Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengapa Bangunan Brutalis Terlihat Kaku? Ini Sejarah, Karakteristik, dan Alasan Gaya Ini Kembali Populer

Daafi Adilla Achmad • Kamis, 9 Juli 2026 | 20:13 WIB
Mengenal arsitektur Brutalisme. (Paulrudolph Institute)
Mengenal arsitektur Brutalisme. (Paulrudolph Institute)

RADARBANYUWANGI.ID - Brutalisme merupakan salah satu aliran arsitektur modern yang berkembang pesat pada rentang 1950-an hingga 1970-an.

Gaya ini lahir setelah Perang Dunia II ketika banyak negara membutuhkan pembangunan kembali kota-kota yang mengalami kerusakan dalam waktu relatif singkat.

Pada masa itu, kebutuhan akan bangunan yang kuat, fungsional, efisien, dan ekonomis menjadi prioritas.

Dari kondisi tersebut, lahirlah pendekatan desain yang tidak hanya mengutamakan fungsi, tetapi juga menampilkan struktur bangunan secara jujur tanpa banyak ornamen.

Istilah Brutalisme berasal dari bahasa Prancis béton brut yang berarti beton mentah atau beton ekspos.

Istilah tersebut dipopulerkan melalui karya arsitek Le Corbusier yang banyak memanfaatkan beton tanpa pelapis sebagai elemen utama bangunan.

Karena itu, nama Brutalisme tidak berkaitan dengan makna "brutal" dalam arti keras atau kasar.

Sebaliknya, istilah tersebut merujuk pada cara material bangunan ditampilkan apa adanya tanpa ditutupi lapisan dekoratif.

Secara visual, bangunan bergaya Brutalisme mudah dikenali melalui penggunaan beton ekspos, bentuk geometris yang tegas, massa bangunan yang besar, serta minim hiasan.

Struktur konstruksi sengaja diperlihatkan sehingga menjadi bagian dari identitas arsitektur itu sendiri.

Berbeda dengan gaya bangunan yang mengandalkan ornamen sebagai unsur estetika, Brutalisme justru menempatkan kekuatan struktur dan karakter material sebagai daya tarik utama.

Tekstur alami beton hasil cetakan bekisting dibiarkan terlihat sehingga menghadirkan kesan kokoh, sederhana, sekaligus jujur terhadap proses pembangunannya.

Filosofi tersebut membuat beton tidak hanya berfungsi sebagai material konstruksi, tetapi juga menjadi elemen estetika.

Keindahan bangunan dinilai muncul dari kesederhanaan bentuk, kekuatan struktur, serta ekspresi material yang digunakan.

Pada masa kejayaannya sekitar dekade 1960-an hingga 1970-an, Brutalisme banyak diterapkan pada berbagai bangunan publik.

Gedung pemerintahan, universitas, perpustakaan, museum, hingga kompleks perumahan mengadopsi gaya ini karena dinilai mampu menghasilkan bangunan yang tahan lama sekaligus lebih ekonomis untuk pembangunan berskala besar.

Namun, popularitas Brutalisme mulai menurun sejak dekade 1980-an.

Banyak kalangan menilai tampilannya terlalu kaku, dingin, dan kurang menyatu dengan lingkungan perkotaan.

Permukaan beton ekspos yang tidak terawat juga sering memberikan kesan kusam sehingga memperkuat citra negatif terhadap gaya arsitektur tersebut.

Selain itu, bentuk bangunan yang masif dan minim dekorasi kerap diasosiasikan dengan pemerintahan yang bersifat otoriter di sejumlah negara, meskipun anggapan tersebut tidak selalu berkaitan langsung dengan konsep arsitekturnya.

Dalam beberapa dekade terakhir, pandangan terhadap Brutalisme mulai berubah.

Banyak arsitek, akademisi, dan pemerhati warisan budaya menilai bangunan bergaya Brutalis memiliki nilai sejarah dan arsitektural yang penting sebagai bagian dari perkembangan arsitektur modern abad ke-20.

Sejumlah bangunan bahkan telah dipertahankan dan direstorasi agar tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang dapat dinikmati generasi berikutnya.

Di Indonesia, salah satu contoh bangunan yang mengusung pendekatan Brutalisme adalah Intiland Tower atau Wisma Dharmala Surabaya.

Bangunan ini memadukan karakter Brutalisme dengan pendekatan arsitektur tropis tradisional.

Ciri yang paling menonjol terlihat pada penggunaan kanopi dan overhang beton bertingkat dengan kemiringan tertentu yang dirancang secara matematis.

Elemen tersebut tidak hanya membentuk identitas visual bangunan, tetapi juga berfungsi mengurangi paparan sinar matahari sehingga lebih sesuai dengan iklim tropis Indonesia.

Perpaduan tersebut menjadikan Wisma Dharmala Surabaya sebagai salah satu contoh bagaimana prinsip Brutalisme dapat diadaptasi tanpa mengabaikan kondisi lingkungan setempat.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#arsitektur Brutalisme #beton ekspos #sejarah arsitektur modern #Wisma Dharmala Surabaya