Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Hari Pertama Sekolah, Pelajar Banyuwangi Diajak Terapkan 7 Kebiasaan Hidup Sehat

Sigit Hariyadi • Selasa, 14 Juli 2026 | 02:33 WIB
Siswa baru SMPN 1 Banyuwangi cium tangan orang tuanya sebelum memasuki halaman sekolah pada hari pertama MPLS, Senin (13/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Siswa baru SMPN 1 Banyuwangi cium tangan orang tuanya sebelum memasuki halaman sekolah pada hari pertama MPLS, Senin (13/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Hari pertama sekolah tidak hanya menjadi momen beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi juga saat yang tepat untuk membentuk kebiasaan hidup sehat. Memanfaatkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengajak seluruh siswa baru menerapkan pola hidup sehat sejak dini sebagai langkah mencegah meningkatnya kasus obesitas dan penyakit tidak menular pada usia remaja.

Ajakan tersebut disampaikan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di tengah kekhawatiran terhadap tren meningkatnya gangguan kesehatan pada kelompok usia muda. Menurutnya, sekolah memiliki peran strategis dalam membangun karakter sekaligus menanamkan kebiasaan yang akan menentukan kualitas hidup generasi mendatang.

"Hari pertama masuk sekolah adalah awal perjalanan baru bagi anak-anak kita. Saya berharap mereka tidak hanya mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga mulai membangun kebiasaan hidup sehat. Pilihan sederhana seperti mengurangi minuman manis, memperbanyak makan buah dan sayur, rajin bergerak, dan tidur cukup akan memberikan manfaat yang luar biasa di masa depan. Jangan menunggu sakit baru mulai hidup sehat," ujar Ipuk.

Ia menegaskan, generasi yang sehat akan memiliki kemampuan belajar lebih baik, lebih produktif, kreatif, serta mampu bersaing di masa depan. Karena itu, budaya hidup sehat harus menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang didukung sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Obesitas Remaja Jadi Alarm Baru

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menjelaskan, perubahan pola hidup remaja dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular yang sebelumnya lebih banyak dialami orang dewasa.

Mengacu pada data World Health Organization (WHO), jumlah anak dan remaja usia 5–19 tahun yang mengalami obesitas meningkat lebih dari 10 kali lipat dibandingkan tahun 1975.

Sementara itu, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 29,2 persen, sedangkan diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah mencapai 11,7 persen. Data tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat mengalami gangguan metabolik tanpa menyadarinya.

"Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan. Obesitas merupakan pintu masuk berbagai penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, stroke, perlemakan hati, hingga gagal ginjal. Yang menjadi perhatian kita, penyakit-penyakit tersebut kini semakin banyak dijumpai pada usia produktif, bahkan sudah mulai muncul pada remaja," jelas Amir.

Skrining Pelajar Banyuwangi Tunjukkan Tren Mengkhawatirkan

Hasil skrining kesehatan pelajar di Banyuwangi juga menunjukkan kecenderungan yang perlu mendapat perhatian.

Pada jenjang SD, angka obesitas mencapai 5,4 persen, sedangkan hipertensi atau prahipertensi sebesar 5,1 persen.

Di tingkat SMP, prevalensi obesitas meningkat menjadi 6,7 persen dengan hipertensi atau prahipertensi mencapai 8,7 persen.

Sementara pada siswa SMA, angka obesitas tercatat 4,2 persen, namun prevalensi hipertensi atau prahipertensi justru meningkat menjadi 12,2 persen.

"Data ini menunjukkan bahwa semakin bertambah usia remaja, semakin besar pula risiko gangguan tekanan darah. Ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa upaya pencegahan harus dimulai sejak usia sekolah," katanya.

Kampanye Gerakan Remaja Sehat

Memanfaatkan momentum MPLS, Dinas Kesehatan Banyuwangi menggencarkan edukasi melalui Gerakan Remaja Sehat. Dalam program ini, para pelajar diajak membiasakan tujuh perilaku sehat sebagai bekal menjalani kehidupan sekolah.

Ketujuh kebiasaan tersebut meliputi memperbanyak minum air putih, mengonsumsi buah setiap hari, makan sayur di setiap waktu makan, beraktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari, tidur selama 8–10 jam, mengurangi konsumsi minuman berpemanis, serta membatasi makanan cepat saji dan makanan ultra-proses.

Selain itu, pelajar juga didorong lebih mencintai pangan lokal bergizi, seperti ikan, tempe, tahu, sayuran, buah-buahan, jagung, dan umbi-umbian. Selain lebih sehat, konsumsi pangan lokal juga dinilai mampu mendukung ketahanan pangan daerah sekaligus membentuk pola makan yang lebih berkelanjutan.

Melalui kampanye tersebut, Pemkab Banyuwangi berharap sekolah menjadi titik awal lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat secara fisik sehingga mampu menghadapi tantangan masa depan dengan kualitas hidup yang lebih baik.

Editor : Ali Sodiqin
#MPLS Banyuwangi #obesitas remaja #Gerakan Remaja #bupati ipuk #hidup sehat