RADARBANYUWANGI.ID - Lantern bug atau dikenal pula sebagai lanternfly merupakan kelompok serangga dari famili Fulgoridae yang termasuk dalam ordo Hemiptera atau serangga sejati. Hewan ini banyak ditemukan di kawasan tropis dan subtropis, terutama di Asia, Afrika, serta Amerika Selatan.
Lantern bug mudah dikenali karena memiliki bentuk tubuh yang tidak biasa. Warna tubuhnya cenderung mencolok dengan tonjolan panjang pada bagian kepala sehingga sekilas tampak seperti makhluk dari dunia fantasi. Meski mengandung kata lantern atau lentera, serangga ini sama sekali tidak mampu menghasilkan cahaya.
Asal-usul nama lantern bug ternyata berawal dari kesalahpahaman yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Pada abad ke-18, naturalis Maria Sibylla Merian melaporkan bahwa beberapa spesies diduga dapat memancarkan cahaya pada malam hari. Pandangan tersebut kemudian diadopsi oleh ilmuwan Carl Linnaeus saat memberi nama beberapa spesies, termasuk Fulgora laternaria.
Namun, penelitian modern membuktikan anggapan tersebut tidak benar. Tonjolan panjang pada kepala lantern bug bukan organ penghasil cahaya, melainkan bagian dari adaptasi morfologi yang berkembang selama proses evolusi.
Salah satu ciri paling mencolok dari lantern bug adalah adanya cephalic process atau perpanjangan kepala. Bentuknya bervariasi pada setiap spesies, mulai menyerupai kacang tanah, hidung panjang, hingga kepala reptil.
Para peneliti menduga struktur tersebut berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Bentuk kepala yang tidak lazim diyakini mampu mengecoh predator dengan meniru wujud hewan lain sehingga peluang untuk dimangsa menjadi lebih kecil. Selain itu, lantern bug juga memiliki sayap berwarna-warni yang dapat dibuka secara tiba-tiba untuk mengejutkan musuh.
Dalam kehidupan sehari-hari, lantern bug merupakan serangga pengisap cairan tumbuhan atau sap feeder. Hewan ini menggunakan alat mulut berbentuk seperti jarum untuk menusuk jaringan tanaman, kemudian mengisap cairan yang kaya gula sebagai sumber energi.
Sebagian besar spesies memiliki tanaman inang tertentu dan cenderung tidak berpindah jauh dari tempat hidupnya. Karena bergantung pada tanaman tertentu, keberadaan lantern bug umumnya mudah ditemukan di pohon-pohon yang menjadi sumber makanannya.
Siklus hidup lantern bug terdiri atas tiga tahap utama, yakni telur, nimfa, dan dewasa. Pada spesies Spotted Lanternfly, nimfa muda berwarna hitam dengan bintik putih. Memasuki fase berikutnya, warna tubuh berubah menjadi kombinasi merah, hitam, dan putih sebelum akhirnya berkembang menjadi serangga dewasa dengan sayap abu-abu berbintik hitam.
Perubahan warna yang cukup mencolok tersebut memudahkan peneliti maupun masyarakat mengenali setiap fase perkembangan serangga ini di alam.
Di Indonesia maupun sejumlah negara Asia Tenggara, beberapa spesies lantern bug, seperti Pyrops candelaria, cukup sering dijumpai pada pohon lengkeng, leci, serta berbagai tanaman tropis lainnya. Penampilannya yang unik menjadikan serangga ini kerap diburu fotografer makro maupun pecinta serangga.
Meski demikian, keberadaan lantern bug tetap perlu mendapat perhatian. Sebagian spesies berpotensi menjadi hama apabila populasinya meningkat secara signifikan karena terus mengisap cairan tanaman yang menjadi inangnya. Oleh sebab itu, pemantauan populasi tetap diperlukan agar keseimbangan ekosistem dan kesehatan tanaman dapat terjaga.
Editor : Lugas Rumpakaadi