Gerhana Matahari Total Terlama Abad ke-21 Terjadi 2 Agustus 2027, Mesir Alami Kegelapan Lebih dari 6 Menit

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 12:48 WIB
Gerhana Matahari Total pada 2 Agustus 2027 diprediksi menjadi yang terlama di daratan abad ke-21. (JawaPos.com)
Gerhana Matahari Total pada 2 Agustus 2027 diprediksi menjadi yang terlama di daratan abad ke-21. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena langit langka akan menghiasi langit bumi pada 2 Agustus 2027. Gerhana Matahari Total yang diprediksi menjadi salah satu yang paling spektakuler pada abad ke-21 itu akan membuat sebagian wilayah Eropa Selatan, Afrika Utara, hingga Timur Tengah mengalami kegelapan total pada tengah hari.

Berdasarkan proyeksi National Solar Observatory (NSO) dan NASA, puncak gerhana di daratan akan berlangsung paling lama di wilayah Mesir dengan durasi mencapai 6 menit 23 detik. Catatan tersebut menjadi rekor durasi gerhana matahari total terlama yang terjadi di daratan dalam kurun sekitar 123 tahun terakhir.

Jalur bayangan inti bulan atau jalur totalitas diperkirakan memiliki lebar antara 258 hingga 275 kilometer. Lintasannya dimulai dari Samudera Atlantik, melintasi Selat Gibraltar, kemudian membelah Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Arab Saudi, Yaman, hingga berakhir di pesisir Somalia.

Sejumlah kota besar dipastikan berada di jalur gerhana total, di antaranya Cadiz di Spanyol, Tangier di Maroko, Benghazi di Libya, Luxor di Mesir, serta Jeddah di Arab Saudi. Wilayah-wilayah tersebut akan mengalami kondisi gelap total ketika bulan menutupi piringan matahari.

Pusat totalitas terlama diproyeksikan berada di kawasan New Valley, dekat kota bersejarah Luxor, Mesir. Di lokasi tersebut, kegelapan diperkirakan berlangsung selama sekitar 6 menit 22 hingga 23 detik pada pukul 10.07 UTC.

Durasi totalitas yang jauh lebih panjang dibandingkan gerhana matahari pada umumnya menjadi peluang besar bagi kalangan ilmuwan. Waktu pengamatan yang lebih lama memungkinkan berbagai penelitian dilakukan secara lebih mendalam.

NASA menjelaskan bahwa totalitas lebih dari enam menit memberikan kesempatan langka bagi para peneliti untuk mengamati korona matahari, yakni lapisan atmosfer terluar matahari yang biasanya tertutup cahaya sangat terang dari piringan matahari. Selain itu, fenomena tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memantau perubahan suhu bumi secara ekstrem selama gerhana berlangsung.

"Durasi totalitas lebih dari 6 menit memberi ruang lebih besar bagi peneliti untuk mengamati korona, lapisan atmosfer terluar yang biasanya silau oleh piringan matahari. Ini momen yang sangat berharga bagi astronomi," demikian penjelasan NASA dalam keterangannya.

Secara keseluruhan, rangkaian gerhana mulai dari fase awal hingga berakhir diperkirakan berlangsung sekitar 5 jam 13 menit. Namun, fase totalitas yang menjadi puncak fenomena hanya dapat disaksikan di wilayah yang berada tepat pada jalur bayangan inti bulan.

Kawasan gurun di Mesir dan Libya diperkirakan menjadi lokasi favorit bagi para pemburu gerhana dari berbagai negara. Selain berada di jalur totalitas terlama, wilayah tersebut memiliki peluang tutupan awan yang sangat kecil pada Agustus, sehingga kondisi langit diprediksi lebih ideal untuk pengamatan.

Fenomena ini diperkirakan akan menarik perhatian jutaan wisatawan, fotografer, serta peneliti dari berbagai belahan dunia. Lembah Sungai Nil, khususnya kawasan Luxor, diproyeksikan menjadi salah satu destinasi utama untuk menyaksikan langsung gerhana matahari total terlama yang akan terjadi pada abad ke-21.

Editor : Lugas Rumpakaadi
gerhana matahari total mesir nasa