RADAR BANYUWANGI – Program Wisata Edukasi Sejak Usia Dini (Wis Esa Sek Adi) kembali bergulir setelah jeda libur panjang akhir tahun ajaran 2025/2026. Pada Rabu (22/7), puluhan siswa SDN 1 Rogojampi diajak belajar langsung tentang pengelolaan air bersih, pelestarian lingkungan, dan sejarah sumber mata air di kawasan Sumber Gedor, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro.
Kegiatan yang melibatkan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Banyuwangi, Dinas Kesehatan (Dinkes), dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) itu dirancang agar siswa memahami proses penyediaan air minum bagi masyarakat melalui pengalaman lapangan, bukan hanya dari buku pelajaran.
Setibanya di lokasi, para siswa diajak melihat langsung sumber air yang menjadi salah satu penopang kebutuhan air minum warga Kota Banyuwangi. Petugas PUDAM memberikan penjelasan mengenai proses pengelolaan air bersih, mulai dari mata air hingga didistribusikan kepada masyarakat.
Rombongan kemudian diajak berkeliling kawasan peninggalan Belanda, termasuk mengunjungi broncaptering, bangunan penangkap mata air yang berfungsi melindungi sekaligus mengumpulkan air agar tetap aman dari kontaminasi. Di titik tersebut, siswa dapat menyaksikan air memancar dari dalam tanah sebelum dialirkan menuju reservoir sebagai tempat penampungan.
Tak hanya belajar soal air, para pelajar juga dikenalkan dengan beragam jenis vegetasi yang tumbuh di kawasan seluas sekitar 15 hektare. Melalui materi dari DLH, mereka mendapat pemahaman mengenai pentingnya menjaga tutupan pohon sebagai penyangga kelestarian sumber mata air.
Sementara itu, Dinkes memberikan edukasi mengenai pentingnya air bersih bagi kesehatan. Para siswa dikenalkan hubungan antara kualitas air dengan upaya menjaga kesehatan sehari-hari sehingga mereka memahami manfaat air bersih dari sisi lingkungan maupun kesehatan.
Program Wis Esa Sek Adi sendiri diluncurkan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani pada 13 Mei lalu sebagai kolaborasi lintas instansi untuk mengenalkan lingkungan dan sumber kehidupan kepada anak sejak usia dini.
Menurut Ipuk, pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada capaian akademik. Anak-anak juga perlu memahami lingkungan sekitar melalui pengalaman langsung agar tumbuh rasa memiliki dan kepedulian terhadap alam.
"Anak-anak tidak hanya harus pintar secara akademis, tetapi juga mengenal lingkungan dan tempat tinggalnya. Selama ini mereka mungkin belajar dari buku tentang asal air, tapi lewat kegiatan ini mereka bisa melihat langsung bagaimana prosesnya," ujarnya.
Dia menilai pendekatan edukasi berbasis wisata menjadi metode pembelajaran yang lebih relevan bagi anak-anak saat ini. Selain membuat proses belajar lebih menyenangkan, kegiatan tersebut memberikan pengalaman nyata mengenai sumber mata air, sejarah kawasan, hingga pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Editor : Ali Sodiqin"Dengan mencintai air dan pohon, mereka akan mencintai kehidupan. Ini menjadi cara agar anak-anak lebih mengenal daerah yang mereka cintai," imbuhnya. (sgt)