Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jejak Kolonial di Balik De Djawatan, Kisah Hutan Trembesi Banyuwangi yang Kini Jadi Magnet Wisata

Daafi Adilla Achmad • Senin, 13 Juli 2026 | 18:22 WIB
De Djawatan Banyuwangi semakin dikenal sebagai lokasi syuting film horor nasional. (Banyuwangi Tourism)
De Djawatan Banyuwangi menyimpan sejarah panjang sebagai bekas Tempat Penimbunan Kayu pada masa kolonial Belanda. (Banyuwangi Tourism)

RADARBANYUWANGI.ID - De Djawatan di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam paling ikonik di ujung timur Pulau Jawa. Deretan pohon trembesi berusia ratusan tahun dengan tajuk yang saling bertaut membentuk lorong hijau yang menghadirkan suasana menyerupai hutan fantasi. Namun, di balik pesonanya, kawasan ini menyimpan sejarah panjang yang berawal dari aktivitas pengelolaan hasil hutan.

Nama Djawatan berasal dari istilah Djawatan Kehutanan, lembaga pemerintah yang dahulu bertugas mengelola kawasan hutan di Pulau Jawa. Istilah tersebut merupakan warisan administrasi kehutanan pada masa kolonial Belanda yang masih digunakan setelah Indonesia merdeka sebelum kemudian berganti menjadi Perhutani pada dekade 1960-an.

Sementara itu, penyematan kata "De" pada nama De Djawatan merupakan penyesuaian gaya penamaan yang bernuansa kolonial sehingga memberikan identitas historis sekaligus menjadi ciri khas kawasan wisata tersebut.

Sebelum berkembang menjadi destinasi wisata, kawasan De Djawatan berfungsi sebagai Tempat Penimbunan Kayu (TPK). Pada masa kolonial Belanda, lokasi ini menjadi pusat penyimpanan kayu jati yang dihasilkan dari kawasan hutan di Banyuwangi sebelum didistribusikan ke berbagai daerah.

Aktivitas logistik tersebut didukung keberadaan jalur rel kereta api yang melintasi kawasan Djawatan. Rel tersebut dimanfaatkan sebagai sarana mengangkut kayu dari kawasan hutan menuju pusat pengolahan maupun pelabuhan sehingga distribusi hasil hutan dapat dilakukan lebih efisien.

Keberadaan pohon trembesi yang kini menjadi daya tarik utama ternyata juga berkaitan erat dengan fungsi kawasan sebagai TPK. Pohon-pohon itu sengaja ditanam untuk memberikan keteduhan bagi tumpukan kayu agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung.

Selain menjaga suhu penyimpanan tetap stabil, kanopi trembesi juga membantu mengurangi paparan air hujan sehingga kualitas kayu tetap terjaga sebelum dipasarkan. Perawatan yang dilakukan selama puluhan hingga ratusan tahun membuat pohon-pohon tersebut tumbuh sangat besar dengan diameter batang mencapai beberapa meter.

Seiring bertambahnya usia, batang-batang trembesi ditumbuhi lumut, paku epifit, serta berbagai tanaman lain yang memperkuat kesan alami dan menghadirkan panorama yang berbeda dibandingkan kawasan hutan pada umumnya.

Memasuki akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21, aktivitas penimbunan kayu di kawasan Djawatan mulai berkurang. Tempat Penimbunan Kayu kemudian dipindahkan ke lokasi lain sehingga kawasan tersebut tidak lagi difungsikan sebagai pusat logistik hasil hutan.

Perubahan fungsi kawasan membuka peluang baru bagi pemanfaatan De Djawatan sebagai destinasi wisata. Sekitar 2017, foto-foto hutan trembesi yang beredar luas di media sosial menarik perhatian masyarakat karena dinilai memiliki suasana menyerupai Fangorn Forest dalam film The Lord of the Rings.

Meningkatnya popularitas tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Perhutani melakukan penataan kawasan, mulai dari penyediaan fasilitas pendukung hingga pengembangan kawasan wisata berbasis alam.

Upaya tersebut membuahkan hasil ketika De Djawatan resmi dibuka sebagai destinasi wisata pada Juni 2018. Sejak saat itu, kawasan ini menjadi salah satu ikon pariwisata Banyuwangi yang rutin dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Editor : Lugas Rumpakaadi
De Djawatan Banyuwangi