Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menelusuri Sejarah Stasiun Banyuwangi Lama, Terminus Paling Timur Staatsspoorwegen yang Kini Menjadi Peninggalan Berharga

Daafi Adilla Achmad • Selasa, 14 Juli 2026 | 19:48 WIB
Stasiun Banyuwangi Lama menjadi saksi sejarah perkembangan perkeretaapian di ujung timur Pulau Jawa. (COLLECTIE TROPENMUSEUM)
Stasiun Banyuwangi Lama menjadi saksi sejarah perkembangan perkeretaapian di ujung timur Pulau Jawa. (COLLECTIE TROPENMUSEUM)

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah pesatnya perkembangan kawasan perkotaan, masih berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan sejarah panjang perjalanan transportasi kereta api di Kabupaten Banyuwangi. Bangunan itu adalah Stasiun Banyuwangi Lama yang berada di Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi.

Jauh sebelum Stasiun Ketapang menjadi pintu masuk utama jalur kereta api di ujung timur Pulau Jawa, Stasiun Banyuwangi Lama merupakan stasiun induk yang melayani mobilitas penumpang maupun distribusi barang. Selama puluhan tahun, stasiun ini menjadi simpul penting yang menghubungkan Banyuwangi dengan berbagai kota di Jawa Timur sekaligus mendukung aktivitas perdagangan menuju Pelabuhan Boom.

Pembangunan jalur kereta menuju Banyuwangi merupakan bagian dari ekspansi jaringan Staatsspoorwegen (SS) atau perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Proyek tersebut bertujuan membuka akses transportasi menuju Banyuwangi yang kala itu masih sulit dijangkau melalui jalur darat serta mempercepat pengangkutan hasil perkebunan menuju pelabuhan untuk kebutuhan ekspor.

Setelah pembangunan Terowongan Mrawan rampung sekitar 1902–1903, pembangunan jalur rel dilanjutkan hingga mencapai Banyuwangi. Stasiun Banyuwangi Lama diperkirakan mulai dibangun sekitar 1901 dan diresmikan pada 1910.

Seiring meningkatnya aktivitas angkutan penumpang maupun barang, pemerintah kolonial melakukan renovasi besar pada 1920. Pengembangan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pelayanan sekaligus memperkuat peran stasiun sebagai pusat transportasi di wilayah Banyuwangi.

Dari stasiun ini, jalur rel tidak berhenti di kawasan kota. Rel kereta masih membentang hingga Pelabuhan Boom yang saat itu menjadi pusat aktivitas pelayaran menuju Pulau Bali serta jalur distribusi berbagai komoditas ekspor Hindia Belanda.

Selama lebih dari delapan dekade, Stasiun Banyuwangi Lama menjadi denyut utama transportasi kereta api di Banyuwangi. Jalur tersebut menghubungkan Banyuwangi dengan Jember, Probolinggo, Pasuruan hingga Surabaya.

Selain mengangkut penumpang, stasiun juga berfungsi sebagai pusat distribusi hasil perkebunan dan pertanian. Komoditas seperti kopi, tebu, karet, hasil pertanian, hingga hasil hutan diangkut menggunakan kereta sebelum diteruskan menuju pelabuhan untuk diperdagangkan ke berbagai daerah. Aktivitas tersebut ikut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya di kawasan Karangrejo dan sekitarnya.

Secara arsitektur, bangunan Stasiun Banyuwangi Lama menampilkan ciri khas kolonial Belanda. Bangunan utamanya memiliki dinding tebal, atap seng, ruang tunggu yang luas, pintu masuk berukuran besar, serta jendela berbentuk lengkung atau arched window.

Di kawasan emplasemen juga pernah berdiri berbagai fasilitas pendukung operasional perkeretaapian, seperti dipo lokomotif, gudang barang, hingga turntable atau meja putar lokomotif yang digunakan untuk memutar lokomotif uap sebelum kembali ke jalur semula. Sejumlah karakter bangunan tersebut masih dapat dikenali hingga sekarang.

Memasuki dekade 1980-an, pemerintah bersama Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) membangun jalur baru dari Kabat menuju Ketapang. Jalur tersebut dipilih karena lokasinya lebih dekat dengan Pelabuhan Ketapang yang berkembang sebagai pusat penyeberangan menuju Bali.

Setelah Stasiun Banyuwangi Baru mulai beroperasi sekitar 1985, aktivitas di Stasiun Banyuwangi Lama perlahan menurun. Meski masih melayani perjalanan kereta selama beberapa tahun, stasiun tersebut akhirnya resmi dinonaktifkan pada 31 Maret 1988. Sejak saat itu jalur Kabat–Banyuwangi Lama tidak lagi dioperasikan.

Pasca penonaktifan, sebagian besar rel di area emplasemen dibongkar. Lahan bekas jalur kereta kemudian berkembang menjadi kawasan permukiman dan Pasar Pujasera Karangrejo. Kendati demikian, bangunan utama stasiun tetap berdiri dan bentuk aslinya relatif masih dipertahankan. Hingga kini bangunan tersebut masih menjadi aset PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Sebagai stasiun terminus paling timur jaringan Staatsspoorwegen pada awal abad ke-20, Stasiun Banyuwangi Lama memiliki nilai sejarah yang tinggi. Keberadaannya menjadi saksi perkembangan transportasi, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi Banyuwangi selama masa kolonial hingga era modern.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Stasiun Banyuwangi Lama