RADARBANYUWANGI.ID - Peringatan agar tidak bermain ponsel terlalu dekat karena bisa menyebabkan mata minus sudah lama menjadi anggapan yang dipercaya masyarakat. Seiring meningkatnya penggunaan smartphone untuk belajar, bekerja, hingga hiburan, kekhawatiran terhadap dampak layar ponsel terhadap kesehatan mata pun semakin besar.
Namun, apakah benar layar HP secara langsung dapat menyebabkan mata menjadi minus?
Mengutip Alodokter, secara medis, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa radiasi atau paparan cahaya dari layar ponsel dapat langsung mengubah mata normal menjadi mengalami miopia atau mata minus.
Mata minus pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor genetik serta bentuk bola mata yang lebih panjang dari kondisi normal. Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata jatuh di depan retina sehingga objek yang berada pada jarak jauh terlihat buram.
Sementara itu, paparan cahaya biru (blue light) dari layar ponsel lebih banyak dikaitkan dengan munculnya keluhan berupa mata lelah, mata kering, hingga gangguan fokus sementara. Cahaya biru tidak memiliki kemampuan mengubah struktur fisik bola mata secara langsung.
Meski demikian, bukan berarti penggunaan ponsel dapat dianggap sepenuhnya aman tanpa memperhatikan cara penggunaannya.
Kebiasaan menatap layar dalam jarak dekat selama berjam-jam tanpa jeda membuat otot mata terus bekerja untuk mempertahankan fokus. Kondisi tersebut dapat memicu kelelahan mata atau asthenopia, mata menjadi kering karena frekuensi berkedip berkurang, hingga meningkatkan risiko perkembangan miopia, terutama pada anak-anak dan remaja yang masih berada dalam masa pertumbuhan.
Pandangan serupa juga disampaikan Naufal (17), yang menilai penyebab utama gangguan mata bukan semata-mata layar ponsel, melainkan pola penggunaan yang kurang tepat.
"Dari dulu sering banget ditakut-takutin kalau main HP terus bisa bikin mata minus. Setelah cari tahu, ternyata layar HP-nya sendiri tidak langsung bikin minus. Yang lebih berpengaruh justru kebiasaan menatap layar terlalu dekat, sambil tiduran, dan lupa waktu. Karena itu tetap perlu menjaga jarak pandang dan mengistirahatkan mata supaya tidak cepat lelah," ujarnya.
Kekhawatiran terhadap penggunaan gawai juga banyak muncul pada orang tua. Penggunaan HP memang telah menjadi bagian dari aktivitas belajar maupun hiburan anak. Namun, istilah "radiasi HP" yang sering digunakan masyarakat sebenarnya lebih merujuk pada paparan cahaya biru dari layar, bukan radiasi ionisasi seperti sinar-X.
Paparan layar secara berlebihan dapat menyebabkan sejumlah keluhan, antara lain mata kering, mata cepat lelah, penglihatan buram sementara, sakit kepala, hingga meningkatnya risiko perkembangan mata minus apabila penggunaan dilakukan terus-menerus dalam jarak dekat dan pencahayaan yang kurang memadai.
Pada anak yang memiliki kondisi tertentu, seperti ambliopia atau mata malas, kebiasaan menggunakan ponsel dengan posisi yang tidak tepat juga berpotensi memperburuk gangguan penglihatan yang sudah ada.
Selain berdampak pada mata, penggunaan gawai secara berlebihan juga dapat memicu gangguan tidur, nyeri leher, punggung, serta menurunkan aktivitas fisik anak.
Karena penggunaan smartphone sulit dihindari di era digital, langkah terbaik adalah menerapkan kebiasaan yang lebih sehat saat menggunakan perangkat elektronik.
Beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan antara lain menerapkan aturan 20-20-20, yakni setiap 20 menit menatap layar diselingi dengan melihat objek sejauh sekitar 6 meter selama 20 detik. Pengguna juga dianjurkan menjaga jarak pandang sekitar 30–40 sentimeter, menghindari penggunaan ponsel sambil berbaring, menggunakan perangkat di ruangan dengan pencahayaan yang cukup, serta mengingatkan diri untuk lebih sering berkedip agar mata tetap lembap.
Bagi anak-anak, orang tua juga disarankan membatasi durasi penggunaan gawai dan melakukan pemeriksaan mata secara berkala, terutama apabila mulai muncul keluhan seperti pandangan kabur, mata cepat lelah, atau sering mengucek mata.
Editor : Lugas Rumpakaadi