RADARBANYUWANGI.ID - Anak terlihat ceria, sopan, dan mudah bergaul ketika berada di sekolah atau bersama teman-temannya. Namun, setibanya di rumah, ia justru menjadi lebih mudah marah, sensitif, bahkan memilih mengurung diri di kamar. Kondisi ini kerap membuat orang tua bertanya-tanya apakah anak memiliki kepribadian yang berbeda.
Menurut psikolog Diah, perubahan perilaku tersebut bukan berarti anak bersikap berbeda kepada orang lain dan keluarganya. Sebaliknya, kondisi itu dapat menjadi sinyal bahwa anak belum sepenuhnya merasa aman dan nyaman secara emosional di lingkungan rumah.
Rasa aman dalam keluarga, kata Diah, menjadi fondasi utama bagi tumbuh kembang anak. Ketika rumah mampu memberikan kenyamanan, anak akan lebih mudah mengekspresikan perasaan, menyampaikan pendapat, hingga membangun kedekatan dengan orang tua.
"Hal yang paling penting harus dipahami oleh orang tua yaitu memberikan rasa nyaman, rasa nyaman, rasa nyaman," ujar Diah.
Diah menjelaskan, ketidaknyamanan anak di rumah biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. Ada proses yang berlangsung dalam pola pengasuhan sehingga hubungan antara orang tua dan anak menjadi kurang hangat.
Ketika anak merasa tidak didengarkan, terlalu sering dikritik, atau kesulitan mengungkapkan perasaannya, ia cenderung mencari lingkungan lain yang membuatnya merasa diterima. Tidak heran jika sebagian anak justru lebih senang menghabiskan waktu bersama teman, mengikuti organisasi, atau aktif dalam berbagai kegiatan di luar rumah.
"Itu mungkin anak-anak ini menjadi lebih betah di luar daripada di rumahnya," katanya.
Meski demikian, Diah menegaskan kondisi tersebut bukan berarti orang tua gagal mendidik anak. Situasi ini justru dapat menjadi bahan refleksi bahwa hubungan emosional dalam keluarga perlu diperkuat melalui komunikasi yang lebih hangat dan terbuka.
Selain membangun komunikasi, Diah menilai penerimaan orang tua terhadap anak merupakan bagian penting dalam pengasuhan. Setiap anak lahir dengan karakter, minat, dan potensi yang berbeda sehingga tidak seharusnya dipaksa memenuhi harapan tertentu.
Menurutnya, orang tua perlu menerima anak sebagai amanah yang harus dibimbing sesuai fitrahnya, bukan berdasarkan gambaran ideal yang telah dibentuk sebelumnya.
"Setiap anak yang dititipkan kepada kita sebagai orang tua itu adalah amanah yang harus dikembangkan sesuai dengan fitrahnya," jelasnya.
Ketika anak merasa diterima apa adanya, rasa percaya kepada orang tua akan tumbuh. Dari situlah komunikasi yang sehat lebih mudah terbangun dan konflik dalam keluarga dapat diminimalkan.
Diah juga memberikan pesan kepada anak yang merasa hubungannya dengan orang tua belum harmonis. Menurutnya, perubahan tidak harus selalu dimulai oleh orang tua.
Anak dapat mengambil langkah sederhana, seperti memulai percakapan dengan nada yang lebih lembut, menunjukkan perhatian, atau mencoba memahami sudut pandang orang tua.
"Kalau memang kita sadar sebagai anak, enggak apa-apa kita yang mulai," tuturnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa memperbaiki hubungan keluarga membutuhkan proses. Pengalaman hidup dan luka emosional yang pernah dialami seseorang sering kali tersimpan di alam bawah sadar sehingga memengaruhi cara mereka memperlakukan orang lain, termasuk anak.
"Sadar itu cuma 20 persen, prasadar 10 persen, bawah sadar 70 persen," ungkap Diah.
Karena itu, perubahan tidak bisa diharapkan terjadi dalam waktu singkat. Dibutuhkan kesabaran, komunikasi yang konsisten, dan kemauan untuk saling memahami.
Editor : Lugas Rumpakaadi