RADAR BANYUWANGI - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus memperkuat upaya menekan angka anak putus sekolah. Lewat pendekatan hingga tingkat desa, sebanyak 3.259 Anak Tidak Sekolah (ATS) berhasil dikembalikan ke jalur pendidikan sejak Program Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar 12 Tahun (Rindu Bulan) diluncurkan pada 2023.
Keberhasilan tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemkab Banyuwangi untuk memastikan setiap anak tetap memperoleh hak atas pendidikan, mulai jenjang dasar hingga SMA atau sederajat. Berbagai skema bantuan disiapkan, mulai perlengkapan sekolah, uang saku, pendidikan kesetaraan, hingga pendampingan bagi anak yang sempat putus sekolah agar kembali belajar.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan, tidak boleh ada anak kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan karena persoalan ekonomi maupun faktor lainnya.
"Bagi kami, tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan apa pun persoalannya. Setiap anak berhak mendapatkan haknya untuk bersekolah melalui berbagai skema bantuan," ujar Ipuk, Rabu (16/7).
Program Rindu Bulan Berbasis Desa
Salah satu program andalan yang dijalankan adalah Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar 12 Tahun (Rindu Bulan). Program ini mengedepankan kolaborasi lintas sektor dengan menjadikan desa dan kelurahan sebagai ujung tombak pendataan serta penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS).
Melalui skema tersebut, anak-anak yang tidak lagi bersekolah diarahkan kembali ke pendidikan formal maupun pendidikan kesetaraan sesuai kondisi masing-masing.
Program Rindu Bulan melibatkan pemerintah desa dan kelurahan, satuan pendidikan, Kementerian Agama, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, hingga Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Menurut Ipuk, pendekatan berbasis desa dipilih karena penyebab anak putus sekolah berbeda-beda sehingga membutuhkan solusi yang juga berbeda.
"Penyisiran kami lakukan dari lingkup desa. Kalau kita kunci dari wilayah terkecil, penanganannya akan lebih tepat sasaran karena penyebab anak putus sekolah berbeda-beda sehingga bentuk bantuannya juga harus disesuaikan," katanya.
Sejak diluncurkan pada 2023, program tersebut telah mengembalikan 3.259 Anak Tidak Sekolah ke bangku pendidikan.
"Tidak sekadar mengembalikan mereka ke sekolah, kami juga terus mendampingi, baik dari sisi prestasi maupun kebutuhan pendidikannya hingga lulus," tuturnya.
Bupati Turun Langsung Datangi Rumah Anak
Pendampingan tidak berhenti pada proses pendataan. Bupati Ipuk juga rutin mendatangi rumah anak-anak yang teridentifikasi berisiko putus sekolah untuk memberikan motivasi kepada mereka beserta keluarga agar tetap melanjutkan pendidikan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jemput bola yang diterapkan Pemkab Banyuwangi agar tidak ada anak yang terlewat dari layanan pendidikan.
"Dengan kolaborasi banyak pihak, kami berharap semakin banyak anak Banyuwangi yang bisa menyelesaikan pendidikannya. Pendidikan merupakan salah satu kunci memutus rantai kemiskinan," ujarnya.
Verifikasi Hingga Bantuan Disesuaikan Penyebab
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian menjelaskan, proses pendampingan diawali dengan verifikasi dan validasi data anak rentan putus sekolah.
Tim kemudian melakukan kunjungan langsung ke rumah untuk mengetahui penyebab anak tidak bersekolah sebelum menentukan bentuk bantuan yang paling tepat.
"Anak-anak yang memang benar berstatus ATS akan kami visitasi untuk mengetahui akar persoalannya. Dari situ kami menentukan afirmasi atau bantuan yang paling sesuai, baik mengembalikan ke sekolah formal, pendidikan kesetaraan, maupun memfasilitasi akses berbagai bantuan pendidikan yang tersedia," jelas Alfian.
Selain melakukan penyisiran hingga tingkat desa, Pemkab Banyuwangi juga menjalankan program Siswa Asuh Sebaya (SAS). Program tersebut mengajak para siswa menyisihkan sebagian uang saku untuk membantu teman sekolah yang membutuhkan.
Bantuan yang diberikan beragam, mulai sepeda, kacamata, perlengkapan sekolah, uang saku, hingga kebutuhan pendidikan lainnya. Selain menjadi jaring pengaman sosial di lingkungan sekolah, program ini juga menanamkan nilai empati dan kepedulian antarsiswa. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin