Jejak Sayu Wiwit di Banyuwangi, Srikandi Blambangan yang Menginspirasi Sejarah, Tradisi, dan Budaya Daerah

Daafi Adilla Achmad • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 06:19 WIB
Sayu Wiwit dikenang sebagai Srikandi Blambangan yang memimpin perlawanan rakyat melawan VOC dalam Puputan Bayu. (Ilustrasi Gemini AI)
Sayu Wiwit dikenang sebagai Srikandi Blambangan yang memimpin perlawanan rakyat melawan VOC dalam Puputan Bayu. (Ilustrasi Gemini AI)

RADARBANYUWANGI.ID - Nama Sayu Wiwit menjadi salah satu sosok perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Blambangan. Ia dikenal sebagai senopati atau panglima perang yang memimpin perlawanan rakyat melawan VOC Belanda dalam Perang Puputan Bayu pada akhir abad ke-18.

Di tengah dominasi tokoh-tokoh laki-laki dalam sejarah peperangan Nusantara, Sayu Wiwit tampil sebagai figur perempuan yang memiliki keberanian, kemampuan memimpin pasukan, serta semangat juang tinggi. Hingga kini, kisahnya masih diwariskan melalui tradisi lisan, karya sastra, hingga berbagai pertunjukan budaya di Banyuwangi.

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Sayu Wiwit digambarkan sebagai perempuan bangsawan yang rela meninggalkan kenyamanan hidup demi bergabung bersama rakyat mempertahankan tanah Blambangan dari serangan VOC. Sosoknya kemudian menjadi simbol keberanian perempuan dalam mempertahankan kedaulatan daerah.

Meski demikian, asal-usul Sayu Wiwit masih memiliki beberapa versi. Sejumlah naskah menyebut ia merupakan putri Mas Gumuk Jati, sedangkan sumber lain mengaitkannya dengan Wong Agung Wilis, salah satu tokoh penting Blambangan. Perbedaan tersebut lazim ditemukan dalam sejarah lokal yang banyak diwariskan melalui tradisi lisan secara turun-temurun.

Terlepas dari beragam versi silsilahnya, hampir seluruh sumber sepakat bahwa Sayu Wiwit berasal dari kalangan bangsawan Blambangan dan memiliki kemampuan kepemimpinan yang menonjol.

Peran Sayu Wiwit semakin dikenal saat berlangsungnya Perang Puputan Bayu pada 1771–1772. Perang tersebut menjadi salah satu perlawanan terbesar rakyat Blambangan terhadap VOC Belanda.

Dalam berbagai catatan sejarah, Sayu Wiwit dipercaya memimpin pasukan di wilayah Blambangan Barat. Ia berjuang bersama tokoh-tokoh penting lainnya, seperti Rempeg Jogopati dan Wong Agung Wilis, dalam menghadapi kekuatan VOC.

Kepemimpinannya di medan perang disebut mampu membangkitkan semangat juang masyarakat. Dengan memanfaatkan berbagai senjata tradisional, Sayu Wiwit memimpin pasukan mempertahankan wilayah Blambangan. Atas jasa dan keberaniannya, ia kemudian dikenang dengan sebutan Srikandi Blambangan.

Setelah pasukan Blambangan mengalami kekalahan dalam Puputan Bayu, kisah Sayu Wiwit tidak berhenti. Sejumlah sumber menyebutkan ia menyingkir ke lereng Gunung Raung dan melanjutkan perjuangan melalui strategi gerilya.

Dalam buku Sayu Wiwit Sang Kaisar, ia bahkan dijuluki The Empress Susuhunan Mount of Raung atau "Ratu Pegunungan Raung" karena pengaruh serta kharismanya di kawasan tersebut.

Namun, akhir kehidupan Sayu Wiwit hingga kini masih menyisakan misteri. Sebagian sumber menyatakan ia berhasil ditangkap patroli VOC pada Januari 1773. Sementara itu, sumber lain menyebutkan tidak ada catatan pasti mengenai nasibnya setelah perlawanan tersebut.

Meski perjalanan hidupnya masih menyimpan berbagai versi, jejak Sayu Wiwit tetap melekat dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi. Warga meyakini keberadaan makam dan petilasan Sayu Wiwit di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon.

Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan, taman, hingga menjadi identitas sejumlah usaha batik di Banyuwangi. Tidak hanya itu, kisah perjuangannya terus diangkat dalam berbagai kegiatan seni dan budaya sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah Blambangan.

Pada Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026, sosok Sayu Wiwit kembali menjadi salah satu subtema utama bertema pejuang Blambangan. Pengangkatan tema tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan tangguh dalam Perang Puputan Bayu masih memiliki makna penting bagi masyarakat Banyuwangi hingga saat ini.

Editor : Lugas Rumpakaadi
BEC 2026 Sayu wiwit Banyuwangi Ethno Carnival Puputan Bayu