Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Rasa Bosan Ternyata Bisa Meningkatkan Kemampuan Otak, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Daafi Adilla Achmad • Kamis, 9 Juli 2026 | 06:47 WIB
Rasa bosan ternyata tidak selalu berdampak buruk. (Harvard.edu)
Rasa bosan ternyata tidak selalu berdampak buruk. (Harvard.edu)

RADARBANYUWANGI.ID - Banyak orang memilih membuka media sosial begitu mulai merasa bosan. Padahal, sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa rasa bosan yang dibiarkan sejenak dapat memberikan manfaat bagi otak. Dalam kondisi tersebut, otak memiliki kesempatan untuk mengolah informasi, menyusun kembali pengalaman, hingga memunculkan ide-ide baru yang mendukung kreativitas.

Selama ini rasa bosan identik dengan kondisi yang harus segera dihindari. Namun, para peneliti menilai waktu tanpa distraksi justru menjadi bagian penting dari cara kerja otak untuk beristirahat sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir.

Penelitian yang dilakukan psikolog Matthew Killingsworth dan Daniel Gilbert menemukan bahwa pikiran manusia memang sering mengembara (mind wandering). Kondisi tersebut memang kerap berkaitan dengan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah ketika seseorang tidak menikmati apa yang sedang dipikirkannya. Namun, dalam konteks kreativitas, pikiran yang mengembara juga menjadi mekanisme alami otak untuk menghubungkan berbagai informasi dan pengalaman.

Kajian yang dipublikasikan ScienceDaily menjelaskan bahwa ketika seseorang sedang beristirahat atau tidak fokus pada tugas tertentu, jaringan otak yang dikenal sebagai Default Mode Network (DMN) menjadi lebih aktif. Pada fase inilah otak menghubungkan berbagai memori, mengevaluasi pengalaman, serta membangun hubungan baru antarinformasi yang sebelumnya tersimpan.

Proses tersebut membantu seseorang menemukan ide, memunculkan solusi terhadap suatu masalah, hingga meningkatkan kreativitas.

Hal serupa juga dijelaskan Mayo Clinic Health System. Menurut lembaga tersebut, rasa bosan dalam kadar yang wajar memberikan kesempatan bagi otak untuk melakukan recharge setelah bekerja secara intensif.

Saat memasuki fase Default Mode Network, otak tidak benar-benar berhenti bekerja. Sebaliknya, otak justru mengonsolidasikan memori, merefleksikan pengalaman, memikirkan rencana masa depan, sekaligus menyusun berbagai informasi yang telah diterima sebelumnya.

Inilah alasan mengapa banyak orang tiba-tiba menemukan ide atau solusi ketika sedang mandi, berjalan santai, berkebun, atau menikmati suasana alam. Aktivitas fisik yang bersifat otomatis membuat pikiran lebih bebas mengembara sehingga proses kreatif berlangsung secara alami.

Media sosial kerap disebut sebagai penyebab menurunnya konsentrasi dan daya ingat. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Dampak media sosial terhadap otak sangat bergantung pada durasi penggunaan, jenis konten yang dikonsumsi, serta tujuan penggunaannya.

Jika seseorang terus-menerus melakukan scrolling untuk menikmati hiburan singkat tanpa memberikan rangsangan intelektual, perhatian otak akan mudah terpecah. Kondisi tersebut membuat otak terus berpindah fokus sehingga kemampuan berpikir mendalam dapat berkurang.

Sebaliknya, apabila media sosial dimanfaatkan untuk menonton video edukasi, membaca informasi ilmiah, mempelajari keterampilan baru, atau mengikuti diskusi yang berkualitas, otak tetap memperoleh stimulasi positif sesuai informasi yang diterima.

Dengan kata lain, bukan media sosial yang sepenuhnya menjadi masalah, melainkan pola penggunaannya.

Para ahli juga mengingatkan bahwa penggunaan perangkat elektronik secara berlebihan membuat otak semakin jarang mengalami bored time, yaitu waktu ketika seseorang tidak menerima rangsangan digital secara terus-menerus.

Akibatnya, otak kehilangan kesempatan untuk memasuki kondisi istirahat alami melalui Default Mode Network. Dalam jangka panjang, banyak orang justru merasa lebih lelah setelah berjam-jam menggunakan perangkat digital dibandingkan setelah melakukan aktivitas tanpa gawai.

Karena itu, memberi jeda dari layar ponsel sesekali dapat membantu otak memulihkan energi sekaligus mempertahankan kemampuan berpikir kreatif.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#rasa bosan #manfaat bagi otak #kesehatan #media sosial #kreativitas