Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sama-sama Bermesin Diesel, Ini Perbedaan Lokomotif Diesel-Elektrik dan Diesel-Hidrolik yang Jarang Diketahui

Daafi Adilla Achmad • Senin, 13 Juli 2026 | 18:18 WIB
Lokomotif diesel-elektrik dan diesel-hidrolik memiliki sistem penggerak, bobot, perawatan, konstruksi bogie, hingga ketahanan terhadap banjir yang berbeda. (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)
Lokomotif diesel-elektrik dan diesel-hidrolik memiliki sistem penggerak, bobot, perawatan, konstruksi bogie, hingga ketahanan terhadap banjir yang berbeda. (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Lokomotif diesel menjadi tulang punggung operasional perkeretaapian di berbagai negara. Namun, tidak semua lokomotif diesel menggunakan sistem penggerak yang sama. Secara umum, terdapat dua teknologi utama yang digunakan, yakni lokomotif diesel-elektrik dan diesel-hidrolik.

Sekilas keduanya tampak serupa karena sama-sama menggunakan mesin diesel sebagai sumber tenaga utama. Namun, cara menyalurkan tenaga hingga karakteristik operasionalnya memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Pada lokomotif diesel-elektrik, mesin diesel tidak menggerakkan roda secara langsung. Mesin hanya berfungsi sebagai prime mover atau pembangkit tenaga untuk memutar generator maupun alternator. Energi listrik yang dihasilkan kemudian dialirkan menuju motor traksi yang terpasang pada setiap poros roda sehingga lokomotif dapat bergerak.

Sebaliknya, lokomotif diesel-hidrolik memanfaatkan sistem hidrolik melalui komponen torque converter. Putaran mesin digunakan untuk memompa oli hidrolik bertekanan tinggi yang memutar turbin. Selanjutnya tenaga mekanis diteruskan ke roda melalui poros transmisi atau cardan shaft dan sistem roda gigi.

Perbedaan sistem penggerak tersebut turut memengaruhi bobot lokomotif. Diesel-elektrik umumnya memiliki berat lebih besar karena harus membawa generator berukuran besar serta motor traksi pada setiap bogie. Meski demikian, tipe ini mampu menghasilkan gaya tarik atau tractive effort yang stabil sejak awal bergerak sehingga sangat cocok untuk menarik rangkaian kereta barang dengan muatan berat.

Sementara itu, diesel-hidrolik memiliki konstruksi yang lebih ringan karena tidak memerlukan generator maupun motor listrik berukuran besar. Penyaluran tenaga dilakukan secara mekanis ke seluruh roda melalui poros cardan. Dengan rasio tenaga terhadap bobot yang baik, lokomotif ini dinilai lebih lincah saat beroperasi di jalur pegunungan maupun lintasan dengan batas beban gandar yang rendah.

Perbedaan juga terlihat dari aspek perawatan. Pada diesel-elektrik, sistem transmisi mekanis yang lebih sederhana membuat perawatan relatif lebih mudah dipahami oleh banyak operator kereta modern. Selain itu, efisiensi energinya cukup baik ketika beroperasi pada kecepatan konstan dalam perjalanan jarak jauh.

Di sisi lain, diesel-hidrolik memiliki sistem mekanis yang lebih kompleks karena melibatkan torque converter, roda gigi, serta oli hidrolik. Jika terjadi kebocoran, cairan hidrolik harus dikuras dan diganti. Selain itu, sistem ini juga berpotensi mengalami kehilangan tenaga akibat panas yang timbul dari gesekan fluida di dalam torque converter, terutama ketika menarik beban berat.

Perbedaan paling mudah dikenali juga dapat dilihat pada bagian bogie. Lokomotif diesel-elektrik memiliki motor traksi besar yang menempel di setiap poros roda. Di area bogie biasanya tampak kabel listrik berukuran besar yang menghubungkan bodi lokomotif dengan motor traksi. Karena setiap poros memiliki motor sendiri, tidak terdapat batang penghubung mekanis di antara roda dalam satu bogie.

Sementara pada diesel-hidrolik, tenaga disalurkan dari bagian tengah lokomotif menuju roda menggunakan poros baja yang dikenal sebagai cardan shaft. Selain itu, di setiap poros roda terdapat rumah roda gigi atau axle gearbox yang menjadi bagian penting dalam sistem penyaluran tenaga mekanis.

Ketahanan terhadap genangan air juga menjadi salah satu pembeda penting. Lokomotif diesel-elektrik tergolong lebih sensitif terhadap banjir karena motor traksi berada di dekat roda. Apabila air masuk ke dalam motor traksi, risiko korsleting maupun kerusakan komponen listrik menjadi sangat besar.

Sebaliknya, diesel-hidrolik dinilai lebih tangguh ketika melintasi rel yang tergenang air dalam batas aman. Hal tersebut karena sistem penggeraknya menggunakan mekanisme mekanis dan hidrolik yang tertutup rapat tanpa adanya motor listrik pada roda sehingga risiko korsleting jauh lebih kecil.

Setiap teknologi memiliki keunggulan sesuai kebutuhan operasional. Diesel-elektrik lebih unggul untuk pekerjaan berat dengan kebutuhan gaya tarik besar, sedangkan diesel-hidrolik menawarkan bobot lebih ringan, kelincahan yang baik, serta kemampuan lebih baik saat menghadapi lintasan yang rawan genangan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
hidrolik Elektrik diesel lokomotif