanya karena harus melewati medan berat di kawasan Pegunungan Gumitir. Pemerintah kolonial harus membangun sejumlah infrastruktur pendukung, termasuk terowongan serta jembatan besar di kawasan Garahan–Mrawan.

Setelah melewati proses pembangunan selama beberapa tahun, jalur kereta api Kalisat–Banyuwangi akhirnya resmi dibuka untuk layanan umum pada 2 Februari 1903. Kehadiran jalur tersebut langsung membawa perubahan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Kereta api membuat pengiriman hasil perkebunan menuju pusat perdagangan dan pelabuhan menjadi lebih cepat. Pergerakan barang yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang dapat dilakukan dengan lebih efisien. Selain itu, keberadaan rel juga memicu perkembangan kawasan baru di sepanjang jalur lintasan.

Sejumlah masyarakat mulai menetap di sekitar jalur kereta api yang baru dibangun. Perkembangan permukiman tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur transportasi memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan wilayah Banyuwangi pada masa itu.

Untuk mendukung operasional jalur baru tersebut, dibangun Stasiun Banyuwangi Lama yang kemudian menjadi pusat kegiatan perkeretaapian di wilayah Banyuwangi selama puluhan tahun.

Stasiun tersebut melayani perjalanan penumpang sekaligus angkutan barang, terutama komoditas perkebunan yang dikirim ke berbagai daerah di Pulau Jawa. Tidak hanya berfungsi sebagai simpul transportasi, keberadaan stasiun juga ikut membentuk perkembangan kawasan perkotaan Banyuwangi pada era kolonial.

Selain Stasiun Banyuwangi Lama, jaringan perkeretaapian Banyuwangi juga memiliki sejumlah stasiun lain, seperti Kalibaru, Glenmore, Sumberwadung, Kalisetail, Temuguruh, Singojuruh, Rogojampi, dan Kabat Lama.

Dari Stasiun Kabat Lama, terdapat percabangan menuju Srono dan Benculuk. Namun, jalur tersebut kini sudah tidak lagi beroperasi.

Perkembangan transportasi penyeberangan Jawa–Bali kemudian mendorong pembangunan jalur baru dari Kabat menuju Ketapang. Jalur tersebut mulai beroperasi pada 7 September 1985 dengan tujuan mendekatkan akses kereta api menuju Pelabuhan Ketapang sebagai pintu utama penyeberangan menuju Pulau Bali.

Jalur baru itu memiliki peran strategis, bukan hanya untuk perjalanan penumpang, tetapi juga dalam mendukung distribusi logistik menuju kawasan pelabuhan.

Setelah jalur Kabat–Ketapang beroperasi, aktivitas Stasiun Banyuwangi Lama mulai mengalami penurunan. Pelayanan penumpang secara bertahap dipindahkan ke Stasiun Banyuwangi Baru yang kini dikenal sebagai Stasiun Ketapang.

Beberapa tahun kemudian, pelayanan angkutan barang juga dialihkan. Hingga akhirnya pada 31 Maret 1988, Stasiun Banyuwangi Lama beserta segmen rel menuju stasiun tersebut resmi dinonaktifkan.

Saat ini, jaringan kereta api Banyuwangi berada dalam pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi IX Jember. Jalur tersebut menghubungkan Banyuwangi dengan berbagai kota di Jawa Timur hingga wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta.

Peran kereta api kini tidak hanya berkaitan dengan mobilitas warga. Moda transportasi ini juga menjadi pendukung perkembangan pariwisata Banyuwangi.

Kemudahan akses kereta api membantu wisatawan menuju berbagai destinasi unggulan, seperti Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Pantai Pulau Merah, De Djawatan, hingga Pelabuhan Ketapang sebagai pintu menuju Bali.

Editor : Lugas Rumpakaadi
sejarah Kereta Api banyuwangi